Inara Rusli Denial Insanul Fahmi Udah Nikah Muda, Denny Sumargo: Lu Gak Sepolos Itu!
Percakapan antara Denny Sumargo dan Inara Rusli soal pernikahan siri tengah disorot. Salah satu momen yang paling menjadi sorotan adalah reaksi spontan Denny ketika Inara mengaku sama sekali tidak curiga bahwa Insanul Fahmi sudah memiliki istri, hanya karena usianya yang masih tergolong muda, yakni 26 tahun. Ungkapan Denny yang menyebut banyak orang sulit percaya dengan kepolosan tersebut langsung menjadi perbincangan.
Dalam obrolan itu, Inara secara terbuka menjelaskan kronologi kapan dirinya mengetahui status pernikahan Insanul Fahmi. Fakta bahwa kebenaran tersebut baru terungkap setelah mereka menikah siri membuat Denny beberapa kali mempertanyakan proses pengambilan keputusan Inara. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.
Insanul Fahmi dan Inara Rusli
“Sekarang kapan kamu tahu dia punya istri?” tanya Densu yang dikutip dari tayangan YouTube-nya pada Jumat, 9 Januari 2026.
“Belasan lah. Tanggal belasan Agustus. Agustus menjelang akhir,” jawab Inara.
Ia menegaskan bahwa pengakuan Insanul soal istri pertamanya baru muncul di akhir Agustus, bukan Oktober. Pada momen itulah, Denny menyoroti alasan Inara yang tidak mengecek latar belakang Insanul lebih jauh.
“Karena aku ngeliat dia kan masih muda jadi aku mikirnya kayak nggak mungkin maksudnya dia udah nikah kan umur 26 maksudnya gen z, nggak mikir aja dia udah nikah udah punya anak ya kan,” tutur Inara.
“Kayak orang sih nggak percaya lu sepolos itu jujur sih,” timpal Densu memberikan reaksinya.
Namun Inara menjelaskan bahwa posisinya saat itu tidak sesederhana yang terlihat dari luar. Ia merasa bahagia karena ada sosok yang menerima dirinya beserta anak-anaknya.
“Karena orang nggak ada di posisi aku juga saat itu kan maksudnya aku ngerasa happy ada orang yang mau nerima anak-anak aku ya kan. Terus dia orangnya baik gitu kan bertanggung jawab gitu dia settle juga,” ujarnya.
Inara pun mengakui bahwa perasaannya saat itu ikut mempengaruhi logika. Denny kemudian menanggapi hal tersebut dengan refleksi yang cukup tajam tentang bagaimana banyak keputusan emosional berujung menjadi konsumsi publik
“Ya kan namanya kita perempuan apa-apa kita memutuskan sesuatu pakai perasaan. Kalau kita pakai logika enggak akan mungkin banyak kasus viral,” tandasnya.