Statistik Bongkar Fakta: MU Era Amorim Belum Lebih Baik dari Zaman Ten Hag

Pemain Manchester United, Bryan Mbeumo
Pemain Manchester United, Bryan Mbeumo

 Sudah lebih dari setahun sejak Manchester United mengambil keputusan besar: memecat Erik ten Hag dan menunjuk Ruben Amorim sebagai penerusnya. Namun pertanyaan yang terus bergema kini semakin relevan: apakah Setan Merah benar-benar membaik di bawah Amorim?

Faktanya, perjalanan MU bersama pelatih muda Portugal itu belum sepenuhnya meyakinkan. Ketika Ten Hag dipecat, United terpuruk setelah hanya meraih 11 poin dari sembilan laga, duduk di peringkat ke-14, dan manajemen kehilangan kepercayaan bahwa sang pelatih mampu membalikkan keadaan. Amorim datang membawa harapan baru, tetapi musim lalu justru berakhir lebih buruk: MU finis di peringkat ke-15, sementara poin per laga turun dari 1,2 menjadi 1,0. Selisih gol juga anjlok dari minus-0,3 menjadi minus-0,4.

Ironisnya, performa yang lebih buruk dibanding periode yang membuat manajemen memecat Ten Hag tidak membuat Amorim tersingkir. Sebaliknya, ia dipertahankan dengan anggapan bahwa proyek jangka panjangnya perlu waktu. Dan sempat ada tanda-tanda perbaikan: MU menjalani lima laga tak terkalahkan pada Oktober–November musim ini.

Namun kekalahan 0-1 dari Everton di Old Trafford, padahal bermain melawan 10 pemain selama lebih dari 75 menit, membuat semua optimisme itu kembali dipertanyakan. Melalui 12 laga Premier League musim ini, United hanya duduk di posisi ke-10 bersama tiga tim lain, dan tren pengembangan permainan masih jauh dari stabil.

Manajer Manchester United, Ruben Amorim

Apa yang berubah di bawah Amorim?

Secara formasi, Amorim teguh dengan pakem 3-4-3 atau 3-4-2-1. Ia pernah mengatakan bahwa filosofinya tidak akan berubah, dan jika klub menginginkan pendekatan berbeda, maka yang harus berubah adalah orangnya, bukan idenya. Meski begitu, ada pergeseran mencolok dalam cara MU bermain musim ini.

Pada musim pertamanya, United sangat lambat dan tidak efektif dalam penguasaan bola. Mereka membangun serangan dengan kecepatan paling rendah kedua di liga dan sering hanya memutar bola di area sendiri tanpa progresi. Kombinasi bermain lambat tanpa dominasi wilayah membuat MU mendekati zona "paling tidak kompetitif", berdampingan dengan tim-tim kandidat degradasi.

Musim ini, situasinya sedikit berubah. MU masih menguasai wilayah yang sama, tetapi kini melakukannya dengan tempo lebih cepat. Dampaknya terlihat pada data: poin per laga naik 0,5, selisih gol per laga membaik 0,4. Bila dirata-rata dalam satu musim penuh, MU bisa meraih tambahan sekitar 19 poin dibanding musim lalu.

Namun ketika melihat lebih dalam, gambarnya tidak sesederhana itu. Adjusted goal differential – kombinasi expected goals (xG) dan gol aktual memang meningkat, dari minus-0,16 menjadi plus-0,20 musim ini. Serangan MU juga lebih hidup, dengan angka adjusted goals naik menjadi 1,67 per laga. Tapi pertahanan tak banyak membaik; kebobolan berada di angka 1,46 per laga, sedikit lebih buruk dari musim lalu.

Kenaikan produktivitas ternyata berkaitan erat dengan satu faktor besar: pergantian pemain depan. Bryan Mbeumo, Matheus Cunha, dan Benjamin Sesko memberi warna baru yang lebih segar dan agresif. Banyak peningkatan MU lebih disebabkan oleh perubahan personel dibanding perubahan taktik semata.

Meski begitu, Amorim memang melakukan penyesuaian yang terlihat jelas: MU jauh lebih sering memainkan bola panjang dalam situasi tendangan gawang. Dua pertiga goal kick musim ini diarahkan jauh, naik signifikan dibanding 45 persen musim lalu. Pilihan strategis ini selaras dengan upaya meningkatkan tempo dan mengurangi risiko membangun serangan dari belakang.

Namun muncul pertanyaan besar: apakah peningkatan ini bisa bertahan? MU diuntungkan sejumlah situasi yang sulit terulang, seperti bermain melawan 10 pemain pada dua laga berbeda dan meraih tiga penalti tanpa sekali pun dihukum penalti lawan. Ketika penalti dihapus dari perhitungan, peningkatan adjusted goal differential merosot tajam menjadi 0,04 – hampir identik dengan angka saat Ten Hag dipecat.

Selain itu, skuad MU justru menjadi lebih tua musim ini. Rata-rata usia menit bermain naik dari 25,5 menjadi 26,5 tahun. Kombinasi Casemiro, Bruno Fernandes, Mbeumo, dan Cunha menunjukkan bahwa tim bergerak menuju model "siap menang sekarang", tetapi performa yang dihasilkan belum mencerminkan tim penantang.

Jadwal berat pun menanti. MU belum bertemu Arsenal, City, Chelsea, atau Liverpool hingga pertengahan Januari. Ketika rangkaian itu tiba, level sebenarnya akan lebih kentara.

Amorim memang membawa MU ke fase yang lebih stabil dibanding kekacauan musim lalu. Mereka tidak lagi terlihat seperti tim yang runtuh setiap akhir pekan. Namun di sisi lain, United juga belum menunjukkan tanda-tanda kembali menjadi kekuatan besar Liga Inggris.

Di tangan Amorim, Manchester United kini berada di posisi yang jarang mereka tempati: tidak buruk, tidak hebat. Hanya rata-rata untuk klub sebesar MU, itu mungkin justru masalah terbesar.