Top 10+ Profesi Jadul Ini Bergaji Fantastis, Gelar Sarjana Tak Perlu Lagi?
Di era sekarang, pilihan karier generasi muda mulai bergeser. Tidak semua orang kini mengejar gelar sarjana, melainkan mulai melirik pekerjaan yang lebih praktis dan langsung menghasilkan.
Fenomena ini terlihat jelas dari survei Resume Builder pada Mei 2025 terhadap 1.434 orang muda, di mana dua dari lima generasi Z memilih jalur pekerjaan blue-collar atau "kerah biru", dan, menolak jalur kuliah formal untuk fokus mempelajari keterampilan praktis.
Minat terhadap program vokasi dan kejuruan pun meningkat pesat. Salah satu alasannya sederhana, yakni persepsi bahwa pekerjaan blue-collar bisa memberikan gaji tinggi, sementara biaya kuliah saat ini semakin mahal.
Sebagaimana diketahui, blue-collar jobs adalah pekerjaan di luar kantor, yang biasanya melibatkan kerja manual atau keahlian khusus dalam suatu bidang. “Ini adalah pekerjaan bergaji tinggi dengan prospek baik. Dan mereka tidak memerlukan gelar sarjana,” ungkap Nathan Soto, penulis laporan Resume Genius, sebagaimana dikutip dari USA Today, Rabu, 12 November 2025.
Berikut 10 pekerjaan blue-collar bergaji tinggi beserta kisaran gajinya.
Ilustrasi pekerja konstruksi dalam industri property
1. Teknisi Elevator dan Eskalator
Menginstal dan merawat elevator, eskalator, serta moving walkway di bandara, menjadi yang teratas. Gaji median bisa mencapai US$106.580 atau setara Rp1,78 miliar, yang mana top 10 persennya bisa mencapai US$149.250 atau Rp2,49 miliar. Untuk bekerja sebagai teknisi elevator dan eskalator umumnya hanya memerlukan ijazah SMA atau setara.
2. Pemasang dan Perbaiki Jalur Listrik
Menangani jaringan listrik nasional ada di urutan kedua. Gaji median US$92.560 atau Rp1,55 miliar, top 10 persen US$126.610 atau Rp2,11 miliar. Pekerjaan ini menuntut fisik karena harus memanjat tiang dan menggunakan bucket truck.
3. Mekanik dan Teknisi Avionik Pesawat
Profesi ini tegasnya adalah menjamin keselamatan penumpang transportasi udara. Gaji mediannya US$79.140 atau Rp1,32 miliar, top 10 persen US$120.080 atau Rp2 miliar. Biasanya memerlukan pelatihan pasca-SMA.
4. Pekerja Kereta Api
Bagi yang menyukai kereta, pekerjaan ini cocok untuk Anda. Gaji median menyentuh US$75.680 atau Rp1,26 miliar, top 10 persen mencapai US$100.130 atau Rp1,67 miliar. Pekerjaan ini hanya memerlukan ijazah SMA dan pelatihan di lapangan, serta ketersediaan untuk bekerja dengan jam tak menentu.
5. Insinyur Stasioner dan Operator Boiler
Merawat sistem pemanas, pendingin, dan listrik di gedung besar, menjadi tugas profesi ini. Median gaji mencapai US$75.190 atau Rp1,26 miliar. Umumnya hanya membutuhkan ijazah SMA dengan program magang.
6. Mekanik Mesin Industri
Lalu ada mekanik mesin industri yang tugasnya menjaga kelancaran pabrik. Gaji median mencapai US$63.510 atau Rp1,06 miliar, serta dibutuhkan ijazah SMA dan magang.
7. Tukang Ledeng, Pipefitter, dan Steamfitter
Sebagaimana diketahui, profesi ini menuntut Anda untuk memiliki skill memasang dan memperbaiki sistem air, gas, dan uap. Gaji mediannys bisa tembus US$62.970 atau Rp1,05 miliar. Biasanya hanya membutuhkan ijazah SMA dan magang.
8. Teknisi Turbin Angin
Tugas teknisi turbin angin adalah menginstal dan merawat turbin angin, serta bekerja di ketinggian. Namun, median gaji mencapai US$62.580 atau Rp1,04 miliar. Prospek pekerjaan di masa depan pun kuat, namun memerlukan sertifikat pasca-SMA.
9. Tukang Listrik
Pekerjaan ini menawarkan gaji median US$62.350 atau Rp1,04 miliar hingga US$106.030 atau Rp1,77 miliar. Umumnya, dibutuhkan ijazah SMA plus pengalaman magang. Kemudian jika ada lembur, maka itu bisa menambah penghasilan.
10. Pemasang Panel Surya
Terakhir yakni profesi yang tugasnya memasang panel surya. Gajinya berada di kisaran US$51.860 atau Rp865 juta, hingga Rp1,34 miliar. Untuk melamar, Anda hanya memerlukan ijazah SMA.
Fenomena blue-collar yang kembali diminati ini menunjukkan bahwa karier sukses tidak selalu harus melalui perguruan tinggi. Dengan keterampilan yang tepat, generasi muda bisa meraih penghasilan tinggi dan prospek jangka panjang, bahkan di era otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang.