Investor Besar Ramai-ramai Lepas Saham Nvidia, Khawatir "AI Bubble"?
Banyak perusahaan teknologi berbondong-bondong mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI).
Di saat yang bersamaan, valuasi dan harga saham perusahaan pembuat chip AI, seperti Nvidia, juga melonjak tinggi.
Sebab, berbagai perusahaan AI tersebut memang penting untuk pengembangan teknologi AI, dan tak sedikit investor yang mengucurkan uangnya ke perusahaan semacam ini.
Nah, belakangan, timbul kekhawatiran mengenai adanya fenomena "AI Bubble" di industri teknologi.
Istilah ini merujuk pada kondisi ketika valuasi perusahaan-perusahaan terkait AI meningkat terlalu cepat dan terlalu tinggi dibandingkan fundamental bisnisnya.
Ini menjadi pedang "dua sisi", lantaran peningkatan valuasi yang terlalu cepat bisa dibayang-bayangi risiko penurunan drastis, terutama jika ekspektasi pasar melemah.
SoftBank lepas saham Nvidia
Kekhawatiran mengenai potensi AI Bubble semakin menguat setelah salah satu investor besar Nvidia, SoftBank, melepas seluruh kepemilikan sahamnya di perusahaan yang dipimpin Jensen Huang tersebut.
Berdasarkan dokumen keuangan terbaru SoftBank, perusahaan Jepang ini menjual seluruh saham Nvidia senilai sekitar 5,8 miliar dollar AS (sekitar Rp 96,5 triliun).
CEO SoftBank Group Masayoshi Son.
Pelepasan saham Nvidia ini dilakukan di tengah ekspansi agresif SoftBank ke sektor infrastruktur AI, termasuk komitmen investasi besar pada OpenAI, Intel, dan berbagai proyek pusat data di seluruh dunia.
Beberapa pengamat menilai langkah SoftBank ini dapat memperkuat kekhawatiran pasar mengenai potensi AI Bubble. Dalam kondisi seperti itu, pasar bisa khawatir valuasi Nvidia sudah mendekati titik jenuh dan tidak akan naik setinggi sebelumnya, terutama ketika salah satu investornya yang berpengaruh memilih keluar.
Meski demikian, sejumlah analis menilai langkah SoftBank ini tidak berkaitan dengan ekspektasi negatif terhadap kinerja Nvidia.
Mereka menilai pelepasan saham ini lebih mencerminkan kebutuhan SoftBank untuk memperkuat likuiditas di berbagai sektor.
Adapun penjualan saham Nvidia ini dapat dipandang sebagai langkah cepat untuk mengonversi keuntungan besar dari Nvidia menjadi modal bagi proyek dan investasi SoftBank lainnya.
Perusahaan lain lepas saham Nvidia
Selain SoftBank, perusahaan investasi gabungan (hedge fund) milik miliarder teknologi Peter Thiel, yaitu Thiel Macro, juga belakangan melepas sebagian saham Nvidia.
Berdasarkan beberapa laporan, total saham Nvidia yang dijual Thiel Macro berkisar 537.000 lembar saham, yang diyakini bernilai kurang lebih 100 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun.
CEO Nvidia, Jensen Huang memamerkan chip AI Blackwell buatan perusahaannya.
Di samping Thiel Macro, beberapa perusahaan hedge fund lainnya juga mengurangi kepemilikan mereka di Nvidia.
Dua di antaranya adalah Bridgewater Associates yang mengurangi saham Nvidia hingga dua pertiga dari sebelumnya (menjadi 2,5 juta lembar saham), serta Coatue Management yang mengurangi kepemilikan sekitar 14,1 persen menjadi 9,9 juta lembar saham.
Selain Nvidia, sejumlah hedge fund juga memangkas kepemilikan pada saham-saham perusahaan teknologi besar yang berkaitan dengan AI.
Penjualan saham ini banyak berasal dari kelompok tujuh perusahaan teknologi dengan valuasi terbesar di dunia, atau yang biasa disebut "Magnificent Seven".
Ketujuh perusahaan tersebut adalah Apple, Microsoft, Alphabet, Amazon, Meta, Nvidia, dan Tesla.
Dampak bagi Nvidia dan Pasar AI
Kendati aksi jual saham tersebut dapat memperkuat kekhawatiran pasar mengenai potensi AI Bubble, analis menilai tidak ada indikasi bahwa para investor besar memiliki informasi negatif terkait performa Nvidia.
Saat ini, chip GPU Nvidia masih menjadi komponen utama di pusat data dan layanan model AI berskala besar, sehingga perusahaan ini tetap dianggap sebagai indikator utama permintaan AI global.
Namun aksi jual saham dari SoftBank dan perusahaan hedge fund di atas menunjukkan bahwa sebagian investor besar mulai lebih berhati-hati terhadap lonjakan valuasi emiten-emiten AI, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Reuters, Jumat (28/11/2025).
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang