Saham Netflix Runtuh Usai Cetak Kinerja Keuangan Solid di 2025, Ada Apa?

Netflix
Netflix

Saham Netflix menjadi sorotan pelaku pasar global setelah merilis laporan keuangan untuk kuartal IV-2025. Usut punya usut, ternyata saham platform streaming film ini mengalami koreksi tajam karena investor mengabaikan kinerja keuangan tersebut.

Emiten yang terdaftar di indeks Nasdaq Composite dengan kode NFLX ini anjlok sekitar 5 persen pada perdagangan Selasa malam waktu setempat. Alih-alih mencermati laporan kinerja jangka pendek, investor justru lebih tertarik meninjau arah strategi dan tantangan yang mungkin akan dihadapi Netflix.

Ilustrasi Investasi

Netflix membukukan pendapatan sebesar US$12,05 miliar atau sekitar Rp 204,4 triliun (estimasi kurs Rp 16.970 per dolar AS) pada kuartal IV-2026. Nominal tersebut melampaui estimasi Wall Street sebesar US$11,96 miliar sekaligus melebihi capaian pada periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$10,25 miliar. 

Laba per saham (EPS) tercatat US$0,56 atau sekitara Rp 9.500 per saham dan sedikit di atas konsensus pasar di level  US$0,55. Sementara itu,  jumlah pelanggan berbayar global menembus 325 juta akun. 

Dari total pelanggan global, perusahaan berhasil membukukan pendapatan tahunan  mencapai US$45,2 miliar sepanjang tahun 2025. Pencapaian itu menunjukkan pertumbuhan sebesar 16 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Manajemen Netflix memperkirakan pendapatan kuartal I-2026 akan meningkat 15,3 persen secara tahunan menjadi  US$12,16 miliar. Sedangkan laba disesuaikan diproyeksikan mencapai US$0,76 per saham. 

Selama tahun 2026, Netflix melihat pertumbuhan dua digit masih realistis.

Perusahaan menartgetkan pendapatan di kisaran US$50,7 miliar hingga US$51,7 miliar. 

Di tengah optimisme Manajemen Netflix untuk melanjutkan tren pertumbuhan, pasar justru bereaksi berbeda terutama pasca perusahaan menegaskan rencana untuk meningkatkan belanja konten orisinal secara agresif. Di satu sisi dinilai strategis untuk menjaga daya tarik platform, sedangkan pelaku pasar melihat potensi menekan margin dalam jangka pendek.

Engagement di paruh kedua tahun ini didukung kenaikan 9 persen penayangan konten orisinal Netflix,” tulis Manajemen Netflix dalam keterangan resmi kepada pemegang saham dikutip dari TipRanks pada Rabu, 21 Januari 2026.

Iklan juga menjadi fokus utama strategi pertumbuhan. Netflix mengungkapkan pendapatan iklan pada 2025 telah melampaui US$1,5 miliar, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. 

Angka ini diproyeksikan kembali berlipat ganda pada 2026. Meski memberi fleksibilitas harga dan monetisasi, ekspansi iklan dinilai membawa biaya awal dan ketidakpastian margin.

Tekanan sentimen turut datang dari rencana akuisisi Warner Bros. Discovery. Netflix mengonfirmasi penghentian sementara program pembelian kembali saham untuk menjaga fleksibilitas neraca keuangan menjelang transaksi tunai tersebut. 

Manajemen menegaskan kekuatan arus kas dengan free cash flow US$9,5 miliar pada 2025 dan proyeksi sekitar US$11 miliar pada 2026. Namun, risiko integrasi, potensi hambatan regulasi, serta lonjakan biaya awal tetap membayangi kinerja.

Meski saham terkoreksi, konsensus analis masih relatif positif. Dari 37 analis, sebanyak 26 merekomendasikan beli, sembilan menahan, dan dua menjual saham Netflix. 

Saham NFLX masih diproyeksikan memiliki potensi kenaikan sekitar 45 persen dalam 12 bulan ke depan. Target harga rata-rata yang dipatok analis di level US$126,33.