Menperin Tetap Dorong Insentif, Meskipun Ditolak Airlangga
Insentif untuk industri otomotif tengah menjadi polemik. Sebab para menteri Presiden Prabowo Subianto berbeda pendapat.
Terkini Kementerian Perindustrian (Kemenperin), memberikan kabar terbaru mengenai bantuan tersebut buat periode 2026.
“Sektor ini merupakan sektor yang sangat penting, terlalu penting untuk kita abaikan, tidak mungkin kita abaikan,” ungkap Agus Gumiwang Kartasasmita, Menteri Perindustrian (Menperin) di Antara, Selasa (02/12).
Menurut Agus, keberlangsungan industri otomotif dinilai sangat penting. Mengingat bantuan tersebut memiliki dampak berkelanjutan yang besar.

Oleh sebab itu membutuhkan stimulus pada periode 2026. Apalagi setelah mengalami kontraksi atau penurunan.
“Forwad, backward linkage yang luar biasa, penyerapan tenaga kerjanya juga luar biasa besar, nilai tambah buat ekonomi juga luar biasa besar,” lanjut Agus.
Agus pun menegaskan bahwa, Kemenperin akan terus berusaha mengusulkan insentif atau stimulus pemerintah untuk sektor otomotif.
Lebih jauh Agus menerangkan, insentif yang disiapkan mencakup sisi permintaan (deman). Kemudian menyasar persediaan atau supply.
“Merupakan tanggung jawab kami, hal yang salah kalau kami tidak perjuangkan,” tegas Agus.
Alasan Airlangga Tolak Usulan Insentif
Sebagai pengingat Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian telah memastikan kalau pemerintah tidak ingin memberikan insentif di tahun depan.
Sebab ada beberapa alasan mengapa mereka enggan mengucurkan bantuan, kepada para pabrikan mobil maupun motor di Tanah Air.
“Insentif sudah diberikan sepanjang dua tahun untuk mendirikan pabrik dan hasilnya sudah nyata,” kata Airlangga.
Airlangga menyatakan, para produsen mobil yang masuk melalui skema insentif impor EV disebut sudah mulai melakukan perakitan secara lokal.
Hal itu ternyata telah membawa dampak positif. Seperti hadirnya produk-produk dengan banderol kompetitif.
“Kalau kita lihat tahun ini harganya relatif yang di bawah Rp 300 juta sudah banyak,” Airlangga Hartarto menambahkan.
Pembantu Presiden Prabowo Subianto itu mengungkapkan, pemerintah telah mengalokasikan insentif dengan anggaran cukup besar selama dua tahun terakhir.

Angkanya mencapai Rp 7 triliun hanya untuk sektor otomotif. Ia menilai jumlah tersebut sudah lebih dari cukup.
Dengan progress yang dianggap memadai, pemerintah kini ingin mengalihkan fokus pada pembuatan fasilitas produksi nasional.
Rencana di atas, disinyalir merupakan wacana pemerintah untuk menghasilkan mobil maupun motor nasional.