MIT Luncurkan Liquid AI, Teknologi Pesaing ChatGPT yang Bisa Jalan di HP Tanpa Internet
Di tengah dominasi model AI berbasis Transformer seperti ChatGPT milik OpenAI, muncul teknologi baru yang berpotensi mengubah arah pengembangan kecerdasan buatan dunia. Inovasi ini bernama Liquid Foundation Model, sistem AI generatif yang diklaim lebih efisien, hemat energi, dan dapat berjalan di hampir semua perangkat tanpa perlu koneksi cloud.
Teknologi ini diperkenalkan oleh Ramin Hasani, CEO Liquid AI sekaligus peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dalam wawancara di acara Expand North Star 2025 di Dubai.
“Kami membangun model Liquid Foundation yang berbeda dari GPT,” ujar Hasani Senin, 13 Oktober 2025.
“Model ini bisa dijalankan di hampir semua perangkat — dari ponsel, mesin kopi, mobil pintar, hingga satelit,” sambungnya.
CEO Liquid AI, Ramin Hasani
Hasani menjelaskan, sistem berbasis Transformer seperti GPT memang kuat dalam memproses data, namun boros energi. Setiap peningkatan data membuat kebutuhan daya meningkat secara kuadratik, bukan linear, membuat operasionalnya mahal dan tidak efisien.
Sebaliknya, Liquid Foundation Model menggunakan pendekatan linear, sehingga konsumsi energi bisa ditekan secara signifikan. Hasani menyebut desain ini meniru cara kerja otak manusia yang mampu belajar dan beradaptasi tanpa membutuhkan banyak daya.
Teknologi yang dikenal dengan nama liquid neural networks ini memungkinkan AI beradaptasi secara dinamis terhadap data baru tanpa perlu pelatihan ulang yang berat.
“Bayangkan ChatGPT versi offline di ponsel Anda — tetap cerdas tanpa internet dan sepenuhnya menjaga privasi pengguna,” kata dia.
Salah satu keunggulan utama Liquid AI adalah kemampuannya bekerja secara lokal (on-device). Artinya, seluruh proses komputasi berlangsung langsung di perangkat pengguna, bukan di server eksternal.
“Dengan AI lokal, pengguna tak perlu khawatir datanya dikirim ke cloud. Privasi dan keamanan lebih terjaga karena semua informasi pribadi tetap tersimpan di perangkat sendiri,” imbuhnya.
Pendekatan ini, kata dia, juga membuat respon AI lebih cepat (low-latency), sangat penting untuk aplikasi seperti mobil otonom atau sistem medis, di mana keterlambatan sinyal bisa berakibat fatal.
Hasani menilai, masa depan AI tidak hanya soal kecanggihan, tetapi juga keberlanjutan energi. Model-model besar seperti GPT memerlukan listrik dalam jumlah besar untuk dilatih dan dijalankan, yang menurutnya tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.
“Liquid AI hadir dengan pendekatan yang lebih hijau dan hemat energi,” ujarnya. Efisiensi daya ini juga membuat teknologi AI lebih murah dan mudah diakses oleh berbagai sektor seperti pendidikan, kesehatan, dan pemerintahan.
Hasani percaya, era baru AI akan berpindah dari pusat data raksasa ke perangkat pribadi pengguna. Ia menggambarkan masa depan di mana setiap alat mulai dari ponsel, mobil, hingga mesin kopi memiliki kecerdasan buatan yang efisien dan mandiri.
“Ke depan, AI akan hidup di setiap perangkat kita. Kami ingin AI yang lebih manusiawi, efisien, dan selaras dengan bumi,” tandasnya.