Dari Pesawat ke Roket, Masa Depan Perjalanan Ultra-Cepat Sudah di Depan Mata

NASA's Mars rover Perseverance.
NASA's Mars rover Perseverance.

 Transformasi industri pariwisata di kawasan Asia dan Asia Tenggara kini memasuki babak baru. Tidak lagi hanya dikenal sebagai destinasi eksotis, wilayah ini mulai menjadi magnet utama wisatawan dunia berkat keaslian budaya, keramahan masyarakat, dan inovasi yang terus berkembang.

Hal itu diungkapkan oleh Paul Charles, CEO The PC Agency sekaligus konsultan global di bidang perjalanan dan penerbangan, dalam gelaran TOURISE 2025 di Riyadh, Arab Saudi, pada 11 November 2025.

“Transformasi Asia dan Asia Tenggara benar-benar luar biasa dan positif. Negara-negara yang dulu tertutup kini menjadi destinasi yang paling menarik di dunia,” ujar Paul dalam keterangan resminya, dikutip Kamis, 13 November 2025.

Paul Charles, CEO The PC Agency

Paul Charles, CEO The PC Agency

Menurutnya, keunggulan utama kawasan ini terletak pada freshness, pengalaman baru yang tidak ditemukan di destinasi tradisional seperti Eropa atau Amerika. 

“Orang datang ke sini (Asia) untuk merasakan senyum yang tulus, pelayanan yang hangat, makanan otentik, dan inovasi yang unik. Itulah daya tarik yang tidak bisa digantikan,” tambahnya.

Menyoroti Indonesia, Paul menilai negara ini memiliki potensi pariwisata kelas dunia karena keberagaman dan kekuatan budaya lokal yang autentik. Namun, ia menekankan pentingnya menjaga keaslian tersebut agar tidak hilang oleh arus globalisasi.

“Kunci utama bagi destinasi seperti Indonesia atau Saudi Arabia adalah menjadi autentik. Wisatawan datang untuk mengalami DNA budaya yang sesungguhnya, bukan versi imitasi dari tempat lain,” katanya.

Paul menyebut Bali, Lombok, dan Sumba sebagai contoh daerah yang mampu mempertahankan karakter budaya lokal sambil tetap menarik perhatian wisatawan internasional. “Keindahan Indonesia adalah keindahannya sendiri. Jangan terlalu berubah hanya demi mengikuti tren, karena justru keaslian itu yang dicari wisatawan,” tuturnya.

Menurut Paul, wisata modern tidak lagi hanya soal kemewahan. Wisatawan kini mencari pengalaman emosional yang menggugah, mulai dari festival budaya, spiritualitas, hingga momen yang meninggalkan kesan mendalam. 

“Wisatawan kini mencari pengalaman yang menggugah, festival budaya, atau kejutan yang tak terduga. Hal-hal seperti itulah yang mereka ceritakan kembali setelah pulang dari liburan,” ujarnya.

Ia menambahkan, destinasi Asia kini berhasil menggabungkan unsur kemewahan dengan nilai-nilai budaya dan spiritualitas, menciptakan daya tarik yang berbeda dari pasar Barat.

Paul menilai sinergi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci membangun ekosistem perjalanan kelas dunia.

“Inovasi sering datang dari sektor swasta, sementara pendanaan besar berasal dari pemerintah. Jika keduanya bersinergi, hasilnya akan luar biasa bagi para pelancong,” jelasnya.

Dalam sektor penerbangan, Paul menyoroti inovasi yang dilakukan oleh maskapai global seperti Etihad dengan kabin mewahnya hingga Turkish Airlines yang menghadirkan chef on board.

“Wisatawan kini menganggap keberlanjutan sebagai hal yang wajib, bukan tambahan. Tantangan bagi hotel dan maskapai adalah bagaimana menghadirkan produk ramah lingkungan tanpa terasa dipaksakan,” katanya.

Ia juga menyoroti pertumbuhan pesat wisata Muslim-friendly luxury, terutama di Timur Tengah seperti Saudi Arabia, Dubai, dan Maroko. “Mereka berhasil menyeimbangkan antara pariwisata budaya, spiritualitas, dan hiburan. Itu yang membuat kawasan ini semakin digemari wisatawan Muslim,” ujarnya.

Sebagai penutup, Paul berbicara tentang revolusi besar berikutnya dalam dunia perjalanan. Menurutnya, masa depan industri pariwisata akan bergerak menuju era perjalanan ultra-cepat, bahkan, melibatkan teknologi roket.

“Bayangkan bisa bepergian dari halaman rumah Anda ke destinasi impian hanya dalam setengah jam. Itu bukan fiksi ilmiah lagi, tapi masa depan yang sedang kita dekati,” pungkasnya.