Dari Rumah ke Ruang Cerita, Menafsir Hidup Lewat Seni Arsitektur
Perjalanan panjang dalam dunia arsitektur sering kali bukan hanya soal membangun bangunan, tetapi juga tentang merangkai kisah dan makna di balik setiap ruang. Begitulah semangat yang tergambar dalam pameran seni bertajuk “A Life Less Ordinary”, sebuah perayaan 15 tahun kiprah kreatif seorang arsitek sekaligus pendiri studio Atelier Riri, Riri Yakub.
Pameran ini bukan sekadar refleksi karya, melainkan juga perjalanan hidup. Latar belakang serta proses kreatif di balik berbagai karya akan ditunjukkan melalui gambar, maket, potongan instalasi multisensori, serta panduan audio yang memperkaya pengalaman. Scroll ke bawah untuk simak artikel selengkapnya.

“Perjalanan ini bukan sekadar tentang membangun ruang, tapi tentang memahami kehidupan di dalamnya. A Life Less Ordinary adalah cara kami merayakan proses itu, perjalanan yang penuh pembelajaran, keberanian, dan rasa syukur,” ujar Riri Yakub di kawasan Bintaro pada Selasa, 14 Oktober 2025.
Hal yang sangat menariknya adalah bahwa pameran ini digelar di Kiri House 2.2, rumah pribadi kedua Riri Yakub yang masih dalam tahap pembangunan di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan. Rumah yang belum sepenuhnya selesai itu justru menjadi simbol dari perjalanan yang terus berkembang, penuh proses dan eksperimen.
Pameran ini menampilkan 15 bagian kurasi yang menceritakan tonggak penting perjalanan Atelier Riri. Semua disajikan dalam format storytelling, lengkap dengan panduan audio yang membantu pengunjung memahami kisah di balik setiap karya. Di Kiri House 2.2 ini terdiri dari tiga lantai, yang di mana setiap lantainya ada karya yang disuguhkan.
“Jadi ini sebenernya storytelling banget pamerannya... kalau misalnya gak dengerin audionya, mungkin gak akan dapet insight dari ceritanya,” tutur Riri.
Arsitek sekaligus pendiri studio Atelier Riri, Riri Yakub
Lebih dari sekadar retrospeksi, “A Life Less Ordinary” menjadi sarana refleksi dan arah baru bagi Atelier Riri. Melalui inisiatif Arfou, studio ini berusaha menggabungkan arsitektur, seni, dan tanggung jawab sosial. Tujuannya, agar desain tidak hanya indah, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.
“Being an architect itu sesuatu yang kita gak bisa semua rencanakan... buat saya pribadi menjadi arsitek itu jadi semacam sesuatu yang harus saya kontribusikan terus... pengen apa yang sudah kita karyakan selalu bisa kita share dan kontribusi,” ujar Riri.
Setiap proyek Atelier Riri berangkat dari prinsip contextual design, menyesuaikan karya dengan lokasi, kebutuhan pengguna, dan semangat waktu.
“Atelier sendiri tuh selalu pengen berkarya, selalu berinovasi, dan memberikan sebuah jawaban dari solusi-solusi yang baru... kita selalu pengen terus mencoba hal-hal yang mungkin kita belum coba,” ungkapnya.
Kiri House 2.2 pun menjadi laboratorium eksperimen desain, di mana kejujuran material menjadi nilai utama.
“Saya buat lebih raw aja, jadi lebih apa adanya pakai beton diekspose,” ujarnya.
Mulai dari 10 Oktober hingga 22 November 2025, pameran ini akan dibuka untuk umum. Dari ruang kecil hingga karya arsitektur yang dikenal luas, perjalanan ini membuktikan bahwa arsitektur bukan hanya tentang mendirikan bangunan, melainkan tentang membangun makna, menghadirkan kehidupan, dan berbagi inspirasi di setiap ruang yang diciptakan.