Bagaimana Teknologi Monitoring Membantu Cegah Sumur Warga Mengering?

Ilustrasi air minum
Ilustrasi air minum

 Isu pemanfaatan air tanah untuk industri air minum dalam kemasan (AMDK) kembali mendapat sorotan, terutama terkait dampaknya terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Para ahli hidrogeologi menegaskan bahwa perusahaan AMDK tidak bisa sembarangan mengambil air tanah tanpa perhitungan ilmiah yang ketat. Teknologi monitoring dan kajian hidrogeologi menjadi elemen penting untuk memastikan aktivitas industri tidak mengganggu pasokan air warga.

Ahli hidrogeologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Heru Hendrayana, menjelaskan bahwa riset untuk menentukan titik pengambilan air bukan pekerjaan sederhana. Prosesnya membutuhkan biaya besar dan harus berbasis data ilmiah agar keberlanjutannya terjamin. Menurutnya, perusahaan AMDK juga cenderung memilih wilayah dengan sistem akuifer vulkanik, yaitu lapisan batuan berpori hasil aktivitas gunung api muda yang mampu menyimpan air dalam jumlah besar.

"Kalau pengelolaan air tanah tidak sesuai dengan kapasitas imbuhannya, dampaknya bisa serius. Sumur warga bisa menurun debitnya, bahkan kering di musim kemarau," kata Heru dalam keterangan resminya, dikutip Jumat 21 November 2025.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam diskusi ilmiah di Kampus ITB, Bandung, yang membahas hubungan antara mata air pegunungan, industri, dan masyarakat. Heru menekankan bahwa penggunaan air dari akuifer vulkanik tidak bisa disamakan dengan pengambilan air dangkal atau sumur bor biasa karena karakteristiknya sangat berbeda.

Dosen hidrogeologi ITB, Prof. Lilik Eko Widodo, menambahkan bahwa setiap titik pengambilan air industri harus melalui kajian kuantitatif, izin resmi, serta perhitungan ilmiah yang memastikan tidak ada gangguan pada sistem imbuhan. “Yang penting bukan sekadar mengambil air, tapi memastikan sistemnya tetap berfungsi,” ujarnya.

Dalam konteks teknologi, pernyataan para ahli ini menegaskan pentingnya monitoring real-time dalam industri AMDK. Sistem sensor debit air, pemantauan tekanan akuifer, hingga model hidrologi berbasis data kini menjadi alat wajib untuk menjaga keseimbangan sistem air tanah. Teknologi semacam ini membantu memastikan bahwa volume air yang diambil tidak melebihi kemampuan akuifer untuk pulih.

Peneliti Pusat Sumber Daya Geologi BRIN, Ananta Rangga, mengatakan bahwa setiap akuifer memiliki karakteristik berbeda tergantung kondisi geologinya. Karena itu, pemantauan jangka panjang sangat dibutuhkan. Ia menilai kolaborasi pemerintah, peneliti, dan industri menjadi kunci menjaga keseimbangan air di daerah imbuhan. "Tapi selama perusahaan mengikuti hasil riset dan izin resmi, sistemnya bisa tetap berkelanjutan," ujarnya.

Selain aspek teknis, pengawasan lapangan juga terus dilakukan. Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan DLH Jawa Barat, Resmiani, menyebut sebagian besar perusahaan AMDK di provinsi tersebut telah menunjukkan kepatuhan tinggi terhadap regulasi. Banyak perusahaan juga sudah memiliki sumur resapan, area hijau, serta program konservasi sebagai kompensasi atas pemanfaatan air tanah.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Kementerian ESDM, Agus Cahyono Adi, menambahkan bahwa pemerintah mewajibkan setiap badan usaha dengan sumur dalam untuk melakukan konservasi daerah imbuhan. Program ini meliputi pembangunan sumur resapan hingga penanaman pohon. "Kami mewajibkan setiap perusahaan untuk ikut menjaga daerah imbuhan agar keseimbangan air tetap terjaga," ujarnya.

Secara keseluruhan, berbagai penjelasan tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan air tanah bukan hanya soal regulasi, tetapi juga soal bagaimana teknologi dimanfaatkan untuk menjaga keseimbangan alam. Dengan pemantauan yang tepat dan kepatuhan industri terhadap kajian ilmiah, risiko sumur warga mengering dapat diminimalkan, sekaligus memastikan sumber air tetap lestari untuk jangka panjang.