Musuh "Bebuyutan" Chelsea: Muda, Labil dan Rapuh

GOL Estevao Willian di menit 90+5 yang memberi kemenangan dramatis 2-1 atas Liverpool, belum mengubah Chelsea.
Tren kartu merah yang didulang sejak laga kontra Manchester United, Brighton & Hove Albion dan Benfica (Liga Champions Eropa) berlanjut.
Terakhir, sang peracik, Enzo Maresca, yang terpaksa memungutnya lantaran tidak dapat mengendalikan emosi ketika bintang muda masa depan asal Brasil melesakkan gol hasil assist Marc Cucurella.
Maresca ikut merayakan gol dengan berlari kencang ke sudut lapangan di mana Estevao dkk sedang selebrasi atas gol yang ditunggu-tunggu seisi Stamford Bridge yang menyaksikan duel The Blues versus The Reds.
Alhasil, ia mendulang kartu kuning kedua--dan otomatis diberi tambahan sanksi: kartu merah. Itu berarti pelatih berpaspor Italia itu dilarang berada di pinggir lapangan ketika Reece James dkk melawat ke The City Ground, kandang Nottingham Forest, setelah jeda internasional nanti.
Kartu merah lagi dan lagi. Konyol. Meski tak sepahit kartu merah yang diterima Robert Sanchez serta Trevoh Chalobah, Maresca tidak mengirim pesan bagus ke skuatnya.
Kartu merah untuk Sanchez di laga kontra MU telah menyebabkan permainan Chelsea di babak pertama kocar-kacir di Old Trafford. Setan merah dapat memaksimalkan situasi ini dengan menceploskan dua gol ke gawang Chelsea di babak pertama.
Di pengujung babak pertama, gelandang bertahan MU, Casemiro menerima kartu kuning kedua sehingga harus out dari lapangan.
Babak kedua jadi pertempuran 10 vs 10, di mana Chelsea cuma sanggup membayar satu gol lewat sundulan Chalobah.
Di luar momen itu, Chelsea berubah jadi tim "penakut" karena bermain tanpa sayap murni imbas kartu merah yang diperoleh sang kiper. Chelsea pun pulang ke London dengan pahit. Kalah 1-2.
Di lanjutan Liga Premier Inggris (EPL), situasi serupa dialami Chelsea. Unggul satu gol di babak pertama, Chalobah membuat kesalahan di menit ke-53. Ia berupaya mencegah pemain Brighton mencetak gol, tapi kartu merah tak dapat ditolak.
Kejadian ini buah dari kesalahan Andrey Santos yang tidak hati-hati dalam menguasai bola sehingga direbut lawan. Dalam situasi itu, Chalobah toh memilih menghentikan striker Brighton sehingga diusir wasit.
Ini jadi titik balik yang mengubah laga. Brighton mengeksploitasi kekurangan pemain Chelsea dan menggelontorkan tiga gol ke gawang Sanchez.
Pemain berusia 34 tahun, Danny Welbeck menceploskan dua gol yang membuat belanja pemain ke Brighton tak berarti apa-apa. Cukup untuk memberi kekalahan kedua, 1-3, buat Chelsea di panggung EPL.
Sekian tahun belakangan, Chelsea rajin membeli pemain dari Brighton sehingga sang rival dijuluki Brightonmart.
Cucurella, Sanchez, Moises Caicedo hingga Joao Pedro adalah pemain jebolan Brighton yang saat ini menjadi pilar penting klub kebanggaan sebagian warga London itu. Kartu merah untuk Chalobah itu akan sangat disesali oleh Santos, Chalobah serta Maresca.
Seandainya Chalobah dan Sanchez tidak menerima kartu merah, hasil laga kontra MU dan Brighton bakal lain.
Tapi, tidak seperti hidup, sepak bola tidak mengenal "seandainya". Sepak bola adalah tentang semua yang terjadi di rumput hijau, entah itu masuk akal, tak dapat dijangkau nalar atau bahkan aneh tapi nyata. Itulah sepak bola.
Permainan yang dipentaskan selama 90 menit atau lebih (bisa lebih lama) ini dan seluruhnya ditentukan dan berakhir di lapangan.
Pada Piala Dunia 1986 di Meksiko, dunia digegerkan gol tangan Tuhan oleh Diego Armando Maradona. Itulah yang terjadi--sorak bahagia untuk fans Argentina dan di saat sama duka lara buat pecandu Inggris.
Drama di lapangan sepak bola tuntas dalam 90 menit. Namun ingatan tentangnya kekal. Dulu tak ada VAR sehingga gol Maradona tak mungkin di-review, apalagi dibatalkan.
Kisah kartu merah Sanchez dan Chalobah seharusnya diakhiri oleh Maresca. Namun fakta membuktikan sebaliknya.
Di fase awal Liga Champions, Joao Pedro ketularan saat Chelsea bentrok dengan Benfica di Stamford Bridge. Ia menerima kartu kuning kedua di menit 90+6 karena mengangkat kaki kelewat tinggi.
Pemain asal Brasil ini juga juga diusir dari lapangan--kali ini untuk hal yang sebenarnya tak ada yang dipertaruhkan.
Saat itu tim sudah unggul 1-0 atas klub yang diracik bekas manajer/pelatih legendaris The Blues, Jose Mourinho itu. Dan laga juga tinggal menghitung menit untuk berakhir.
Risiko dan konsekuensinya terbilang. Joao Pedro tak boleh main kontra Ajax Amsterdam di lanjutan Liga Champions setelah jeda internasional Oktober ini.
Padahal Pedro satu-satunya striker kelas satu yang tersedia selepas Liam Delap cidera. Kartu merah Pedro konyol. Bikin Chelsea makin lengket dengan masalah.
Sebelum Liga Premier Inggris bergulir Agustus lalu, Chelsea telah kehilangan Levi Colwill. Dia ini pemain superpenting dalam skema permainan Maresca yang berpikir "sepak bola tak ubahnya permainan catur".
Dia dirijen lini belakang The Blues: muda, berbakat, punya visi dan kadang keluar dengan umpan tak terduga.
Tengok lagi gol kedua Cole Palmer di final Piala Dunia Antarklub, Juli 2025. Itu adalah buah kepiawaian Colwill memindahkan bola ke sisi kiri pertahanan Paris Saint-Germain sehingga dimaksimalkan Palmer dengan tarian magis menjadi gol.
Di samping Colwill dan Delap, ada juga Dario Essugo, Cole Palmer, Wesley Fofana, Tosin Adarabiayo, Andrey Santos.
Setelah laga kontra Liverpool, Benoit Badiashile dan Josh Acheampong juga tumbang. Seandainya, ada laga pada 11 atau 12 Oktober nanti, Chelsea minus center back. Cuma ada Trevoh Chalobah, yang telah selesai dari hukuman, di posisi itu.
Atau Reece James dan Jorrel Hato--yang dipaksa main di posisi itu sekian menit versus Liverpool--bakal diplot di posisi nontradisional mereka?
Saat ini Chelsea betul-betul sedang rapuh. Menjadi tim dengan rata-rata berusia 23,4 tahun, Chelsea adalah kumpulan pemain termuda di Liga Premier Inggris. Dan dengan tujuh laga yang dilakoninya, saat ini Chelsea berubah menjadi tim muda yang labil dan rapuh.
Kompleksitas masalah ini yang menggelayuti Maresca. Bebatan cidera, pemain muda yang labil dan skuad yang rapuh bisa mengundang bahaya.
Klub ini sedang bersaing di empat kompetisi: Liga Premier, Piala FA, Piala Liga (Carabao Cup) serta Liga Champions.
Maresca membutuhkan skuad, memilih tim sebelas (line up) yang akan diturunkan. Jika sembilan pemain tumbang dan satu lagi terkena sanksi dilarang main dalam satu laga, Maresca bisa gila.
Namun Maresca mencoba tenang. "Saya tidak mengeluh. Ini kenyataan. Kami mengalami cidera. Kami sedang berusaha mencari solusi," ujar bekas asisten Pep Guardiola ini.
“Tentu saja, saya ingin semua pemain tersedia karena itu akan lebih baik,” kata Maresca.
“Namun ini hal yang normal. Saya tidak berpikir menjadi manajer Chelsea berarti semuanya akan selalu berjalan sesuai harapan. Anda perlu beradaptasi dan berkembang,” tegas pelatih berkepala pelontos itu (Bola.com, 4/10/2025).
Ini diucapkan sekian hari sebelum duel kontra Liverpool. Ada keberanian, optimisme dan kesiapan menghadapi seluruh 'badai' dalam kalimat Maresca itu.
Dan keberanian itu wajib ditularkan pada skuad mudanya--terutama terhadap pemain-pemain anyar yang baru tahu kerasnya Liga Premier.
Jorrel Hato, Jamie Gittens, Andrey Santos hingga Estevao sedang mencicipi kompetisi sepak bola terkeras dan terbaik di dunia di tanah Inggris.
Mereka perlu mengasah keberanian, mengeluarkan kemampuan terbaik seturut harga yang dibayar Chelsea untuk melabuhkan mereka di Stamford Bridge. Caranya, persis seperti dikatakan Maresca: Beradaptasi dan berkembang.
Adaptasi itu telah diajarkan moyang manusia. Charles Darwin dengan megah menyebutnya sebagai "survival of the fittest".
Berbakat saja tidak cukup. Ini Liga Premier Inggris. Aspek fisik yang menuntut kebugaran yang lebih baik ikut menentukan. Sebab nyaris seluruh sisi lapangan di klub EPL dihuni pemain yang berani bertarung--tak terkecuali bentrok fisik.
Estevao, pencetak gol kemenangan di laga kontra Liverpool, sadar ihwal tuntutan fisik itu. Pemain muda yang masih 18 tahunan ini tak bisa mengandalkan gocekan dan kecepatan lari, ia butuh menguatkan tubuhnya agar tidak minder di hadapan bek-bek di EPL yang kuat, kadang juga kekar.
Gittens yang menonjol bersama Borussia Dortmund di Bundesliga (Liga Jerman) juga sedang beradaptasi. Ia lahir di Inggris, tapi belum mencicipi sangarnya EPL. Di musim perdananya, Gittens dituntut segera "on".
Faktor utama tentang mentalitas. Dari sana terbit keberanian untuk bertarung. Menggantikan Alejandro Garnacho di sayap kiri, Gittens bermain lumayan saat bentrok dengan Liverpool.
Ada satu momen saat ia melepaskan satu tembakan yang mampu ditahan Giorgi Mamardashvili.
Gittens perlu menikmati permainannya seperti di Dortmund. Dan untuk itu, ia diharapkan menanggalkan dan keluar dari ketakutan serta memarkir keragu-raguan. Ingat Gittens didatangkan untuk menggantikan peran Noni Madueke yang berlabuh ke Arsenal.
Bersama dan dalam tim yang rata-rata berusia muda tentu saja juga menyimpan "daya ledak" dan hal-hal yang tidak terduga.
Musim lalu, Enzo Maresca telah bertemu situasi "roller coaster" di Liga Premier Inggris. Sempat memepet Liverpool di puncak, The Blues keluar dari persaingan setelah pergantian tahun serta tak menentu di papan atas.
Berkat kestabilan di dua bulan terakhir kompetisi, secara tak terduga Chelsea menyegel peringkat empat. Ini tiket untuk bermain di Liga Champions.
Setelah itu Chelsea berjaya di kasta ketiga Eropa: Liga Konferensi. Dan yang membelalakkan mata, Reece James dkk juara Piala Dunia Antarklub format anyar tahun 2025.
PSG merasakan terjangan Chelsea yang merontokkan juara Liga Champions Eropa musim 2024/2025 itu dengan skor telak 3-0.
Ingat terus momen itu. Chelsea bisa bikin apa saja ketika berada dalam momen permainan terbaiknya. Tentu saja Liga Premier dan Liga Champions beda kontras dengan format turnamen seperti Piala Dunia Antarklub.
Yang sama ini tim ini belum berubah---malah komposisi pemainnya kian dalam dan penuh alternatif.
Jika masih tak cukup, ingatlah kalimat Jose Mourinho sebelum duel Chelsea kontra Benfica. "Chelsea adalah mesin pemenang".
Mou yang mengklaim sebagai "The Special One" itu mengingatkan kalau Chelsea pernah tiga kali Liga Premier Inggris di masa kepelatihannya. Itu diulangi di masa Carlo Ancelotti dan antonio Conte.
Selain itu, sudah dua kali Chelsea kampiun Eropa (Liga Champions) bersama Roberto di Matteo dan Thomas Tuchel. Ini tanpa menyebut trofi Liga Europa, Liga Konferensi, Piala FA, Piala Liga dan Community Shield.
Menurut saya, Maresca tahu sedang berada di klub seperti apa dan apa tuntutan menjadi pelatih Chelsea. Dia harus percaya, ia punya sesuatu sebagai peracik taktik. Bukan Arne Slot saja yang menghormati dan segan padanya, tapi manajer/pelatih klub-klub lain.
Sepak bola ala permainan catur--antara lain menghadapi taktik lawan setelah tahu gaya mainnya di lapangan--adalah pendekatan baru yang bisa membawa Maresca dan Chelsea pada kejayaan.
Ia menuntut pemainnya bisa bermain di lebih dari satu posisi. Cara main ini berhasrat menguasai bola selama mungkin sambil menemukan celah yang dapat dieksploitasi untuk merobek gawang lawan.
Sanggupkah Maresca mendorong Chelsea ke puncak permainan ala caturnya? Sebelum itu Maresca dan manajemen wajib menyadari realitas. Ada Axel Disasi dan Raheem Sterling di klub yang berhak diperlakukan dengan manusiawi.
Jika krisis center back, tarik Disasi ke skuad. Jangan gengsi, apalagi mengasingkan mereka dengan perlakuan diskriminatif. Demikian juga Sterling.
Jika keduanya tak cukup, buka opsi beli center back dan kiper di musim dingin (Januari 2026). Chelsea sudah lama tak juara Liga Premier Inggris setelah musim 2016/2017. Tidak ingin meniru Arsenal dan MU yang absen kampiun Inggris sejak 2004 dan 2013 toh?