Keluarga Capt Andy Masih Berharap Ada Mukjizat, Ingin Sang Pilot Bisa Ditemukan Selamat
Keluarga pilot senior Capt Andy Dahananto masih berharap mukjizat di tengah usaha pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan.
Pesawat tersebut mengalami kecelakaan udara saat hendak mendarat di Bandara Hasanuddin, Sabtu (17/1/2026).
Hingga hari ketiga operasi SAR, tim gabungan menemukan serpihan pesawat serta dua korban jiwa yang belum teridentifikasi.
Di tengah proses pencarian dan evakuasi, keluarga masih menggantungkan harapan agar Capt Andy dapat ditemukan dalam kondisi selamat.
Harapan Keluarga di Tengah Usaha Pencarian Korban
Dilansir dari Antara, Adik ipar Capt Andy, Agus Mahardiyanto, menyampaikan harapan keluarga agar kabar terbaik masih bisa datang dari proses pencarian yang berlangsung.
Meski kondisi pesawat disebut ditemukan dalam kondisi sangat memprihatinkan, keluarga tetap percaya adanya kemungkinan mukjizat.
"Mukjizat yang mungkin luar biasa setelah melihat kondisi pesawat mungkin sudah begitu. Tapi, saya rasa mukjizat Allah bisa melebihkan itu," kata Agus di Tangerang, Senin (19/1/2026).
Ia menegaskan, meskipun informasi awal menyebutkan pesawat telah ditemukan dalam kondisi hancur, keluarga masih menanti hasil evakuasi dan identifikasi resmi dari tim SAR.
"Tidak lain harapan kami adalah adanya mukjizat di kejadian ini," ucapnya.
Informasi Lost Contact Didapat dari Perusahaan
Agus mengungkapkan, sebelum kabar kecelakaan diketahui secara luas, pihak keluarga telah lebih dulu menerima informasi dari Indonesia Air Transport terkait hilangnya kontak pesawat yang ditumpangi Capt Andy.
"Dari pihak perusahaan sudah menghubungi kami menyampaikan bahwa terjadi lost contact. Kami coba pantau terus dan secara feeling, kalau yang dalam dunia penerbangan namanya lost contact pasti ada sesuatu yang tidak biasa," ungkapnya.
Sejak saat itu, keluarga terus memantau perkembangan pencarian sambil berharap korban dapat ditemukan selamat dan kembali berkumpul bersama istri serta anak-anaknya.
Adik Ipar Capt. Andy Dahananto, Agus Mahardiyanto memberikan keterangan atas terjadinya kecelakaan udara yang melibatkan keluarganya.
Kontak Terakhir dengan Capt Andy Sebelum Penerbangan
Menurut Agus, komunikasi terakhir Capt Andy dengan keluarga terjadi pada Jumat (16/1/2026).
Saat itu, korban menyampaikan akan menjalankan penerbangan dengan rute Yogyakarta–Makassar.
"Kita tunggu memang sampai beberapa jam. Biasanya selang jam 12.17 WIB sudah landing, tapi sampai jam 13.17 WIB belum landing dan tidak ada kabar kepada keluarga," ungkapnya.
Sejak saat itu, kekhawatiran keluarga semakin besar hingga akhirnya mendapat kepastian bahwa pesawat mengalami kecelakaan di kawasan pegunungan.
Sosok Capt Andy di Mata Keluarga
Di mata keluarga, Capt Andy dikenal sebagai pribadi yang bertanggung jawab, baik dalam profesi maupun kehidupan rumah tangga.
Meski bekerja sebagai pilot, ia selalu meluangkan waktu untuk berkumpul bersama keluarga.
"Kami sekali lagi, terutama putra-putra beliau sangat bangga dengan semua yang dilakukan, baik sebagai profesi dan sosok pemimpin keluarga," ujarnya.
Agus juga mengenang Capt Andy sebagai sosok yang loyal dan konsisten menjalani karier di dunia penerbangan selama belasan tahun.
"Saya sebagai adik dari beliau melihat bahwa Capt Andy adalah sosok yang sangat-sangat kami banggakan. Beliau konsisten dengan karir beliau di satu perusahaan, bahkan dengan tawaran kanan-kiri dari maskapai lain, beliau masih tetap berpegang bahwa di perusahaan ini beliau percaya," kata dia.
Suasana Haru di Kediaman Keluarga
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Capt Andy di Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Sejumlah kerabat, sahabat, hingga pejabat daerah datang memberikan dukungan moral kepada keluarga.
Wakil Bupati Tangerang Intan Nurul Hikmah turut menyampaikan belasungkawa atas peristiwa tersebut.
"Kami turut berduka atas berpulangnya Kapten Andy Dahananto, putra daerah Kabupaten Tangerang yang mengabdikan hidupnya pada profesi yang penuh tanggung jawab," kata Intan.
Ia berharap proses pencarian, evakuasi, dan identifikasi korban dapat berjalan cepat dan optimal.
"Pemkab Tangerang mengajak seluruh masyarakat untuk turut mendoakan para korban serta memberikan dukungan kepada keluarga yang terdampak atas musibah tersebut," ujarnya.
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi terhadap puing-puing pesawat ATR 42-500 dari kawasan lereng pegunungan Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel). Minggu (18/1/2026).
Perkembangan Operasi SAR Hari Ketiga
Sebelumnya, pesawat milik Indonesia Air Transport dinyatakan hilang kontak di kawasan pegunungan Bulusaraung, wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
500 itu berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta pada pukul 08.08 WIB dengan tujuan Makassar membawa 10 orang, yang terdiri dari tujuh kru dan tiga penumpang.
Tiga penumpang diketahui merupakan pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan, yakni Ferry Irawan, Deden Mulyana, dan Yoga Naufal.
Sementara kru pesawat terdiri dari pilot Captain Andi Dahananto, copilot Muhammad Farhan Gunawan, serta kru Hariadi, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, dan Esther Aprilita.
Pada Senin (19/1/2026), tim SAR gabungan kembali menemukan satu korban perempuan sekitar pukul 14.00 WITA. Sementara pada hari sebelumnya, satu korban laki-laki juga ditemukan.
Dengan demikian, hingga hari ketiga operasi SAR, dua korban telah ditemukan.
Identitas korban belum dapat dipastikan karena masih menunggu proses identifikasi oleh tim DVI Polri.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang