Pernah Alami Satu dari Enam Tanda ini di Kulit? Hati-hati Pertanda Diabetes

Ilustrasi diabetes
Ilustrasi diabetes

 Diabetes kini menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius. Berdasarkan laporan International Diabetic Federation (IDF) bertajuk IDF Diabetic Atlas 11th Edition, mencatat 589 juta orang berusia 20-79 tahun di seluruh dunia menderita diabetes pada 2024.

IDF memperkirakan penderita diabetes pada usia yang sama di Indonesia mencapai 20,4 juta, atau 7,4 persen dari jumlah penduduk. Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak kelima.

Pada 2050, IDF memperkirakan jumlah orang dewasa yang menderita penyakit ini akan meningkat menjadi 853 juta orang atau 13 persen dari populasi global. Sedangkan jumlah penderita diabetes di Indonesia pada 2050 diprediksi meningkat menjadi 28,6 juta orang. 

Berbicara mengenai diabetes, penyakit ini sering muncul tanpa gejala mencolok sampai akhirnya komplikasi berbicara lebih keras daripada keluhan sehari-hari. Lantaran tanda-tanda awalnya yang jarang disadari, banyak orang tidak menyadari momen penting ketika pencegahan dan penanganan dini sebenarnya bisa membuat perbedaan besar.

Menariknya, diabetes juga bisa terlihat melalui perubahan pada kulit. Bahkan sebelum tes darah menunjukkan apa pun, perubahan pada tekstur, warna, atau sensitivitas pada kulit dapat menjadi petunjuk adanya resistensi insulin atau kadar gula darah yang tinggi. Itulah sebabnya penting untuk memperhatikan tanda-tanda berikut dan tidak meremehkannya. Apa saja? Berikut ini rangkumannya seperti dilansir dari laman Times of India Senin 17 November 2025

1. Bercak coklat di tulang kering (diabetic dermopathy)

Bercak kecil berwarna coklat di tulang kering cukup umum pada pasien diabetes dan sering dianggap sebagai “flek usia” yang tidak berbahaya. Studi tahun 2015 di Indian Journal of Dermatology menunjukkan bahwa diabetic dermopathy sering berkaitan dengan diabetes yang sudah berlangsung lama dan perubahan pada pembuluh darah kecil. Lesinya bisa terasa agak bersisik di awal, kemudian menjadi cekung dangkal, dan biasanya memudar setelah kadar gula darah lebih terkontrol selama beberapa bulan.

2. Area kulit gelap dan beludru (acanthosis nigricans)

Acanthosis nigricans, yaitu area kulit yang menebal, gelap, dan tampak seperti beludru di leher, ketiak, atau selangkangan, merupakan tanda klinis yang jelas dari resistensi insulin. Studi tahun 2019 di Indian Journal of Dermatology melaporkan adanya hubungan kuat antara acanthosis dan tingginya kadar insulin puasa maupun gangguan metabolik. Meski tidak berbahaya, kemunculan bercak ini seharusnya menjadi alarm untuk melakukan skrining pradiabetes atau diabetes tipe 2, serta meninjau ulang pola hidup atau pengobatan untuk mengatasi resistensi insulin.

3. Kulit menebal dan mengeras (scleredema diabeticorum)

Scleredema diabeticorum menyebabkan penebalan kulit yang keras dan perlahan pada area punggung bagian atas dan bahu. Kondisi ini bisa muncul bahkan pada mereka yang kadar gulanya terkontrol. Laporan kasus dalam Journal of Family Medicine and Primary Care menggambarkan perubahan langka ini sebagai bagian dari penyakit metabolik kronis, di mana kulit mengencang selama beberapa bulan dan kadang membatasi gerakan bahu.

4. Luka yang sulit sembuh (diabetic foot ulcers)

Kadar gula darah tinggi yang terjadi terus-menerus dapat merusak saraf dan pembuluh darah, menyebabkan mati rasa dan gangguan sirkulasi yang membuat luka kecil pun sulit sembuh. National Library of Medicine menjelaskan bahwa neuropati, penyakit arteri perifer, dan tekanan berulang pada kaki dapat memicu terbentuknya ulkus kaki diabetik. Luka ini dapat makin dalam, mudah terinfeksi, dan pada kasus berat membutuhkan tindakan operasi.

5. Bintik-bintik gatal yang muncul tiba-tiba (eruptive xanthomas)

Kumpulan benjolan kecil kekuningan yang terasa gatal atau nyeri, dikenal sebagai eruptive xanthomas, merupakan tanda penting adanya kadar trigliserida yang sangat tinggi, kondisi yang sering muncul bersamaan dengan diabetes yang tidak terkontrol. Meta-analisis dalam jurnal Cureus menggambarkan bahwa lesi ini biasanya muncul di bokong, paha, atau siku, dan akan menghilang ketika kadar trigliserida dan gula darah kembali stabil.

6. Plak kekuningan di kelopak mata dan skin tag (xanthelasma & acrochordons)

Xanthelasma (plak kekuningan di kelopak mata) dan skin tag (daging tumbuh kecil) sama-sama berkaitan dengan gangguan metabolik. Ulasan tahun 2022 di National Library of Medicine mengaitkan xanthelasma dengan dislipidemia dan peningkatan risiko penyakit jantung, sementara skin tag sering ditemukan pada orang dengan resistensi insulin atau sindrom metabolik. Meski tidak berbahaya, keduanya merupakan sinyal klinis yang patut ditindaklanjuti lewat pemeriksaan kadar lemak, gula, dan risiko kardiometabolik secara keseluruhan.

Perubahan kulit yang tampak sepele sering kali tidak mendapat perhatian, padahal bisa menjadi tanda pertama tubuh bahwa diabetes mulai berkembang. Mengenali gejala ini lebih awal dan segera mengambil langkah penanganan dapat membantu mempercepat diagnosis, meningkatkan kontrol gula darah, dan mengurangi risiko komplikasi jangka panjang.