Bagaimana Teknologi Monitoring Meningkatkan Keselamatan Berlayar di Perairan Banten?

Ilustrasi kapal nelayan berangkat melaut
Ilustrasi kapal nelayan berangkat melaut

 Upaya menjaga keselamatan pelayaran di Indonesia kini semakin menuntut pemanfaatan teknologi monitoring yang lebih modern dan terintegrasi. Hal ini terlihat dari langkah PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Regional 2 Banten yang kembali menegaskan komitmennya dalam mewujudkan ekosistem kerja maritim yang aman dan tertib. 

Dukungan terhadap kegiatan Public Audience Monitoring dan Evaluasi Keselamatan Berlayar yang digelar Direktorat Jenderal Perhubungan Laut menjadi bukti konsistensi tersebut.

Acara yang berlangsung pada 19 November 2025 di Cilegon ini tidak hanya berbentuk diskusi dan penyuluhan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat budaya keselamatan maritim di era digital.

Monitoring dan evaluasi keselamatan pelayaran pada dasarnya sangat berkaitan dengan pemanfaatan sistem pengawasan, digitalisasi data, dan peningkatan awareness berbasis informasi. Dalam konteks ini, Pelindo Banten memainkan peran penting sebagai pengelola wilayah pelabuhan yang menjadi simpul strategis aktivitas maritim.

General Manager Pelindo Regional 2 Banten, Benny Ariadi, menegaskan bahwa keselamatan tidak bisa dinegosiasikan. Menurutnya, dukungan Pelindo terhadap kampanye keselamatan pelayaran merupakan bagian dari visi perusahaan dalam membangun budaya K3 yang kuat. 

Dalam ekosistem pelabuhan modern, budaya K3 biasanya diperkuat melalui pemantauan aktivitas kapal, standar operasional berbasis data, hingga integrasi sistem keselamatan yang memungkinkan deteksi dini potensi risiko.

“Keselamatan adalah prioritas utama yang tidak dapat ditawar. Kami di Pelindo Regional 2 Banten berkomitmen penuh untuk mendukung regulator dalam menciptakan lingkungan kerja maritim yang aman (zero accident),” ujar Benny Ariadi dalam keterangan resminya, dikutip Rabu, 26 November 2025.

Selain aspek monitoring, acara ini juga bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat maritim tentang regulasi keselamatan. Edukasi tetap menjadi fondasi penting, terutama untuk memastikan teknologi yang digunakan benar-benar mendukung perilaku aman di lapangan. Melalui sesi diskusi dan penyuluhan, peserta mendapatkan pemahaman mengenai standar keselamatan yang harus dipenuhi sebelum, selama, dan setelah berlayar.

Dokumen legalitas seperti Pas Kecil dan Buku Pelaut Merah yang diberikan kepada nelayan juga memperkuat kepatuhan mereka terhadap aturan, yang pada akhirnya menjadi bagian dari ekosistem keselamatan yang lebih terawasi dan terstruktur.

Partisipasi Pelindo dalam kegiatan ini mendapatkan apresiasi berupa Piagam Penghargaan dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. 

Dalam konteks lebih luas, teknologi monitoring di sektor maritim kini menjadi elemen penting dalam upaya mewujudkan zero accident. Sistem pemantauan pergerakan kapal, pengelolaan data cuaca, manajemen risiko berbasis digital, serta platform informasi keselamatan yang terintegrasi dapat meningkatkan kesadaran, akurasi data, dan respons cepat saat terjadi situasi darurat. 

Meski informasi teknis mendalam tidak dijelaskan dalam kegiatan tersebut, arah pengembangan keselamatan maritim jelas bergerak menuju pemanfaatan teknologi yang semakin masif.

Dengan semakin kompleksnya aktivitas pelayaran di Banten, mulai dari lalu lintas kapal niaga hingga aktivitas nelayan, kebutuhan terhadap teknologi monitoring tentu harus ditingkatkan.

Kombinasi antara teknologi, tata kelola yang baik, dan awareness masyarakat menjadi fondasi penting untuk menciptakan perairan yang lebih aman.