Hamas: Jenazah Sandera Israel Terkubur Tujuh Lantai di Bawah Tanah Dekat Bom yang Belum Meledak
Israel kembali menutup akses keluar-masuk warga Palestina dan akses bantuan kemanusiaan melalui perlintasan Rafah hingga seluruh jenazah sandera Israel yang ditahan Hamas berhasil dikembalikan.
Sejak Mei 2024, militer Israel menutup perlintasan Rafah, satu-satunya jalur penghubung Gaza dengan dunia luar yang sebelumnya tidak berada di bawah kendali Tel Aviv sebelum perang dimulai pada Oktober 2023.
Hamas sebelumnya telah membebaskan 20 sandera Israel yang masih hidup dan menyerahkan jenazah 10 lainnya sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata, dengan imbalan pembebasan hampir 2.000 tahanan Palestina.
Kelompok perjuangan Palestina itu, menyatakan bahwa mereka “berupaya keras” mencari sisa jenazah para sandera Israel lainnya, sebagai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas berdasarkan rencana yang diajukan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Hamas membawa jenazah sandera Israel
Saluran berbahasa Ibrani i24 News melaporkan, mengutip sumber yang terpercaya, bahwa Hamas telah memberi tahu para mediator bahwa terdapat jenazah sandera Israel yang terletak tujuh lantai di bawah tanah, dekat dengan bom Israel yang belum meledak.
Dalam sebuah pernyataan, Hamas mengatakan bahwa pengambilan jenazah tersebut mungkin membutuhkan waktu, karena gerakan tersebut membutuhkan peralatan khusus untuk menemukannya — peralatan yang saat ini tidak tersedia karena tentara Israel mencegahnya memasuki Jalur Gaza.
Hamas menambahkan bahwa beberapa jenazah dikubur di terowongan yang dihancurkan oleh tentara Israel, sementara yang lainnya masih berada di bawah reruntuhan bangunan yang dibom dan dihancurkan oleh pasukan Israel.
Menurut pernyataan tersebut, tentara Israel yang sama yang membunuh para tawanan tersebut bertanggung jawab atas penguburan mereka di bawah reruntuhan.
Hamas mengatakan bahwa jenazah tawanan Israel yang berhasil dijangkau telah diserahkan, tetapi untuk mengevakuasi sisanya membutuhkan mesin berat dan peralatan khusus untuk menyingkirkan puing-puing — yang saat ini tidak diizinkan masuk ke Gaza oleh otoritas Israel.
Hamas menekankan bahwa keterlambatan pengembalian jenazah sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah Netanyahu, yang dituduh menghalangi penyediaan peralatan yang diperlukan.
Hamas menegaskan kembali komitmennya terhadap perjanjian tersebut dan tekadnya untuk menyerahkan semua jenazah yang tersisa, sembari menuduh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengulur-ulur waktu dan gagal memenuhi komitmennya, sekaligus menghambat upaya kemanusiaan Hamas untuk menemukan jenazah-jenazah lainnya.
Israel mengancam akan melanjutkan operasi militer di Jalur Gaza jika Hamas tidak sepenuhnya mematuhi semua ketentuan perjanjian gencatan senjata, yang mulai berlaku pada 11 Oktober, khususnya terkait pengembalian jenazah-jenazah tawanan Israel yang tersisa di Gaza.