Sektor Logistik Diproyeksi Moncer Tahun 2026, Ini Faktor Pendorongnya
Sektor logistik Indonesia diproyeksi kembali moncer pada 2026, seiring menguatnya fondasi domestik dan ketahanan industri menghadapi tekanan global. Optimisme ini muncul setelah sektor logistik nasional dinilai mampu bertahan dan tetap tumbuh di tengah gejolak geopolitik dan perang dagang yang menekan rantai pasok global.
Federasi Asosiasi Logistik Global, FIATA (International Federation of Freight Forwarders Associations), menyatakan bahwa kinerja solid sektor logistik sepanjang tahun 2025 menjadi modal kuat Indonesia menyongsong tahun depan. Selain itu, stabilitas permintaan domestik turut menjadi sinyal kuat moncernya industri ini.
“Tahun 2025 faktor eksternal geopolitik dan perang dagang dengan intensif telah memengaruhi permintaan dan sektor logistik di tingkat global dan nasional, namun sektor ini terus tumbuh dengan positif dan berkontribusi pada tumbuhnya ekonomi Indonesia 5 persen," ungkap Senior Vice President FIATA sekaligus Ketua Dewan Pembina ALFI, Yukki Nugrahawan Hanafi, dikutip dari keterangan tertulisnya, Selasa, 16 Desember 2025.
Ketua Dewan Pembina ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi
Proyeksi diperkuat data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan sektor logistik rantai pasok dari industri pergudangan dan transportasi masing-masing tumbuh 9,01 persen, 8,52 persen, dan 8,62 persen dalam tiga kuartal terakhir tahun 2025. Sektor ini juga menyumbang sekitar 6,08 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional yang mencerminkan perannya yang semakin strategis dalam perekonomian.
Memasuki 2026, kata Yukki, faktor domestik akan menjadi pendorong utama berlanjutnya tren positif. Penguatan konsumsi dan daya beli masyarakat, target pertumbuhan APBN sebesar 5,4 persen, serta bergulirnya berbagai program strategis pemerintah seperti Koperasi Merah Putih dan Makan Bergizi Gratis (MBG) diyakini menciptakan efek multiplier bagi aktivitas ekonomi dan penyaluran kredit perbankan.
Yukki menyinggung geliat konsumsi masyarakat sudah mulai terlihat dari stimulus yang disalurukan oleh pemerintah. Ini ditandai dengan aktivitas sektor manufaktur yang ekspansif pada level 53.3 pada November 2025 atau lebih tinggi dibandingkan awal Januari tahu bahkan indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mulai tumbuh agresif pada semester-II 2025.
"Hal ini kami yakini akan terus mendorong permintaan belanja domestik masyarakat dan berkontribusi pada permintaan sektor logistik tahun depan,” kata Yukki.
Di balik optimistisme ini, FIATA mengingatkan pelaku usaha untuk tetap waspada. Ketidakpastian geopolitik global, yakni perang dagang yang sewaktu-waktu dapat kembali intensif yang membentuk lanskap ekonomi baru.
Yukki menambahkan, faktor disrupsi penggunaan kecerdasan buatan (AI) pada sektor logistik juga menjadi tantangan. Sehingga, ia meminfa para pelaku usaha tanggap untuk beradaptasi dengan teknlogi ini terlebih perusahaan logistik multinasional telah mengadopsi AI untuk membantu mengefisiensi operasional lebih efisien.
"Walaupun dari sisi domestik solid, kami berharap pelaku usaha nasional segera beradaptasi untuk menggunakan AI,” tutup Yukki.