Akuisisi Warner Bros Memanas! Paramount Ajukan Tawaran Lebih Tinggi dari Netflix
Persaingan memperebutkan aset Warner Bros. Discovery (WBD) kian memanas. Paramount Skydance mengajukan penawaran tandingan bernilai jumbo untuk mengakuisisi seluruh aset WBD, menantang langkah Netflix yang lebih dulu mengajukan kesepakatan akuisisi.
Dalam keterangan resmi, Paramount mengumumkan penawaran pembelian senilai US$30 sekitar Rp 499 ribu (estimasi kurs Rp 16.650 per dolar AS) per saha, secara tunai. Sehingga total valuasi pengambilahian mencapai sekitar US$108,4 miliar atau Rp 1.805 triliun.
Tawaran ini lebih tinggi dibanding proposal Netflix yang menawarkan US$72 miliar atau Rp 1.198,9 triliun dan enterprise value mendekati US$82,7 miliar. Di mana Neflix membadrol harga per lembar saham WBD sebesar US$27,75 atau Rp 462 ribu.
Paramount menegaskan, proposal ini mencakup pengambilalihan seluruh aset Warner Bros. Discovery, termasuk segmen Global Networks. Perusahaan menilai penawarannya lebih menarik secara strategis dan finansial bagi pemegang saham WBD.
Ilustrasi Uang
“Tawaran kami memberikan alternatif yang lebih unggul dibanding proposal Netflix, yang nilainya lebih rendah dan sarat ketidakpastian, terutama dari sisi proses regulasi lintas yurisdiksi,” tulis Paramount dalam pernyataan resmi yang dikutip dari Anadolu Agency pada Selasa, 16 Desember 2025.
CEO Paramount, David Ellison, menuturkan aksi korporasi ini bertujuan untuk memperkuat industri hiburan Hollywood. Menurutnya, transaksi ini akan mendorong persaingan sehat, meningkatkan belanja konten, serta memperbanyak jumlah film yang tayang di bioskop yang pada akhirnya meningkatkan pendapatan.
"Ini demi kepentingan terbaik komunitas kreatif, konsumen, dan industri bioskop. Kami percaya mereka (Warner Bros) akan mendapat manfaat dari peningkatan persaingan sebagai hasil dari transaksi yang kami usulkan," ujar Ellison.
Sebelumnya, Netflix mengumumkan telah mencapai kesepakatan awal dengan WBD untuk mengakuisisi studio film dan televisi Warner Bros., termasuk HBO Max dan HBO. Namun, rencana tersebut memicu kekhawatiran antimonopoli karena berpotensi menggabungkan dua raksasa layanan streaming global.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut menyoroti rencana tersebut. Ia mengaku bersikap skeptis dan menilai dominasi pasar gabungan Netflix dan HBO bisa menjadi masalah.
"Saya sangat mengenal perusahaan-perusahaan itu. Saya tahu apa yang mereka lakukan, tetapi saya harus melihat berapa persentase pangsa pasar yang mereka miliki. Tak satu pun dari mereka yang benar-benar teman baik saya," kata Trump.
Sejumlah pengamat juga menilai akuisisi oleh Netflix berisiko mengganggu industri bioskop, mengingat platform streaming tersebut dinilai kurang memprioritaskan distribusi film layar lebar.