Menkeu: Tidak Ada Ruang untuk Ego di Proyek Raksasa
Menteri Keuangan (Menkeu) Arab Saudi Mohammed Al-Jadaan mengaku tetap berkomitmen untuk mengkalibrasi ulang prioritas ekonominya di bawah Visi 2030, di mana menekankan bahwa proyek dan investasi skala besar (giga) akan inilai ulang untuk memastikan nilai jangka panjang, produktivitas, dan keberlanjutan.
Menkeu juga mengatakan bahwa kepemimpinan Kerajaan Arab Saudi telah menegaskan bahwa proyek-proyek raksasa tidak akan dilanjutkan karena ego masing-masing kementerian/lembaga.
"Kita harus sepenuhnya melepaskan program-program raksasa ini dari ego bahwa kita telah memulai implementasi, mempromosikannya. Itu harus dipegang teguh," kata dia, seperti dikutip VIVA dari situs Saudi Gazette, Senin, 20 Oktober 2025.
Menurutnya, jika ada strategi atau proyek raksasa yang tidak masuk akal untuk dilanjutkan, maka dirinya tidak akan ragu untuk mengubah atau menghentikannya.
Ia mengatakan bahwa Dana Investasi Publik dan pemerintah telah melakukan tinjauan mendalam terhadap portofolio mereka untuk menyelaraskan pengeluaran dengan prioritas nasional yang terus berkembang.
"Dewan Dana Investasi Publik telah melakukan tinjauan yang luar biasa terhadap portofolio mereka dan telah menyesuaikan banyak hal. Kami menghabiskan hampir dua tahun untuk melakukan kalibrasi ulang. Kami mempercepat bidang-bidang seperti logistik karena hal ini mendukung sektor pariwisata, industri, dan manufaktur," tegasnya.
Menteri Keuangan Al-Jadaan menekankan bahwa Arab Saudi sedang menggandakan basis industri, pariwisata, dan teknologi.
"Jika Anda melihat angka pariwisata. Kami akan melampaui target 100 juta wisatawan pada tahun 2030," tutur dia.
Terkait teknologi, menkeu mengatakan pemerintah akan fokus pada bidang-bidang spesifik dimana mereka memiliki keunggulan kompetitif alih-alih 'menumpang pada sensasi' kecerdasan buatan (AI).
"Beberapa negara mencoba melakukan segalanya dengan AI. Itu sangat berisiko. Kita perlu selektif tentang bagian mana dari rantai nilai AI yang kita kuasai dan memaksimalkannya. Itulah yang sedang kita lakukan," tegas menkeu.
Mengenai kebijakan fiskal, Al-Jadaan mengatakan strategi utang Arab Saudi masih konservatif. Rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) termasuk yang terendah di antara negara-negara G20.
"Jika kami memilih surplus anggaran, kami bisa melakukannya. Defisit terjadi karena pilihan kebijakan, yaitu meminjam untuk dibelanjakan pada strategi dan program yang menciptakan produktivitas, lapangan kerja, dan peluang bisnis," paparnya.