Mengenal Skillcations, Tren Work-Life Balance yang Bakal Booming di 2026

Ilustrasi work from anywhere (WFA).
Ilustrasi work from anywhere (WFA).

 Bagi banyak orang, liburan biasanya identik dengan bersantai di tepi kolam, tidur lebih lama, atau menonton serial favorit. Sayangnya, tak jarang liburan berakhir dengan tubuh dan pikiran yang lebih lelah saat kembali bekerja. 

Tren liburan baru yang disebut “skillcations” mulai mengubah cara orang melihat waktu libur, bukan hanya untuk bersantai, tetapi juga kesempatan menambah kemampuan dan pengalaman baru.

Skillcations menawarkan sensasi berbeda. Alih-alih kembali dari liburan dengan perasaan letih dan malas, banyak pekerja justru merasa lebih segar, termotivasi, dan siap menghadapi tantangan di kantor. 

Konsep ini semakin populer, terutama di kalangan pekerja jarak jauh dan profesional yang ingin mengoptimalkan waktu luang mereka.

Apa Itu Skillcations?

Ilustrasi Work From Anywhere

Menurut Lana Peters, Chief Revenue & Experience Officer di Klaar, skillcations adalah liburan di mana karyawan menggunakan hak cuti berbayar (PTO) untuk mengasah kemampuan yang sudah dimiliki atau mempelajari keterampilan baru demi kemajuan karier.

Skillcations booming karena memadukan pertumbuhan pribadi dan budaya produktivitas. Bagi pekerja berprestasi, terutama remote worker, belajar skill baru saat liburan seperti mengoptimalkan waktu senggang. Tren ini menggabungkan kesenangan liburan dengan momen pivot profesional,” kata David Dominguez, Vice President of People di Smallpdf, sebagaimana dikutip dari Fortune, Minggu, 16 November 2025.

Statistik menunjukkan 39 persen wisatawan Amerika menyukai liburan yang aktif, seperti ekspedisi fotografi, retret yoga, atau kursus bahasa di luar negeri. Berbeda dari liburan tradisional yang hanya fokus pada istirahat, skillcations menekankan pertumbuhan sebagai bentuk penyegaran, menggabungkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan pengembangan skill sehingga pulang kerja terasa lebih bermakna dan termotivasi.

Kelebihan dan Kekurangan Skillcations

Dr. Marais Bester, konsultan senior di SHL, menekankan bahwa belajar adalah kunci menyegarkan diri. “Sering kita mengira istirahat berarti melakukan apa pun tanpa aktivitas, tapi psikologi menunjukkan pembaruan sering datang dari melakukan hal berbeda yang melibatkan pikiran dan tubuh,” jelasnya.

Bester menambahkan, ketika mempelajari skill baru atau menantang diri di lingkungan baru, kita mengalami mastery experience. 

“Momen-momen ini mengingatkan kita bahwa kita mampu, adaptif, dan terus berkembang. Rasa kemajuan ini memberi energi dan memupuk motivasi jangka panjang,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Laura Lindsay, pakar tren perjalanan global di Skyscanner, percaya skillcations justru melawan overworking dan burnout. “Liburan berbasis skill membuat orang kembali segar dan terstimulasi, bukan kelelahan. Banyak traveler belajar skill di luar pekerjaan sehari-hari, misal yang bekerja di advertising mencoba kelas memasak atau eksplorasi kuliner lokal, bekerja di pertanian, dan sebagainya.”

Lindsay menyarankan agar skillcations tetap personal dan tidak menjadi pekerjaan. “2026 akan menjadi era ‘made-for-me’ travel. Apapun skill yang ingin dikembangkan, kecantikan, kuliner, olahraga, literatur, atau seni, tujuannya mengejar passion Anda.”

Namun, Peters mengingatkan bahwa, skillcations memang membantu mempersiapkan langkah karier berikutnya dan menunjukkan ambisi, tetapi organisasi sebaiknya tetap mendorong karyawan menggunakan PTO untuk bersantai. 

“Upskilling sebaiknya bagian dari program pelatihan perusahaan. Karyawan sebaiknya gunakan cuti untuk relaksasi, agar bisa menghadirkan versi terbaik diri mereka di tempat kerja dan mengurangi risiko burnout,” kata dia.