"Daripada Berdiri di Depan Rumah Orang, Saya Tidak Mau Jadi Pengemis"

Di sebuah sudut Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, berdiri sebuah bangunan kecil yang nyaris tak menarik perhatian pengguna jalan.
Gubuk berukuran sekitar 4x4 meter itu berdiri terbuka tanpa pagar, tepat di tepi jalan, dan berada di area berbukit.
Dari luar, bangunan sederhana tersebut tampak menyatu dengan alam, dikelilingi beberapa tanaman pertanian yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Di tempat itulah Samin menjalani hari-harinya seorang diri.
Gubuk yang tersusun dari papan bekas
Gubuk tersebut disusun dari papan bekas yang sebagian telah menghitam dimakan usia.
Atap sengnya kusam dan kerap menimbulkan bunyi nyaring saat hujan turun.
Gubuk yang ditinggali Samin itu menyatu tanpa sekat, antara ruang tidur, dapur, sekaligus ruang duduk
Di gubu terebut. tidak ada aliran listrik, hanya cahaya lilin yang menemani malam. Air bersih pun tidak tersedia dari jaringan PDAM.
Samin hanya mengandalkan satu drum untuk menampung air hujan, sekadar untuk membasuh diri dan memasak.
Merantau dari Madura ke Samarinda
Samin diketahui lahir pada 17 April 1955. Kini, usianya menginjak 70 tahun.
Pria asal Madura itu telah puluhan tahun merantau ke Samarinda dan menetap di kawasan Podo Rukun RT 28, wilayah yang dulunya masih berupa tanah merah dan belum tersentuh aspal.
“Dulu belum ada kuburan ini,” ujar Samin, dikutip , Minggu (11/1/2025).
Ia mengenang masa awal tinggal di kawasan tersebut, ketika akses jalan masih terbatas dan lingkungan belum seramai sekarang.
Seiring waktu, wilayah itu berkembang.
Jalan mulai dibuka, permukiman tumbuh, dan sebuah pemakaman kini berdiri tepat di depan rumahnya, menjadi saksi bisu perubahan yang terus berjalan.
Asal muasal gubuk Samin
Hunian sederhana yang kini ditempati Samin bukan berasal dari program bantuan pemerintah.
Gubuk itu dibangun atas kepedulian seorang tokoh masyarakat bergelar haji di lingkungan setempat.
Melihat kondisi Samin, tokoh tersebut tergerak membantu, membiayai pembangunan, memanggil tukang, dan memastikan Samin memiliki tempat tinggal, meski sangat sederhana.
Sebagian kayu yang digunakan berasal dari bongkaran rumah lama.
“Kalau dihitung-hitung, mungkin habis lima sampai enam juta. Saya bilang dari awal, saya tidak punya uang. Tidak usah dibayar," kata dia.
Tidak ada perjanjian, tidak pula cicilan. Bantuan itu datang tanpa syarat.
“Tidak rugi,” ujar Samin menirukan ucapan sang tokoh. “Allah yang lebih tahu.”
Bagi Samin, gubuk tersebut bukan sekadar tempat berlindung dari panas dan hujan, melainkan simbol bahwa di tengah kerasnya hidup, masih ada kepedulian yang hadir tanpa pamrih.
Hidup seorang diri
Samin menjalani hidup seorang diri. Ia tidak memiliki istri.
Anak yang pernah ia anggap sebagai anak kandung kini sedang menjalani hukuman penjara. Saudara-saudaranya tinggal terpencar, sebagian di Madura dan sebagian di luar daerah.
“Tidak ada siapa-siapa,” ucapnya singkat.
Untuk beraktivitas, Samin tidak lagi memiliki kendaraan. Sepeda motor yang dulu pernah ia miliki terpaksa dijual seharga Rp 1,4 juta. Uang tersebut digunakan untuk melunasi utang akibat biaya pengobatan.
“Daripada saya mati masih punya utang, lebih baik saya tidak punya motor," ungkapnya.
Kini, jika harus bepergian ke luar kampung atau berobat, Samin bergantung pada bantuan tetangga yang bersedia mengantar.
Untuk mencukupi kebutuhan hidup, ia mengandalkan bertani kecil-kecilan.
Di lahan terbatas, Samin menanam buncis yang hasilnya dijual kepada pengepul.
Panen tidak bisa dilakukan setiap hari, biasanya menunggu empat hingga lima hari. Dalam kondisi baik, ia bisa memperoleh hingga Rp 75.000 per hari.
Namun, dalam sebulan, penghasilannya rata-rata hanya berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000, yang sebagian besar habis untuk membeli makanan.
Di tengah keterbatasan ekonomi, kondisi kesehatannya pun tidak sepenuhnya prima.
Samin mengidap asam urat, pernah mengalami penyakit kulit cukup parah, dan salah satu kakinya sempat tertabrak mobil, membuatnya kesulitan berjalan jauh.
“Kalau jalan jauh, harus berhenti. Kadang duduk dulu di pinggir jalan," ungkapnya.
Menu makan sehari-hari Samin sangat sederhana, yakni singkong direbus, daunnya dimasak menjadi sayur, kadang dihaluskan agar lebih mengenyangkan.
Lauk seperti ikan, ayam, atau telur bukanlah konsumsi rutin.
“Kalau makan ikan, biasanya kalau ada warga yang pulang kerja,” katanya.
“Itu juga jarang. Paling sebulan sekali," imbuhnya.
Akses layanan kesehatan
Sebagian beras yang dikonsumsinya berasal dari bantuan warga sekitar. Namun, bantuan tersebut tidak selalu ada, sehingga ia tetap harus membeli sendiri.
Bantuan sosial dari pemerintah, seperti bantuan langsung tunai atau bantuan pangan, tidak pernah ia terima secara langsung.
“Saya dengar orang-orang dapat. Saya tidak," katanya lagi.
Meski memiliki kartu BPJS, akses layanan kesehatan tetap menjadi persoalan karena alamat fasilitas berobatnya jauh dari tempat tinggal.
Di usia lanjut, Samin memilih tetap bekerja selama tubuhnya masih mampu.
Ia mencangkul kebun, membersihkan lahan, atau melakukan pekerjaan fisik ringan jika diminta.
Baginya, bekerja bukan sekadar mencari uang, melainkan menjaga martabat diri.
“Daripada berdiri di depan rumah orang. Saya tidak mau jadi pengemis," paparnya.
Ketika ditanya harapan kepada pemerintah, Samin tidak menyebut bantuan besar atau fasilitas khusus.
“Mudah-mudahan RT ingat,” ujarnya lirih.
Ia tidak mengetahui siapa gubernur atau wali kota saat ini.
“Siapa ya? Saya enggak tahu apa-apa, TV pun saya gak ada, HP apalagi," ungkapnya.
Ia hanya mengenal presiden karena pernah ikut memilih.
Di luar itu, hidupnya berjalan apa adanya. Bangun pagi, mengurus kebun, menunggu panen, menunggu orang lewat, dan menunggu hari berganti.
Di rumah kayu berukuran 4x4 meter yang berdiri tepat di depan pemakaman Katolik itu, Samin menjalani hari tua dengan caranya sendiri: bertahan, bekerja, dan berharap secukupnya.
(Sumber: Kompas.com/Pandawa Borniat | Editor: Krisiandi)
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang