Farel Prayoga Tolak Ajakan Ayah Pulang ke Banyuwangi, Ini Alasannya

Farel Prayoga Tolak Ajakan Ayah Pulang ke Banyuwangi, Ini Alasannya, Tolak pulang ke Banyuwangi, Jadikan pendidikan prioritas, Peran manajer dalam pendidikan, Bertahan di Jakarta di tengah konflik keluarga, Komnas PA pantau konflik keluarga Farel

Di tengah polemik keluarga yang menyeret namanya ke ruang publik, penyanyi cilik Farel Prayoga mengambil sikap tegas terkait masa depannya.

Remaja asal Banyuwangi itu memilih tetap tinggal di Jakarta demi menjaga pendidikan dan kelangsungan karier.

Sementara itu, pelantun "Ojo Dibandingke" itu mendapat ajakan untuk pulang ke kampung halaman dari orangtuanya. 

Tolak pulang ke Banyuwangi

Keputusan tersebut diungkapkan oleh manajer Farel, Muhammad Rais, yang menyebut ajakan pulang disampaikan langsung oleh ayah kandung Farel, Joko.

Pertemuan itu terjadi setelah Joko keluar dari penjara dan datang ke Jakarta.

"Pak Joko sejak keluar dari penjara datang ke Jakarta dan bertemu saya di bandara. Di situ dia ngobrol dengan Farel dan mengajak Farel kembali ke Banyuwangi," ujar Rais dikutip dari , Jumat (9/1/2026).

Namun, Farel menolak ajakan tersebut. Ia menyampaikan keinginannya untuk tetap berada di Jakarta agar pendidikan dan kariernya dapat berjalan beriringan.

"Aku tetap di sini. Aku ingin karier aku berjalan, pendidikan aku berjalan di sini, aku terjaga di sini, dan aku akan tetap di sini," kata Farel, seperti ditirukan Rais.

Jadikan pendidikan prioritas

Rais menegaskan bahwa pendidikan menjadi prioritas utama bagi Farel di tengah kesibukannya sebagai penyanyi.

Menurutnya, keputusan bertahan di Jakarta diambil Farel secara sadar demi masa depan jangka panjang.

"Bagi mereka mungkin pendidikan tidak penting, tapi bagi Farel pendidikan itu nomor satu," ujar Rais.

Farel juga membenarkan pernyataan tersebut. Ia menyebut keberadaannya di Jakarta bukan semata untuk karier pribadi, melainkan juga untuk keluarga di kemudian hari.

"Aku di sini buat mengoptimalkan karier," kata Farel. "Toh nanti ujung-ujungnya uangnya juga ke mereka," tambahnya.

Peran manajer dalam pendidikan

Dalam keterangannya, Farel mengungkap bahwa Rais kerap mendampingi urusan sekolah yang tidak ditangani orang tuanya. Ia menyebut manajernya menemani proses pendaftaran sekolah hingga bertindak sebagai wali.

"Waktu awal SMP, bapak enggak pernah menemani aku daftar MPLS. Itu om (yang nemenin, daftarin," ungkap Farel, dikutip dari , Jumat. 

Ia menambahkan, peran tersebut tidak tertulis dalam kontrak kerja dan dilakukan atas inisiatif pribadi manajernya. Farel menilai pendampingan tersebut membantunya tetap fokus pada pendidikan.

Bertahan di Jakarta di tengah konflik keluarga

Keputusan Farel bertahan di Jakarta muncul di tengah konflik dengan keluarga yang mencuat ke publik. Ia mengaku tetap merindukan ayahnya, namun memilih menjaga jarak karena sikap yang diterimanya.

"Dibilang kangen, ya kangen," jelas Farel.

"Cuma masalahnya, perilaku mereka bikin aku jadi enggak kangen," sambungnya. 

Polemik ini juga menarik perhatian Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA). Lembaga tersebut menilai konflik keluarga yang melibatkan anak dan berkembang ke ruang publik berpotensi mengganggu kondisi psikologis anak.

Komnas PA pantau konflik keluarga Farel

Ketua Komnas PA Agustinus Sirait menegaskan lembaganya siap turun tangan untuk memastikan hak Farel sebagai anak tetap terlindungi.

"Kami dari Komnas Perlindungan Anak berada di garda terdepan untuk melindungi anak sesuai dengan fungsi kami," ujar Agustinus, dikutip dari , Rabu (7/1/2026).

Komnas PA menyatakan akan melihat seluruh dinamika yang terjadi dari sudut pandang kepentingan terbaik bagi anak.

Dalam konteks itu, pilihan Farel bertahan di Jakarta dipahami sebagai upaya menjaga pendidikan dan masa depannya di tengah situasi keluarga yang belum kondusif.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang