Tren Perjalanan 2026: Pegunungan Dolomites Diprediksi Bakal Jadi Primadona

Pegunungan Dolomites
Pegunungan Dolomites

 Industri pariwisata global memasuki fase baru dengan perubahan signifikan dalam motivasi dan cara orang bepergian. Wisatawan Indonesia pun menunjukkan pola yang sejalan dengan tren internasional. 

Tahun 2026 diproyeksikan menjadi momentum penting, di mana perjalanan tak lagi hanya soal mengunjungi destinasi, tetapi tentang pencarian makna, pemulihan diri, dan pengalaman yang lebih personal. Scroll lebih lanjut yuk!

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat empat pergeseran besar dalam preferensi wisatawan Indonesia. Pertama, pengalaman autentik semakin menjadi prioritas, mencakup wisata kuliner, seni, budaya, hingga wellness retreat yang kini mengalami peningkatan permintaan. 

Kedua, grup tour kembali populer, terutama untuk rute Eropa, Korea, China, dan Rusia yang dianggap memberikan kenyamanan dan efisiensi perjalanan. 

Ketiga, cruise travel menunjukkan peningkatan signifikan, diminati keluarga dan pasangan yang menginginkan konsep slow travel. 

Keempat, premium travel semakin tumbuh, didukung perencanaan matang, pemanfaatan reward bank, cicilan jangka panjang, hingga travel voucher.

Menurut Ricky Hilton, GM Communication & CRM Golden Rama, dinamika ini menandai wisatawan Indonesia yang semakin matang dan terinformasi. 

"Minat terhadap winter travel, cruise, hingga multi-country itinerary menunjukkan bahwa traveler Indonesia semakin terinformasi dan semakin ingin perjalanan yang terkurasi, bukan sekadar destinasi, tetapi pengalaman yang bermakna,” ujarnya.

Temuan ini sejalan dengan Skyscanner Travel Trends 2026, yang mencatat bahwa 84% wisatawan global berencana bepergian sama atau lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Namun alasan mereka berubah: perjalanan kini menjadi sarana mencari makna, merawat diri, dan menyelami budaya lokal.

Di antara berbagai tren yang muncul, fenomena “Altitude Shift” menjadi yang paling menonjol. Sebanyak 76% traveler global tertarik menjadikan pegunungan sebagai bentuk retreat baru—bukan sekadar tempat ski, tetapi ruang untuk ketenangan, udara bersih, dan reset mental.

Salah satu destinasi yang diproyeksikan menjadi bintang baru adalah Pegunungan Dolomites di Italia Utara, kawasan alpine yang berstatus UNESCO World Heritage Site. EXTRA 2025 turut mengangkat Dolomites sebagai inspirasi perjalanan, menyoroti lembah-lembah dramatis, tebing batu kapur yang megah, serta desa-desa alpine yang menawarkan suasana damai. 

Dolomites kini dipandang sebagai ikon slow-mountain travel, menyediakan jalur trekking ringan, wellness lodges, hidangan lokal Ladin, dan pemandangan golden hour yang memukau. Banyak wisatawan menilai Dolomites sebagai contoh ideal bagaimana perjalanan ke pegunungan dapat menjadi sarana kembali menemukan keseimbangan diri.

Selain Dolomites, inspirasi slow travel lain juga mencuat, termasuk rail journeys lintas negara, eksplorasi desa-desa pedesaan Eropa, hingga rute Asia Timur yang menghadirkan ritme perjalanan lebih tenang dan mindful. 

Di Jakarta, EXTRA kembali digelar di Lippo Mall Puri dan mencatat tingginya minat terhadap perjalanan long-haul, rute musim dingin, serta multi-country tours. Pengunjung dapat menikmati berbagai penawaran eksklusif, termasuk curated group tours ke China mulai Rp 8,8 juta, Korea mulai Rp 6,8 juta, Eropa dan Rusia mulai Rp 21,9 juta dan Rp 19,8 juta serta paket spesial ke Dubai dan Hong Kong. Ada juga diskon group tour hingga Rp 20 juta, promo tiket perjalanan, paket individual, hingga promo Rp 500 ribu + Rp 500 ribu, dan beragam rute musim dingin.

Dengan seluruh perkembangan ini, tahun 2026 diyakini akan menjadi era baru ketika wisatawan memilih perjalanan yang lebih perlahan, lebih bermakna, dan lebih selaras dengan diri sendiri.