Tekan Stunting Lewat Program Pendampingan Gizi

Ilustrasi bayi
Ilustrasi bayi

 Masalah stunting masih menjadi tantangan serius bagi Indonesia. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2023, prevalensi stunting nasional mencapai sekitar 21,5 persen, menandakan bahwa satu dari lima anak balita masih mengalami gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis.  

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada tinggi badan anak, tetapi juga perkembangan kognitif dan produktivitas mereka di masa depan. Karena itu, percepatan penurunan stunting menjadi salah satu prioritas utama pemerintah dalam upaya mencetak generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.

Sebagai bentuk dukungan terhadap agenda nasional tersebut, Program Pendampingan Gizi digelar di Aula Kecamatan Bandar, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan praktik gizi seimbang sejak usia dini. 

Tahun ini, Program Pendampingan Gizi difokuskan di tiga kabupaten, yaitu Pasuruan (Jawa Timur), Batang (Jawa Tengah), dan Karawang (Jawa Barat). Melalui kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, akademisi, kader, dan komunitas lokal, program ini menghadirkan intervensi gizi yang menyeluruh dan berkelanjutan. 

Secara keseluruhan, kegiatan ini menargetkan lebih dari 630 anak berisiko stunting serta melibatkan sekitar 1.350 orang tua, kader posyandu, dan ibu hamil-menyusui di 95 desa di ketiga wilayah tersebut.

Di Kabupaten Batang, program menyasar 259 balita di 50 desa dan 4 kecamatan, dengan dukungan 66 kader dari 119 posyandu. Intervensi dilakukan melalui pemberian satu butir telur dan segelas susu tinggi kalori Dancow GroPlus setiap hari selama enam bulan bagi anak usia 1–4 tahun yang berisiko stunting. 

Selain itu, kegiatan juga mencakup edukasi gizi anak, pola asuh makan, jajanan sehat, keamanan pangan, serta penerapan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat), disertai pemantauan rutin pertumbuhan anak bersama tim ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Bupati Batang M. Faiz Kurniawan, S.H., M.H. menyampaikan apresiasi terhadap langkah nyata ini dalam mendukung upaya percepatan penurunan stunting di wilayahnya.

“Kolaborasi antara Nestle Indonesia, BKKBN, dan TP PKK yang telah terjalin sejak 2022 merupakan contoh nyata pentingnya sinergi pentahelix dalam menangani persoalan multidimensi seperti stunting. Di Kabupaten Batang sendiri, program Nestle Dukung Anak Lebih Sehat telah memberikan dampak signifikan. Kami berharap komitmen kuat ini dapat menjadi inspirasi bagi pihak swasta lainnya untuk bersama-sama mewujudkan generasi Batang yang sehat, cerdas, dan bebas stunting menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Bupati Faiz dalam keterangannya, dikutip Kamis 16 Oktober 2025. 

Direktur Corporate Affairs & Sustainability PT Nestle Indonesia, Sufintri Rahayu, menegaskan pentingnya peran gizi sejak usia dini dalam membangun masa depan bangsa.

“Melalui Program Pendampingan Gizi, kami tidak hanya menghadirkan intervensi nyata, tetapi juga menggerakkan karyawan untuk mendampingi keluarga penerima manfaat serta kader posyandu. Kami berharap inisiatif ini dapat memperkuat peran keluarga dan komunitas dalam menciptakan generasi Indonesia yang lebih sehat dan berdaya,” ujarnya.

Sementara itu, Factory Manager Pabrik Nestlé Bandaraya, Norman Tri Handono, menjelaskan bahwa program di Kabupaten Batang akan berlangsung selama 180 hari, dengan fokus pada peningkatan gizi anak dan kapasitas kader posyandu.

“Selama enam bulan ke depan, kami akan melakukan pemberian tambahan makanan, pemantauan status gizi secara berkala, serta peningkatan kapasitas kader dan keluarga. Program ini tidak akan berjalan tanpa dukungan Pemerintah Kabupaten Batang dan partisipasi masyarakat. Kami berharap kader dan keluarga dapat menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting,” tuturnya.