Menenun Tradisi ke Masa Kini, Tantangan Menghadirkan Ulos Kontemporer
Menghadirkan inovasi pada wastra tradisional bukan sekadar persoalan estetika. Perubahan sekecil apa pun dapat bersinggungan dengan nilai adat yang masih sangat dijunjung.
Hal itu pula yang dialami CEO Tobatenun, Kerri Na Basaria Pandjaitan, ketika mengembangkan ulos dalam bentuk dan warna yang lebih modern.
Inovasi di tengah pakem adat yang kuat
Dalam proses pembuatan ulos, Kerri sering berinteraksi dengan para tetua adat atau pihak-pihak yang sangat menjaga pakem.
Ia menekankan pentingnya kedekatan dan komunikasi terbuka agar setiap inovasi tetap sejalan dengan konteks yang benar.
“Apalagi dengan yang senior saya yang mungkin sudah ketua adat gitu. Kita selalu dekat, kita selalu hormat, dan kita open conversation,” tutur Kerri saat ditemui dalam acara MAULIATE di Sopo Del Tower, Jakarta Selatan, Kamis (4/12/2025).
Menurutnya, proses kreatif dalam merancang ulos kontemporer bukan hanya soal memperindah motif atau mencari palet warna baru, tetapi juga memahami sensitivitas budaya yang menyertai setiap detail kain tersebut.
Di samping itu, menjelaskan latar belakang desain kepada tokoh adat juga menjadi bagian penting dari proses.
Ia kerap menunjukkan detail motif yang diambil dari sumber tradisi dan menjelaskan bagaimana bentuk yang lebih modern itu tetap bertumpu pada nilai budaya aslinya.
“Ini sebenarnya karena kita jaga kain, banyak yang kita bikin sesuai pakemnya dan ini yang terinspirasi. Kalau ada yang bertanya kok pakemnya kayak gini-gini, kita coba explain,” terangnya.
Meski begitu, Kerri menyadari bahwa desain baru tidak selalu langsung diterima.
Perubahan kecil, seperti warna yang lebih lembut atau motif yang sedikit berbeda dari ulos tradisional, kerap memunculkan keraguan dari sebagian orang mengenai apakah hasil akhirnya masih mencerminkan identitas Batak.
Namun, Kerri memandang dinamika tersebut sebagai bagian alami dari dunia budaya, seni, dan industri mode.
Tidak semua orang dapat dipuaskan dengan satu pendekatan desain, dan Kerri melihat perbedaan pendapat itu justru menandakan bahwa ulos tetap hidup, diperdebatkan, dan relevan di tengah masyarakat.
Ketika desain baru tampak berbeda dari ulos tradisional
Salah satu tantangan ketika menggabungkan desain kontemporer ke dalam ulos adalah munculnya perubahan visual yang membuatnya tidak langsung dikenali sebagai ulos Batak oleh para leluhur, tokoh adat, maupun sebagian masyarakat.
Respons yang muncul biasanya bukan berupa penolakan, melainkan pertanyaan mengenai identitas dan tampilan kain tersebut, misalnya mengapa sebuah desain terasa tidak terlalu “Batak” di mata mereka.
Tantangan itu biasanya terjawab setelah Kerri menjelaskan sumber motif yang digunakan.
“Nanti kita bilang, ini sebenarnya terinspirasi. Misalnya kita ambil dari motif ini, tapi repeat repetition. Terus akhirnya mereka bilang ‘oh iya bener juga’,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian orang terbiasa mengidentifikasi ulos melalui bentuk utuh atau gabungan motif yang besar. Padahal, banyak motif Batak menyimpan detail kecil yang bisa ditarik menjadi elemen baru.
“Biasanya kan mereka melihat bentuknya nih kayak gini nih ulos banget. Tapi kita ngambil small detail gitu. Dan mereka akhirnya ‘oh oke’. Kayak gitu aja sih,” tuturnya.
Menggugah minat lewat warna dan bentuk baru
Menariknya, apresiasi terbesar terhadap inovasi ulos justru datang dari mereka yang bukan bagian dari komunitas Batak. Menurut Kerri, hal itu terjadi karena mereka melihat ulos dari perspektif baru tanpa beban pakem adat.
“Thankfully memang yang apresiasi kita banyaknya yang non-Batak. Mungkin karena mereka lihat hal yang unik dan different gitu,” katanya.
Kerri menyebut bahwa sebagian orang mengenal ulos hanya dari warna klasiknya seperti hitam dan merah, yang kerap dianggap “keras” atau “tegas”.
“Karena mereka selalu melihat ulos tuh kayaknya hitam, merah, hitam, merah, terus keras banget gitu. Terus mereka melihat, ‘oh sebenarnya bisa nih soft’. Soft dengan warna alam, warna pastel, dan lebih casual,” ujarnya.
Dengan pendekatan warna dan gaya yang lebih lembut, ulos tidak hanya tampil modern, tetapi juga makin mudah diterima sebagai bagian dari gaya sehari-hari.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang