Mengapa Ada Pohon Natal? Ini Sejarah dan Tradisinya

Natal, perayaan Natal, pohon Natal, Mengapa Ada Pohon Natal? Ini Sejarah dan Tradisinya, Asal-usul Tradisi Pohon Natal Modern, Masuknya Pohon Natal ke Amerika Serikat, Sejarah Hiasan dan Ornamen Pohon Natal, Dari Lilin hingga Lampu LED, Mengapa Hadiah Diletakkan di Bawah Pohon Natal?

Pohon Natal menjadi salah satu simbol paling ikonik dalam perayaan Hari Raya Natal. Setiap Desember, jutaan keluarga di berbagai belahan dunia menata pohon hijau, baik cemara asli maupun pohon buatan, di ruang tamu mereka.

Namun, dari mana sebenarnya tradisi pohon Natal berasal?

Dikutip dari monstertreeservice.com, jauh sebelum Natal dikenal sebagai perayaan Kristen, tanaman hijau yang tetap hidup di musim dingin sudah digunakan sebagai simbol kehidupan dan harapan.

Di Mesir Kuno, masyarakat memanfaatkan daun palem yang tumbuh subur di Lembah Sungai Nil sebagai lambang kesuburan. Sementara itu, di Kekaisaran Romawi, dedaunan hijau digunakan dalam perayaan Saturnalia, festival titik balik matahari musim dingin untuk menghormati Saturnus, dewa pertanian.

Di wilayah Eropa Utara, masyarakat Celtic, Norse, dan suku-suku lain memaknai pohon hijau abadi sebagai simbol kehidupan yang terus berlanjut di tengah musim dingin.

Bangsa Norse, misalnya, mengaitkan evergreen dengan Baldur, dewa matahari mereka. Sementara di China pada era Dinasti Han, tanaman hijau melambangkan ketangguhan dan daya tahan.

Tradisi-tradisi pagan ini tidak sepenuhnya hilang ketika Kristen menyebar. Banyak praktik lama, termasuk menggantung ranting hijau dan karangan bunga, kemudian berbaur dengan perayaan Natal.

Asal-usul Tradisi Pohon Natal Modern

Sejarah mencatat, tradisi pohon Natal seperti yang dikenal sekarang mulai berkembang di Jerman pada abad ke-16.

Awalnya, masyarakat menempatkan pohon cemara di depan rumah atau di dalam ruangan. Seiring waktu, pohon tersebut mulai dihias, terinspirasi dari pertunjukan drama religius tentang Adam dan Hawa yang dipentaskan setiap 24 Desember.

Dalam drama tersebut, pohon dihias dengan apel sebagai simbol buah terlarang.

Dari situlah muncul kebiasaan menghias pohon dengan berbagai ornamen, mulai dari makanan seperti kue hingga lilin yang dinyalakan, meski praktik lilin kemudian ditinggalkan karena berisiko kebakaran.

Di saat yang sama, berkembang pula tradisi Weihnachtspyramide atau “piramida Natal”, yakni rak kayu bertingkat berisi figur Kristen, ranting hijau, lilin, dan bintang. Kedua tradisi ini akhirnya menyatu dan melahirkan pohon Natal hias dalam ruangan.

Masuknya Pohon Natal ke Amerika Serikat

Natal, perayaan Natal, pohon Natal, Mengapa Ada Pohon Natal? Ini Sejarah dan Tradisinya, Asal-usul Tradisi Pohon Natal Modern, Masuknya Pohon Natal ke Amerika Serikat, Sejarah Hiasan dan Ornamen Pohon Natal, Dari Lilin hingga Lampu LED, Mengapa Hadiah Diletakkan di Bawah Pohon Natal?

Ilustrasi pohon Natal dan kucing.

Pohon Natal di Amerika Serikat pertama kali diperkenalkan oleh imigran Jerman pada abad ke-17.

Namun, popularitasnya baru meningkat pesat pada abad ke-19, terutama setelah Pangeran Albert, suami Ratu Victoria, memperkenalkan pohon Natal ke Inggris pada 1846.

Gaya hidup bangsawan Inggris kala itu dengan cepat menjadi tren global. Pada awal abad ke-20, kemajuan teknologi listrik memungkinkan penggunaan lampu Natal elektrik, yang mulai menghiasi pohon Natal di rumah-rumah hingga alun-alun kota.

Jerman juga memperkenalkan pohon Natal buatan ke Amerika pada 1920-an.

Pohon buatan pertama terbuat dari bulu yang dicat hijau, disusul pohon berbahan sikat plastik pada 1930-an. Pada dekade 1950–1960-an, pohon Natal aluminium menjadi tren, memicu perdebatan klasik,  pohon Natal asli atau buatan?

Sejarah Hiasan dan Ornamen Pohon Natal

Seiring waktu, hiasan pohon Natal mengalami evolusi. Awalnya, ornamen bersifat religius dan dibuat secara sederhana.

Namun, sejak awal 1900-an, produksi massal ornamen kaca, manik-manik, tinsel, hingga kapas imitasi salju membuat dekorasi pohon Natal semakin beragam.

Toko-toko besar seperti F.W. Woolworth di Amerika mulai menjual ornamen Natal kaca tiup, sehingga tradisi menghias pohon Natal menjadi lebih mudah diakses masyarakat luas.

Meski begitu, hingga awal abad ke-20, banyak keluarga masih menggunakan hiasan buatan sendiri, termasuk untaian popcorn, kacang-kacangan, buah beri, hingga apel dan kue.

Dari Lilin hingga Lampu LED

Pada awalnya, lampu pohon Natal berupa lilin sungguhan yang melambangkan cahaya Kristus dan kembalinya terang setelah malam terpanjang dalam setahun.

Bahkan, terdapat kisah tentang Martin Luther yang menyalakan lilin di pohon Natalnya untuk meniru keindahan bintang di langit malam.

Namun, demi keamanan, lampu listrik mulai diperkenalkan pada 1890-an. Kini, teknologi lampu LED Natal menjadi pilihan utama karena lebih hemat energi, tahan lama, dan minim risiko kebakaran.

Mengapa Hadiah Diletakkan di Bawah Pohon Natal?

Tradisi meletakkan kado di bawah pohon Natal juga dipopulerkan oleh Ratu Victoria dan Pangeran Albert.

Meski asal-usul pastinya tidak jelas, kebiasaan ini sering dikaitkan dengan kisah Tiga Orang Majus yang membawa hadiah untuk bayi Yesus. Seiring ukuran hadiah yang semakin besar, peletakan di bawah pohon menjadi solusi paling praktis.

Dari simbol pagan hingga ikon Natal modern, pohon Natal mencerminkan perjalanan panjang sejarah manusia dalam memaknai harapan, kehidupan, dan cahaya.

Hingga kini, tradisi tersebut terus hidup, beradaptasi dengan zaman, dan menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Natal di seluruh dunia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang