OpenAI Batasi Sora 2, Kini Tak Bisa Bikin Video atau Suara Mirip Artis
- OpenAI resmi membatasi Sora 2, generator video AI miliknya, agar tidak bisa meniru wajah atau suara artis dan selebritas AS.
- Sora kini memiliki sistem opt-in, yang memberi artis kendali penuh apakah wajah atau suara mereka boleh disimulasikan AI.
- Kebijakan baru ini muncul setelah Sora 2 dikritik karena sempat menampilkan video dan suara mirip artis populer tanpa izin, termasuk Bryan Cranston dan sejumlah figur legendaris, seperti Michael Jackson dan Kobe Bryant.
– Perusaahaan kecerdasan buatan (AI) OpenAI, memastikan platform pembuat video AI mereka, Sora kini tak akan menghasilkan video atau suara yang mirip pesohor, aktor, selebritas, hingga penyanyi papan atas di Amerika Serikat (AS).
Hal ini tercantum dalam pernyataan bersama dari OpenAI, serikat pekerja seni hiburan (film, pengisi suara, penyiar radio, kreator digital, artis, dkk) AS SAG-AFTRA, aktor Hollywood Bryan Cranston, dan beberapa agensi talenta yang ada di AS.
Dalam pernyataan ini, OpenAI, berjanji akan membatasi kemampuan versi terbaru dari Sora, yaitu Sora 2 supaya tak menghasilkan video atau suara yang mirip dengan aktor atau sosok populer di AS.
Pembatasan ini termasuk dalam kebijakan untuk memperkuat pembatas atau guardrails ketika Sora 2 bekerja, termasuk memproses hingga menghasilkan sebuah audio atau video.
Hal ini diperkuat dengan kebijakan baru sistem yang bisa memastikan semua seniman, aktor, dan individu populer di AS berhak dan bisa menentukan (opt-in) apakah wajah atau suara mereka ingin disimulasikan menggunakan AI atau tidak.
Adapun kebijakan tersebut selaras dengan prinsip-prinsip dalam No Fakes Act. Ini merupakan rancangan undang-undang (RUU) federal yang bertujuan melindungi publik dan pelaku seni dari replikasi digital dan konten palsu (deepfake) tanpa izin.
“OpenAI berkomitmen untuk melindungi para aktor dari penyalahgunaan suara dan kemiripan mereka," kata CEO OpenAI, Sam Altman dalam pernyataan gabungan yang melibatkan SAG-AFTRA dan berbagai pihak terkait lainnya di atas.
"Kami sejak awal mendukung No Fakes Act dan akan selalu memihak dan berdiri di belakang hak para pelaku seni," imbuh Sam.
Tidak disebutkan apakah pembatasan kemampuan Sora 2 ini hanya berlaku untuk aktor atau pesohor di AS saja atau tidak.
Namun karena pernyataan ini melibatkan SAG-AFTRA dan beberapa agensi artis yang ada di AS, maka ada boleh jadi pembatasan atau guardrails ini hanya berlaku di AS saja, setidaknya secara hukum.
Sambut baik sistem opt-in artis
OpenAI merilis Sora, aplikasi media sosial mirip TikTok yang memungkinkan pengguna membuat video dari AI.
Presiden SAG-AFTRA, Sean Astin menyambut baik kebijakan OpenAI yang membatasi Sora 2 dengan menghadirkan sistem opt-in.
"Banyak aktor yang berisiko mengalami penyalahgunaan besar-besaran akibat teknologi replikasi dan AI," ujar Astin dalam keterangan yang sama.
"Saya senang OpenAI telah berkomitmen menggunakan protokol opt-in, di mana semua artis memiliki kendali penuh apakah mereka ingin wajah atau suaranya digunakan oleh AI atau tidak," tambah Astin.
Astin menambahkan, kebijakan opt-in ini merupakan satu-satunya cara supaya semua konten yang dibuat AI tidak melanggar No Fakes Act dan membuat semua pihak, termasuk artis yang biasa menjadi "korban", aman sentosa.
Dikritik karena hasilkan video dan suara artis
Sebelumya, Sora 2 sempat dikritik pasca peluncurannya pada awal Oktober lalu. Salah satu kritik berasal dari aktor Hollywood yang memerankan "Walter White" di serial TV populer Breaking Bad, Bryan Cranston.
Dalam masa uji coba Sora 2, ia kabarnya mengalami sebuah kasus di mana suara dan wajahnya bisa dihasilkan oleh sistem AI tanpa izin atau kompensasi. Ia juga tak merasa opt-in atau memberikan izin agar suara atau wajahnya bisa dipakai oleh AI.
OpenAI sendiri mengaku bahwa sistem AI di Sora 2, dalam praktiknya, bisa membuat sebuah konten yang tidak disengaja (unintended generation) yang bisa menghasilkan video atau suara mirip artis, meski artis tersebut tak pernahmengizinkannya.
Namun, mereka memastikan pihaknya kini sudah memperbaiki anomali Sora 2 tersebut.
“Saya sangat khawatir bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk semua aktor yang karya dan identitasnya bisa disalahgunakan dengan cara ini," ungkap Bryan dalam keterangan yang sama.
"Saya berterima kasih kepada OpenAI atas kebijakan dan perbaikan pengamanannya, dan berharap semua perusahaan yang terlibat menghormati hak pribadi dan profesional kami untuk mengelola replikasi suara dan wajah kami,” pungkas Bryan.
Sora 2 juga pernah dikritik karena sempat membuat video terkait figur atau sosok populer yang sudah meninggal.
Di antaranya seperti Martin Luther King Jr., Michael Jackson, Elvis Presley, Kobe Bryant, Tupac Shakur, hingga Stephen Hawking, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari MacRumors, Rabu (22/10/2025).
Mengenai hal ini, OpenAI berjanji akan membuat AI video generator mereka tak menghasilkan video atau suara dari figur bersejarah (historical figure) populer yang ada di seluruh dunia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.