Cerita Relawan yang Redakan Lapar di Bireuen dan Pidie: Dua Plastik Jambu Air Itu Langsung Habis

Selepas bencana banjir dan longsor meluluhlantakkan sebagian area di Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh pada akhir November lalu, banyak relawan yang merangsek masuk daerah bencana demi mengulurkan tangan.
Tak peduli akses masih terputus, tak peduli kawasan bencana masih gelap gulita karena aliran listrik padam, relawan terus datang silih berganti.
Salah satunya adalah Fahmi Yunus, dosen Fakultas Ekonomi & Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Banda Aceh, yang bertatus non-aktif karena baru saja menyelesaikan studi PhD dari University of Sheffield, UK.
Bersama sang paman, Husaini Ismail, Fahmi memutuskan menembus Pidie dan Bireuen dengan mengendarai mobil double cabin pribadi.
Kepada Kompas.com, Fahmi menceritakan bagaimana sulitnya menembus lokasi bencana, dan betapa para pengungsi dengan mata berbinar menyambut semua uluran bantuan, termasuk dua plastik jambu air.
Mengumpulkan donasi dari kerabat dan teman
Tak lama selepas bencana menerjang, 26 November 2026, Fahmi berinisiatif menggalang dana bantuan untuk para korban.
"Intinya yang kami pikirkan waktu itu, berapa pun dana terkumpul kita harus berani membawa bahan makanan semampunya. Tanpa membuat open donation secara khusus. Cuma dengan kita bilang akan ke lokasi bencana, lantas ada saja donasi yang masuk," paparnya, Senin (8/12/2025) malam via sambungan telepon.
Sekitar 3 hari, terkumpulah donasi kerabat dan teman dari luar Aceh, seperti dari Medan dan Yogyakarta, serta dari luar negeri, yaitu Inggris.
"Kalau tidak salah terkumpul sekitar 20 jutaan, begitu ada uang langsung kami belikan barang seperti beras, susu anak, minyak goreng, gula, pembalut wanita, mi instan, biskuit, dan juga buah-buahan," papar Fahmi.
Selain dibelikan barang kebutuhan sehari-hari, Fahmi juga menyisakan uang tunai untuk diberikan ke dapur umum pengungsian.
Menuju Pidie dan Bireuen
Suasana di sekitar jembatan Kutablang, Bireuen. Hancurnya jembatan itu memutus jalur darat Bireuen- Lhokseumawe/Aceh Utara.
Setelah semua barang dikemas, Fahmi dan Husain pun mulai melajukan mobilnya, tepat pada Senin (1/12/2025) pagi. Tujuan pertama, adalah Pidie Jaya"Awalnya kami agak pesimis apakah bisa menembus daerah bencana banjir dan longsor di Pidie Jaya dan Bireuen. Karena info yang berseliweran adalah jalan ke beberapa daerah putus total dan terisolir. Alhamdulillah, ada saja kemudahan sehingga kami bisa ke "batas akhir" Bireuen, Kutablang," kisahnya.
Menurut Fahmi, tepat di hari yang sama, ia berhasil memakirkan mobilnya di Pidie. Di sana, ia sempat melakukan koordinasi dengan relawan lain, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan menuju Bireuen.
"Sampainya menjelang malam, di hari yang sama," ujarnya.
Menurut Fahmi, di kecamatan ini semua transportasi darat terhenti. Jika ingin melanjutkan perjalanan, harus turun dulu ke pinggir sungai, kemudian menyambung perjalanan menggunakan boat kecil.
"Ongkosnya Rp 20.000 per orang, kita diantar ke seberang sungai jika ingin lanjut perjalanan ke Aceh Utara, Timur, hingga Medan. Cukup mahal memang untuk kondisi seperti ini, di tengah bencana. Saya mencoba memaklumi karena stok BBM yang boat perlukan juga terbatas," ujar Fahmi yang juga memaparkan bahwa antrean SPBU mengular mencapai 1 km.
Harga BBM juga melambung tinggi hingga 3-4 kali lipat.
Jambu air menjadi obat darurat kelaparan
Suasana dapur umum di Desa Meuse, Kab. Bireuen.
Di wilayah Bireuen, Fahmi menjumpai para pengungsi korban banjir di Masjid Al Istiqamah.Ada sekitar seribuan pengungsi yang berasal dari 4 desa dan dievakuasi ke sana sejak banjir menerjang, 26 November lalu.
"Saat melihat kami dengan mobil double cabin membawa bantuan, mereka sangat senang dan terlihat tak sabar ingin memindahkan semua isi bak mobil kami ke halaman masjid," kata Fahmi.
Antusias pengungsi ini memantik haru. Karena bahkan, 2 plastik jambu air yang dipetik dari pohon depan rumah Fahmi, dengan gembira diterima oleh para pengungsi.
"Saya tidak kebayang, jambu air yang sedang banyak-banyaknya, bisa menjadi idola para pengungsi. Begitu kami serahkan, langsung mereka makan. Saya simpulkan, ini bukan tentang enak atau tidaknya jambu, tapi mereka sedang kelaparan," lanjutnya.
Di titik lain, Fahmi dan Husain sempat mengunjungi dapur umum pengungsian di depan sebuah meunasah atau mushala.
Di sana terlihat warga sedang memasak untuk makan siang mereka, yang dipantau langsung oleh keuchik (kepala desa).
"Mereka tengah memasak nasi dan goreng terong yang mereka dapatkan dari bantuan dan donasi orang-orang. Petugas dapur umum standby masak sehari 3 kali. Jika sudah masak, warga dipanggil untuk berkumpul lalu makan bersama. Bahkan jika ada orang lain, siapa saja (walaupun bukan warga setempat) lewat, akan diajak untuk makan bersama," cerita fahmi.
Menurut Fahmi, koordinator memasak di posko itu mengatakan, mereka mendapatkan itu semua (bahan makanan) dari bantuan orang-orang, "Jadi orang-orang, siapa saja, juga berhak untuk menikmati makanan ini," sambungnya.
Harta tersisa adalah pakaian yang melekat saat banjir
Di salah satu masjid yang menjadi area pengungsian, Fahmi sempat berbincang dengan para korban yang terdiri dari ibu-ibu dan lansia.
Mereka mengaku, pakaian yang mereka miliki hanya yang melekat di badan ketika banjir menerjang.
Karena saat air bah tiba di malam hari, mereka tak memiliki waktu untuk berkemas-kemas. Jadi hanya pakaian yang mereka kenakan saja satu-satunya harta yang mereka miliki.
Fahmi sendiri mengatakan, perjalanannya kali itu adalah distribusi bantuan jilid satu.
"Saya fokuskan membawa bahan makanan, mengingat banyak orang mulai kelaparan pasca-banjir," katanya.
Ia berharap, distribusi bantuan jilid berikutnya bisa membawa berbagai kebutuhan lain para pengungsi dengan lebih memadai.
Saat terakhir meninggalkan Pidie dan Bireuen, Fahmi mengatakan air sumur masih bisa digunakan dan dikonsumsi karena lokasinya agak tinggi dan di pinggir jalan raya.
"Sementara listrik dan internet putus total sejak hari pertama hingga kami di sana," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang