Menang 5-4 tapi Penuh Kepanikan, Ada Apa dengan Lini Belakang Manchester City?
Manchester City meraih tiga poin di Craven Cottage, namun cara mereka melakukannya justru mengundang tanda tanya besar. Dalam laga penuh drama yang berakhir 5-4 melawan Fulham, pasukan Pep Guardiola menunjukkan kualitas menyerang kelas elite, tetapi juga keropos di lini belakang yang membuat rival gelar dipastikan semakin percaya diri.
City sempat memimpin 5-1 lewat gol ke-100 Erling Haaland di Premier League, dua gol Phil Foden, tambahan Tijjani Reijnders, serta gol bunuh diri Sander Berge. Pada fase itu, City terlihat seperti akan pulang dengan kemenangan telak tanpa perlawanan berarti.
Namun yang terjadi setelahnya justru berubah menjadi kekacauan. Fulham bangkit lewat tiga gol tanpa balas, dipimpin aksi pemain pengganti Samuel Chukwueze. Tim tuan rumah bahkan hampir menyamakan kedudukan di masa tambahan waktu sebelum bola disapu tepat di garis gawang.
City pada akhirnya menang, tetapi dengan cara bertahan yang terlihat panik dan bergantung pada waktu.
Dalam pernyataan usai laga, Haaland mengaku situasinya berubah sangat cepat.
“Saya hampir mencetak gol dan kemudian mereka membuat skor menjadi 5-3, jadi begitulah sepakbola, itu indahnya sepakbola,” kata Haaland dikutip BBC Sport.
Haaland mencetak satu gol dan dua assist dalam pertandingan ini, sekaligus mencatat rekor mencapai 100 gol Premier League hanya dalam 111 pertandingan, tercepat sepanjang sejarah kompetisi tersebut. Meski demikian, performa individu itu tetap tertutup oleh fokus terhadap rapuhnya pertahanan City.
Guardiola mencoba meredakan kegelisahan tersebut dengan nada bercanda. Ia menyebut para pemainnya seperti tidak menghormati pelatih karena membuatnya tegang hingga menit terakhir.
Kemenangan tersebut menempatkan City dua poin di belakang Arsenal. Namun selisih itu bisa kembali melebar menjadi lima jika The Gunners menang atas Brentford pada Rabu.
Alarm Pertahanan City: Statistik yang Tak Bisa Diabaikan
Masalah City bukan sekadar perasaan, tetapi juga terlihat jelas dalam data. The Citizens telah kebobolan 10 gol dalam empat pertandingan terakhir di semua kompetisi. Padahal, pada empat laga sebelumnya, mereka hanya kebobolan tiga kali. Perbedaan drastis ini menunjukkan adanya penurunan konsentrasi dan koordinasi yang perlu segera dibenahi.
Guardiola mengakui dirinya khawatir Fulham bisa membalikkan keadaan. Namun ia juga menilai fase sulit ini bisa menjadi momen pembelajaran penting. Ia menjelaskan bahwa setiap pertandingan dalam periode tertentu selalu menghadirkan dinamika baru bagi sebagian pemain, sehingga ada proses perbaikan yang harus terus berjalan.
Menurutnya, meski ada kekurangan, City tetap menunjukkan hal positif terutama pada babak pertama ketika mampu mendominasi dan mencetak lima gol. Guardiola menilai kemenangan ini pada akhirnya ditentukan oleh karakter, ketangguhan, dan cara bertahan di momen-momen kritis.
Analisis: Kemampuan Menyerang Bukan Lagi Jaminan
City tetap menjadi tim dengan lini depan paling mematikan di liga. Namun jika pertahanan terus bocor seperti ini, perburuan gelar bisa berubah menjadi beban berat di paruh kedua musim. Arsenal dan tim-tim pesaing lain jelas tak akan melewatkan peluang memanfaatkan inkonsistensi City.
Dengan jadwal padat yang menanti, stabilitas pertahanan bisa menjadi faktor penentu apakah City mampu mempertahankan tekanan di papan atas atau justru terseret oleh masalah yang sama seperti di Craven Cottage.