Cerita Tentara Israel: Hamas Sediakan Taurat dan Perlengkapan Ibadah Yahudi selama Disandera

Hamas membebaskan 24 orang sandera yang dievakuasi dengan mobil Red Cross
Hamas membebaskan 24 orang sandera yang dievakuasi dengan mobil Red Cross

Seorang tentara Israel yang dibebaskan oleh Hamas pada hari Senin, 13 Oktober 2025, mengatakan bahwa kelompok tersebut memenuhi permintaannya untuk menyediakan perlengkapan doa Yahudi dan kitab Taurat selama ia ditahan di Gaza, seperti dilansir middleeastmonitor, Jumat.

Tentara tersebut, Matan Angrest, mengatakan dalam wawancara pertamanya setelah dibebaskan, yang disiarkan oleh Channel 13 Israel, bahwa ia telah meminta para penculiknya untuk membawakannya tefillin (kotak kulit kecil yang dikenakan di dahi saat berdoa), sebuah siddur (buku doa), dan Taurat.

Ia menambahkan bahwa Hamas memberinya barang-barang yang diminta, yang diperoleh kelompok tersebut dari tempat-tempat di mana tentara Israel berada di Gaza.

Angrest menjelaskan bahwa ia melaksanakan salat tiga kali sehari di dalam terowongan dan selamat dari beberapa serangan udara Israel yang menargetkan area tempat ia ditahan.

Hamas telah berulang kali mengatakan bahwa mereka melakukan segala upaya untuk melindungi nyawa para tahanan, memperingatkan bahwa pemboman Israel yang intens dan tanpa pandang bulu merupakan ancaman serius bagi mereka.

Kisah prajurit tersebut mengenai perlakuan yang diterimanya selama ditawan sangat berbeda dengan laporan dari organisasi hak asasi manusia yang menggambarkan kondisi buruk yang dihadapi oleh tahanan Palestina di penjara Israel, termasuk penyiksaan, kelalaian medis, dan penganiayaan.

Hamas telah membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah dari 10 sandera lainnya sebagai imbalan atas pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina berdasarkan perjanjian gencatan senjata.

Kesepakatan tersebut dicapai antara Israel dan Hamas pada pekan lalu, berdasarkan rencana yang diajukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Fase pertama mencakup pembebasan sandera Israel dengan imbalan tahanan Palestina. Rencana tersebut juga mencakup pembangunan kembali Gaza dan pembentukan mekanisme pemerintahan baru tanpa Hamas.

Sejak Oktober 2023, serangan Israel telah menewaskan hampir 68.000 warga Palestina di wilayah kantong tersebut yang sebagian besarnya adalah perempuan dan anak-anak, serta menjadikannya hampir tidak dapat dihuni.