Jangan Hanya Kirim Al-Fatihah, Ini Amalan Terbaik untuk Keluarga yang Sudah Meninggal
Kebiasaan mengirim Al-Fatihah untuk orang tua atau keluarga yang telah meninggal dunia sudah sangat melekat di tengah masyarakat Muslim. Namun, menurut ulama asal Arab Saudi, Dr. Aidh bin Abdullah al-Qarni, ada amalan lain yang justru lebih besar manfaatnya bagi mereka yang telah berpulang.
Dalam penjelasannya, beliau menguraikan secara rinci bagaimana pandangan syariat Islam mengenai pahala yang dapat sampai kepada orang yang telah meninggal. Penjelasan ini didasarkan pada Al-Quran, sunnah, serta pendapat para ulama.
Menurutnya, orang yang telah wafat memang masih bisa mendapatkan manfaat dari amal orang yang masih hidup. Namun, bentuk amal tersebut telah dijelaskan secara jelas dalam ajaran Islam.
“Orang yang meninggal memperoleh beberapa keuntungan dari orang yang masih hidup,” ujarnya yang dikutip dari YouTube Mufeid Channel pada Senin, 15 Desember 2025.
Aidh bin Abdullah al-Qarni menegaskan bahwa doa merupakan amalan terbesar yang pahalanya sampai kepada orang yang telah meninggal.
“Dengan demikian, teks-teks hukum dalam Al-Quran dan sunnah dari doa tersebut, yang merupakan manfaat terbesar yang dapat diterima oleh orang yang telah meninggal,” jelasnya lagi.
Selain doa, ia juga menekankan pentingnya amal jariyah atau sedekah yang berkelanjutan, seperti membangun masjid, menggali sumur, atau mewakafkan Al-Quran.
“Istilah "tersegmentasi" merujuk pada kegiatan amal yang berkelanjutan, khususnya dana abadi.”
Ia memberi contoh konkret bagaimana amal tersebut bisa diniatkan atas nama orang yang telah wafat.
“Sebagai contoh, dia mungkin mencetak salinan Al-Quran atau membelinya. Dia mengambil salinan Al-Quran dan menempatkannya di masjid atau sekolah.”
Terkait puasa, Dr. Aidh menjelaskan bahwa puasa hanya bisa dilakukan untuk mengganti kewajiban yang belum ditunaikan oleh orang yang telah meninggal, seperti puasa Ramadan atau nazar.
“Ia meninggal tanpa berpuasa; Orang yang masih hidup hendaknya berpuasa untuk orang yang telah meninggal, sebagaimana kewajibannya.”
Lalu bagaimana dengan membaca Al-Quran, termasuk Al-Fatihah? Menurut Dr. Aidh, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama.
“Terdapat dua pendapat di kalangan ulama mengenai apakah pahala tersebut diperuntukkan bagi orang yang telah meninggal.”
Pendapat pertama menyatakan pahala bacaan Al-Qur’an bisa sampai kepada orang yang telah wafat, sementara pendapat kedua menyatakan sebaliknya.
“Pendapat kedua adalah bahwa mereka berkata, ‘Tidak membaca Al-Quran,’ Tidaklah pantas bagi seseorang untuk membaca Al-Quran dan sekaligus memberi petunjuk kepada orang lain.”
Ia menegaskan bahwa para sahabat Nabi tidak mencontohkan menghadiahkan bacaan Al-Quran untuk orang yang telah meninggal.
“Para Sahabat tidak melewatkan apa pun. Mereka memindahkannya, dan kematian ada selama masa pemerintahan Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam.”
Sebagai penutup, Dr. Aidh menekankan bahwa orang hidup memiliki peran penting dalam membantu orang yang telah meninggal melalui doa, sedekah, dan menjaga silaturahmi.
“Oleh karena itu, saudaraku tersayang, orang yang hidup adalah yang terbaik untuk menjangkau orang mati,” tutupnya.