Sanae Takaichi Terpilih Menjadi Ketua LDP, Selangkah Lagi Jadi PM Perempuan Pertama Jepang
Mantan Menteri Keamanan Ekonomi, Sanae Takaichi memenangkan pemilihan presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang pada Sabtu, 4 Oktober 2025, mengalahkan Menteri Pertanian Shinjiro Koizumi dalam putaran kedua.
Ia menjadi kandidat perempuan pertama, yang mendeklarasikan pencalonannya dalam pemilihan presiden Partai Demokrat Liberal pada hari Senin, hanya tiga hari sebelum kampanye resmi dimulai pada hari Kamis.
Takaichi menggantikan Perdana Menteri Shigeru Ishiba sebagai ketua partai dan diperkirakan akan menjadi perdana menteri Jepang berikutnya. Dari lima kandidat yang bersaing, Takaichi, Koizumi, dan Sekretaris Kabinet Yoshimasa Hayashi disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.
Dalam pemilihan tahun lalu yang diikuti sembilan kandidat, Ishiba sempat tertinggal dari Takaichi di putaran pertama, namun akhirnya menang di babak akhir.
Sanae Takaichi terpilih sebagai presiden Partai Demokrat Liberal (LDP) Jepang
Ketua LDP baru yang masa jabatannya hingga 2027 itu hampir pasti menjadi perdana menteri pada akhir bulan ini. Koalisi minoritas LDP dengan partai Komeito masih menjadi kekuatan terbesar di parlemen, sementara partai oposisi belum solid.
Dalam pengumuman yang sarat dengan proposal kebijakan yang terperinci, Takaichi berbicara tentang perlunya LDP untuk "dilahirkan kembali" setelah skandal dana gelap politik yang telah mengguncang kepercayaan publik terhadap partai yang berkuasa, sembari juga mengomentari sejumlah bidang termasuk manajemen krisis, pasokan pangan, sumber daya energi, kesehatan dan kedokteran, serta keamanan siber.
"Mari kita terlahir kembali! Saya menyerukan kepada seluruh anggota parlemen (LDP) untuk menciptakan LDP yang terlahir kembali dan dapat dipercaya oleh rakyat," ujarnya dilansir Japan Times.
"Tujuan saya adalah menciptakan rasa aman bagi semua generasi. Jika generasi tua bahagia dan sejahtera, hal itu akan secara langsung menumbuhkan rasa aman bagi generasi muda tentang masa depan,"
Di antara cara-cara yang perlu dilakukan Jepang untuk lebih memperkuat pertahanannya, ujar Takaichi, adalah dengan menciptakan langkah-langkah penanggulangan terhadap serangan teroris yang melibatkan senjata kimia, biologi, nuklir, radiologi, atau peledak.
"Ketika ini terjadi, mikroorganisme dan bahan kimia yang digunakan dalam serangan ini harus segera diidentifikasi agar nyawa dapat segera diselamatkan," ujarnya. Takaichi juga menganjurkan revisi konstitusi, mendukung pasal baru yang memperjelas peran Pasukan Bela Diri.
Politikus Konservatif Garis Keras
Takaichi, 64, yang akan menjadi perdana menteri perempuan pertama Jepang, menjadi pilihan utama publik. Sementara Koizumi, 44 tahun, putra mantan Perdana Menteri Junichiro Koizumi, mendapat dukungan terbesar dari sesama anggota parlemen, menurut jajak pendapat media.
Takaichi dikenal sebagai politikus konservatif garis keras, dikenal karena kedekatannya dengan mendiang mantan Perdana Menteri Shinzo Abe, mencalonkan diri untuk kedua kalinya. Meskipun bukan anggota faksi politiknya, Abe memberikan dukungan penuhnya kepada Takaichi dalam pemilihan presiden 2021. Meskipun demikian, Takaichi tersingkir dalam putaran awal.
Sedangkan Koizumi yang berhaluan reformis berpeluang menjadi pemimpin termuda Jepang pascaperang. Hayashi, 64 tahun, politisi moderat dengan pengalaman panjang di kabinet, sempat memperkecil selisih dukungan menjelang pemungutan suara.
Dua kandidat lain adalah mantan Menteri Keamanan Ekonomi Takayuki Kobayashi dan mantan Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi. Seperti Hayashi, keduanya lulusan Universitas Tokyo dan peraih gelar master dari Universitas Harvard.
Pada awal September, Ishiba mengumumkan pengunduran dirinya sebagai tanggung jawab atas kekalahan koalisi dalam pemilihan majelis tinggi pada Juli, yang mempercepat pemilihan ketua partai yang semula dijadwalkan 2027.
Koalisi yang dipimpin Ishiba juga kehilangan mayoritas di majelis rendah pada Oktober 2024, tak lama setelah ia menjabat perdana menteri.