Reskilling vs Upskilling: Mana yang Lebih Cepat Membantu Mendapatkan Kerja?

Ilustrasi kelas pekerja, Memahami Perbedaan Reskilling dan Upskilling, Upskilling: Lebih Cepat bagi yang Masih Relevan, Reskilling: Lebih Relevan Saat Industri Lama Menyusut, Mana yang Lebih Cepat Mendapatkan Kerja?
Ilustrasi kelas pekerja

Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) masih menghantui pekerja di berbagai sekor. Kekhawatiran pekerja semakin besar karena adanya pergeseran kebutuhan industri sehingga mencari pekerjaan baru tak cukup hanya mengandalkan pengalaman lama. 

Keterampilan yang dulu relevan, kini mulai ditinggalkan pasar. Dalam situasi ini, dua istilah kerap muncul sebagai solusi, yakni reskilling dan upskilling. Keduanya sama-sama bertujuan meningkatkan daya saing tenaga kerja.

Namun bagi pencari kerja, pertanyaan terpenting bukan sekadar definisi, melainkan efektivitas. Mana yang lebih cepat membantu seseorang kembali bekerja—reskilling atau upskilling? Jawabannya bergantung pada kondisi individu dan arah pasar tenaga kerja.

Memahami Perbedaan Reskilling dan Upskilling

Upskilling berarti meningkatkan keterampilan yang sudah dimiliki agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Contohnya, staf pemasaran yang mempelajari analitik digital atau karyawan administrasi yang menguasai perangkat lunak otomatisasi.

Sementara itu, reskilling mengacu pada mempelajari keterampilan baru untuk berpindah peran atau bahkan sektor kerja. Misalnya, pekerja ritel yang beralih menjadi customer support digital atau pekerja manufaktur yang masuk ke bidang logistik berbasis teknologi.

Menurut World Economic Forum (WEF) dalam laporan Future of Jobs, hampir 44 persen keterampilan inti tenaga kerja global diperkirakan berubah dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ini membuat reskilling dan upskilling sama-sama krusial, tetapi dengan dampak yang berbeda.

Upskilling: Lebih Cepat bagi yang Masih Relevan

Bagi pencari kerja yang latar belakangnya masih dibutuhkan pasar, upskilling cenderung lebih cepat membuka peluang kerja. Prosesnya relatif singkat karena hanya menambah atau memperdalam keterampilan yang sudah dikuasai.

Laporan LinkedIn Economic Graph menunjukkan bahwa profesional yang menambahkan keterampilan digital baru ke profil mereka memiliki peluang lebih besar dipanggil wawancara dalam waktu lebih singkat. Upskilling membantu pencari kerja menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri tanpa harus memulai dari nol.

Dari sisi biaya dan waktu, upskilling juga lebih efisien. Kursus singkat, sertifikasi online, atau pelatihan internal sering kali cukup untuk meningkatkan daya jual di pasar kerja.

Reskilling: Lebih Relevan Saat Industri Lama Menyusut

Reskilling menjadi pilihan logis ketika sektor lama mengalami penurunan struktural. Pekerja di industri yang terdampak otomatisasi atau digitalisasi sering kali tidak bisa lagi mengandalkan keahlian lama, seberapa dalam pun mereka menguasainya.

McKinsey Global Institute mencatat jutaan pekerja global perlu berpindah profesi dalam dekade ini akibat perubahan teknologi dan transisi ekonomi. Dalam kondisi ini, reskilling memang memakan waktu lebih lama, tetapi menawarkan peluang kerja yang lebih berkelanjutan.

Bagi pencari kerja, reskilling menjadi investasi jangka menengah. Meski tidak secepat upskilling dalam mendapatkan pekerjaan, hasilnya bisa lebih stabil karena selaras dengan kebutuhan industri masa depan.

Mana yang Lebih Cepat Mendapatkan Kerja?

Jika diukur dari kecepatan, upskilling umumnya lebih cepat membantu mendapatkan kerja kembali, terutama bagi mereka yang berasal dari sektor yang masih tumbuh. Namun kecepatan ini bergantung pada satu hal: relevansi latar belakang dengan kebutuhan pasar.

Sebaliknya, reskilling lebih tepat bagi mereka yang mengalami mismatch keterampilan. Meski butuh waktu lebih panjang, reskilling mencegah pencari kerja terjebak dalam lingkaran penolakan akibat keahlian yang sudah usang.

Data International Labour Organization (ILO) menegaskan bahwa strategi peningkatan keterampilan yang tepat sasaran secara signifikan mempercepat reintegrasi tenaga kerja ke pasar kerja formal.

Pendekatan paling efektif sering kali bukan memilih salah satu secara ekstrem, melainkan mengombinasikan keduanya. Pencari kerja bisa melakukan upskilling jangka pendek untuk membuka peluang cepat, sambil mempersiapkan reskilling sebagai strategi keberlanjutan.

Dalam dunia kerja yang terus berubah, fleksibilitas menjadi kunci. Bukan soal seberapa banyak keterampilan yang dimiliki, melainkan seberapa cepat seseorang beradaptasi dengan kebutuhan pasar.

Di era ketidakpastian ini, reskilling dan upskilling bukan lagi pilihan, melainkan strategi bertahan. Yang membedakan hanyalah kecepatan dan arah tujuan karier yang ingin dicapai.