Punya Gelar Sarjana Belum Cukup, Ternyata Ini yang Paling Menentukan Gaji dan Karier
Bagi banyak fresh graduate, langkah pertama setelah wisuda sering kali terasa seperti petualangan baru yang penuh harapan. Namun, di balik euforia mencari pekerjaan, ada faktor penting yang sering diabaikan: posisi pertama yang kita dapatkan ternyata bisa menentukan jalur karier dan penghasilan selama bertahun-tahun ke depan.
Penelitian terbaru dari Columbia University dan National Bureau of Economic Research mengungkap bahwa pekerjaan pertama seseorang setelah lulus kuliah bukan hanya menentukan pengalaman awal, tapi juga bisa menciptakan kesenjangan penghasilan jangka panjang antara lulusan dari keluarga kaya dan mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah.
Riset yang dilakukan terhadap 80.000 lulusan dari sistem universitas negeri besar ini menunjukkan bahwa kualitas dan waktu memperoleh pekerjaan pertama menjelaskan sebagian besar perbedaan gaji antara lulusan berpenghasilan rendah dan tinggi di lima tahun setelah kelulusan.
Mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu cenderung bekerja di perusahaan dengan bayaran lebih rendah dan menghasilkan sekitar 12 persen lebih sedikit dibandingkan rekan-rekannya. Bahkan setelah memperhitungkan nilai, jurusan, dan kampus asal.
Ilustrasi melamar kerja.
“Yang mengejutkan kami adalah seberapa besar kesenjangan pendapatan antara lulusan berpenghasilan rendah dan tinggi dapat dijelaskan oleh perbedaan dalam transisi pekerjaan pertama itu,” kata Judith Scott-Clayton, penulis utama studi sekaligus profesor di Teachers College Columbia University, sebagaimana dikutip dari Investopedia, Minggu, 19 Oktober 2025.
Temuan ini menyoroti bahwa keputusan di tahun pertama setelah kuliah punya efek yang jauh lebih besar dari yang banyak orang duga. Pekerjaan pertama sering kali menetapkan “titik awal” gaji dan kesempatan karier.
Misalnya, lulusan berpenghasilan rendah memulai di perusahaan yang rata-rata membayar 18 persen lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya. Akibatnya, mereka memiliki akses yang lebih terbatas terhadap pelatihan, kesempatan naik jabatan, dan jaringan profesional yang bisa mendukung karier jangka panjang.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa setiap tambahan US$1.000 atau ekitar Rp16,5 juta pada gaji pertama, berkorelasi dengan peningkatan pendapatan US$700 (sekitar Rp11,5 juta) di lima tahun kemudian.
Namun, lulusan dari keluarga berpenghasilan rendah memulai dengan rata-rata gaji US$37.600 atau ekitar Rp620 juta, sedangkan mereka yang lebih beruntung memulai dengan US$42.700 atau sekitar Rp705 juta, selisih sekitar 12 persen.
“Sangat umum bagi lulusan untuk mengalami periode tanpa pekerjaan, gaji rendah, atau berpindah pekerjaan di tahun-tahun awal. Sebagian dari hal itu memang wajar dalam masa transisi,” ujarnya. “Namun ketika kita melihat perbedaan sistematis berdasarkan latar belakang ekonomi, bahkan di antara lulusan yang sama-sama berprestasi, itu menandakan ada sesuatu yang lebih dalam, apakah itu akses ke jaringan, tekanan finansial, atau kesenjangan informasi.”
Faktor lain yang berpengaruh adalah waktu mencari pekerjaan. Hanya 33 persen lulusan dari keluarga berpenghasilan rendah yang sudah memiliki pekerjaan sebelum lulus, dibandingkan 39 persen dari kalangan berpenghasilan tinggi. Artinya, mereka yang lebih mampu punya keunggulan awal dalam memulai karier.
Penelitian juga menemukan bahwa stabilitas di pekerjaan pertama sangat penting. Lulusan yang bertahan setidaknya dua tahun di tempat kerja pertama mereka rata-rata menghasilkan US$6.800 (sekitar Rp112 juta) lebih banyak di tahun kelima setelah lulus dibandingkan mereka yang sering berpindah.
Scott-Clayton juga menekankan pentingnya perencanaan dini. “Hambatan informasional, struktural, dan finansial memengaruhi transisi pasca-kuliah sama seperti saat kuliah.”
Ia mengutip riset di Inggris yang menunjukkan bahwa lulusan dari keluarga berpenghasilan rendah cenderung melamar pekerjaan lebih lambat daripada mereka yang lebih mampu, yang pada akhirnya memengaruhi hasil karier.
Untuk memperbaiki peluang, Scott-Clayton menyarankan agar mahasiswa mulai mencari informasi dan membangun jaringan sejak dini. Menghubungi dosen, alumni, atau mentor bisa membantu membuka akses ke perusahaan yang lebih baik.
Selain itu, penting untuk tidak hanya melihat gaji awal, tetapi juga peluang pengembangan diri. “Lulusan yang bergabung di perusahaan besar atau yang memberikan pelatihan dan kesempatan berkembang cenderung mengalami pertumbuhan karier yang lebih kuat lima tahun kemudian,” tambahnya.
Terakhir, ia mengingatkan bahwa meski tantangan itu nyata, gelar sarjana masih memberikan keuntungan besar di pasar kerja. “Lulusan perguruan tinggi tetap berada dalam posisi yang sangat baik di pasar tenaga kerja secara keseluruhan, meskipun itu bukan jaminan bahwa semuanya akan mudah,” tukas Scott-Clayton.