Sejarah Penemuan Berlian yang Jadi Salah Satu Permata Termahal di Dunia

Sejarah Penemuan Berlian yang Jadi Salah Satu Permata Termahal di Dunia, 1. Pembentukan di mantel bumi, 2. Pembentukan di zona subduksi, 3. Formasi di lokasi asteroid, 4. Pembentukan di ruang angkasa

Berlian menjadi salah satu batu permata yang sangat berharga karena keindahan dan kekuatannya.

Berlian secara kimia merupakan bentuk kristal dari karbon yang diasah dengan baik sehingga menjadi berkilau.

Diketahui, berlian terbentuk lebih dari 3 miliar tahun yang lalu jauh di dalam kerak bumi. Namun baru ditemukan sekitar abad ke-4 SM.

Dilansir dari laman CBS News, berlian diketahui pertama kali ditemukan di India sekitar abad ke-4 SM sebagau bahan yang bernilai.

Referensi paling awal tentang berlian adalah manuskrip Sansekerta bertanggal 320-296 SM, yang ditulis oleh seorang menteri di dinasti India utara.

Pada abad ke-13, sejumlah kecil berlian mulai muncul di pakaian dan perhiasan Eropa dan dijadikan sebagai titik aksen di antara mutiara dalam emas tempa.

Pada abad ke-16, berlian menjadi populer, sebagai respons terhadap perkembangan pemolesan berlian, yang meningkatkan kecemerlangannya.

Berlian kemudian mendominasi perhiasan kecil pada abad ke-17 dan perhiasan besar pada abad ke-18.

Semakin banyak berlian mencapai Eropa, permintaan akan berlian pun meningkat. Dan pada abad ke-18 berlian semakin melimpah, terutama datang dari Amerika Selatan.

Salah satu peristiwa menjelang akhir abad ke-19 membantu mengubah peran berlian di abad berikutnya.

Yakni penemuan deposit berlian dengan kekayaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Afrika Selatan pada tahun 1870-an.

Ini mengubah berlian dari permata langka menjadi permata yang berpotensi tersedia bagi siapa saja yang mampu membelinya.

Selama beberapa tahun berikutnya, Afrika Selatan menghasilkan lebih banyak berlian dibandingkan India selama lebih dari 2.000 tahun.

Metode pembentukan Berlian

Sejarah Penemuan Berlian yang Jadi Salah Satu Permata Termahal di Dunia, 1. Pembentukan di mantel bumi, 2. Pembentukan di zona subduksi, 3. Formasi di lokasi asteroid, 4. Pembentukan di ruang angkasa

'Motswedi', berlian kasar seberat 2.488 karat, di samping batu permata lainnya di kantor pusat perusahaan berlian HB Antwerp di Antwerp.

Dikutip dari laman Geology.com, ada empat proses berbeda yang dianggap bertanggung jawab atas hampir semua berlian alami, yaitu:

1. Pembentukan di mantel bumi

Ahli geologi percaya bahwa berlian terbentuk di mantel bumi dan dilepaskan ke permukaan melalui letusan vulkanik yang menghasilkan pipa kimberlite dan lamproite.

Pembentukan berlian alami memerlukan suhu dan tekanan yang sangat tinggi. Kondisi ini terjadi 150 kilometer atau lebih di bawah permukaan, dengan suhu setidaknya 1050 derajat Celsius.

Berlian yang terbentuk dikirim ke permukaan bumi selama letusan gunung berapi yang bersumber dari dalam. Letusan ini merobek sebagian mantel bumi dan membawanya dengan cepat ke permukaan.

2. Pembentukan di zona subduksi

Berlian berukuran kecil ditemukan pada batuan yang diperkirakan telah tersubduksi jauh ke dalam mantel bumi melalui proses lempeng tektonik, kemudian dikembalikan ke permukaan.

Pembentukan berlian di lempeng subduksi terjadi pada kedalaman 80 kilometer di bawah permukaan dan pada suhu serendah 200 derajat Celcius.

Sebuah studi menyelidiki asal usul berlian biru mengandung boron yang terbentuk pada kedalaman hingga 650 kilometer.

Berlian super dalam ini mengandung inklusi yang menunjukkan bahwa berlian tersebut berasal dari kerak samudera yang tersubduksi.

3. Formasi di lokasi asteroid

Sepanjang sejarahnya, Bumi berulang kali dihantam asteroid berukuran besar. Ketika benda angkasa tersebut menghantam bumi, terjadi suhu dan tekanan ekstrem.

Saat bertabrakan, objek berkecepatan tinggi ini akan menghasilkan ledakan energi yang setara dengan banyak senjata nuklir dan suhu lebih panas dari permukaan matahari.

Kondisi suhu dan tekanan tinggi dari dampak tersebut lebih dari cukup untuk membentuk berlian.

Teori pembentukan berlian ini didukung dengan ditemukannya berlian kecil di sekitar beberapa lokasi tumbukan asteroid.

4. Pembentukan di ruang angkasa

Peneliti NASA telah mendeteksi sejumlah besar nanodiamond di beberapa meteorit. Nanodiamond adalah berlian yang diameternya beberapa nanometer (sepersejuta meter).

Sekitar tiga persen karbon dalam meteorit ini terkandung dalam bentuk nanodiamond. Berlian ini terlalu kecil untuk digunakan sebagai permata atau bahan abrasif industri.

Peneliti Smithsonian juga menemukan sejumlah besar berlian kecil ketika mereka memotong sampel dari meteorit Allen Hills.

Berlian dalam meteorit ini diperkirakan terbentuk di ruang angkasa melalui tabrakan berkecepatan tinggi, mirip dengan bagaimana berlian terbentuk di bekas asteroid.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang