Perjalanan 3 UMKM Batik di Inacraft 2025, Menjaga Warisan pada Era Modern

batik, Inacraft, Hari Batik Nasional, Inacraft 2025, Hari Batik Nasional 2025, peringatan hari batik nasional, pameran inacraft, pameran inacraft 2025, batik di inacraft, batik inacraft, Perjalanan 3 UMKM Batik di Inacraft 2025, Menjaga Warisan pada Era Modern, Batik Tatik Sri Harta di Inacraft 2025, setia pada batik klasik, Indah Putri Batik, lestarikan batik dengan sentuhan modern, Batik Sridjaja, ketika generasi Z melestarikan batik , Harapan batik untuk tetap hidup

Di pameran Inacraft 2025, beragam UMKM (Usaha Mikro, Kecil, Menengah) batik bisa ditemukan. Produk yang dijual pun beragam, tak hanya kain batik. 

Sebagai informasi, Inacraft 2025 diadakan di JCC, Jakarta Pusat, dari Rabu (1/10/2025) sampai Minggu (5/10/2025). Pameran ini tak hanya jadi tempat membeli batik, tapi juga jadi ruang bagi pelaku UMKM batik untuk berbagi cerita. 

Simak kisah perjalanan beberapa pelaku UMKM batik di Inacraft 2025 berikut ini.

Batik Tatik Sri Harta di Inacraft 2025, setia pada batik klasik

batik, Inacraft, Hari Batik Nasional, Inacraft 2025, Hari Batik Nasional 2025, peringatan hari batik nasional, pameran inacraft, pameran inacraft 2025, batik di inacraft, batik inacraft, Perjalanan 3 UMKM Batik di Inacraft 2025, Menjaga Warisan pada Era Modern, Batik Tatik Sri Harta di Inacraft 2025, setia pada batik klasik, Indah Putri Batik, lestarikan batik dengan sentuhan modern, Batik Sridjaja, ketika generasi Z melestarikan batik , Harapan batik untuk tetap hidup

Salah satu koleksi batik di Batik Tatik Sri Harta dalam pameran Inacraft 2025 yang diselenggarakan di JCC, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).

Bagi Tatik Sri Harta, kecintaannya pada batik sudah tumbuh sejak kecil sampai diwariskan langsung dari orangtuanya.

Pada tahun 1990, ia mendaftarkan hak paten merek Batik Tatik Sri Harta. Sejak saat itulah ia konsisten mengusung batik klasik dengan proses tradisional tanpa bahan kimia.

“Awal mulanya karena suka. Setelah suka, kita buat. Setelah buat, ada ekonominya di dalam, ya sudah sampai sekarang lanjut aja,” ujar Tatik kepada Kompas.com di Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).

Meski tren fesyen terus berubah, Tatik memilih tetap setia pada jalur batik klasik. Menurutnya, batik sejati harus dibuat sebagaimana leluhur mengajarkannya.

“Saya benar-benar melestarikan batik sesuai pertama kali muncul. Bahkan warnanya pun warna alam. Jadi bukan soal suka atau enggak suka, ini edukasi. Kalau mau tahu batik, ya inilah batik,” katanya.

Perjalanannya membuahkan pengakuan. Karya batiknya disebut sudah dikenakan para Presiden Republik Indonesia, termasuk Presiden Prabowo.

Namun, bagi Tatik, hal tersebut bukanlah puncak perjalanan Batik Tatik Sri Harta, melainkan bagian dari tanggung jawab untuk menjaga batik klasik.

Indah Putri Batik, lestarikan batik dengan sentuhan modern

batik, Inacraft, Hari Batik Nasional, Inacraft 2025, Hari Batik Nasional 2025, peringatan hari batik nasional, pameran inacraft, pameran inacraft 2025, batik di inacraft, batik inacraft, Perjalanan 3 UMKM Batik di Inacraft 2025, Menjaga Warisan pada Era Modern, Batik Tatik Sri Harta di Inacraft 2025, setia pada batik klasik, Indah Putri Batik, lestarikan batik dengan sentuhan modern, Batik Sridjaja, ketika generasi Z melestarikan batik , Harapan batik untuk tetap hidup

Koleksi batik yang dihadirkan Indah Putri Batik dalam pameran Inacraft 2025 yang diselenggarakan di JCC, Jakarta Pusat, Kamis (2/10/2025).

Berbeda dengan Tatik, perjalanan pemilik usaha Indah Putri Batik bernama Novita dimulai sebagai generasi kedua yang meneruskan usaha orangtuanya.

Usaha batik keluarganya sudah berdiri sejak tahun 1976, dan saat ini ia memegang kendali selama hampir lima tahun terakhir.

Awalnya, usaha ini dimulai sederhana. Sang ibu menjual batik buatan orang lain, sebelum akhirnya memproduksi sendiri.

Dari situlah, Indah Putri Batik berkembang hingga memiliki pabrik batik tulis dan printing.

“Dulu orangtua itu cuma sekadar batik jarik lawasan. Lama-lama ganti kontemporer, sampai sekarang kita juga ada printing. Jadi memang harus mengikuti perkembangan zaman,” kata Novita pada kesempatan yang sama.

batik, Inacraft, Hari Batik Nasional, Inacraft 2025, Hari Batik Nasional 2025, peringatan hari batik nasional, pameran inacraft, pameran inacraft 2025, batik di inacraft, batik inacraft, Perjalanan 3 UMKM Batik di Inacraft 2025, Menjaga Warisan pada Era Modern, Batik Tatik Sri Harta di Inacraft 2025, setia pada batik klasik, Indah Putri Batik, lestarikan batik dengan sentuhan modern, Batik Sridjaja, ketika generasi Z melestarikan batik , Harapan batik untuk tetap hidup

Novita, pemilik usaha Indah Putri Batik Solo mengatakan harapannya terhadap batik dalam acara Inacraft 2025, di JCC Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Meski begitu, menjaga tradisi tetap jadi pegangan utama. Novita masih memproduksi batik "pakem", sembari menghadirkan desain yang lebih modern agar digemari anak muda.

"Aku sering pakai kebaya atau jarik, lalu posting di sosial media. Tujuannya supaya orang lihat, ternyata pakai batik itu cantik dan enggak ketinggalan zaman," katanya.

Perjalanan Novita tidak selalu mulus, terutama karena ketatnya persaingan dan cepatnya perubahan tren.

Kendati demikian, ia memilih untuk tetap berinovasi, termasuk membuat pakaian fesyen yang relevan untuk anak muda.

Batik Sridjaja, ketika generasi Z melestarikan batik 

batik, Inacraft, Hari Batik Nasional, Inacraft 2025, Hari Batik Nasional 2025, peringatan hari batik nasional, pameran inacraft, pameran inacraft 2025, batik di inacraft, batik inacraft, Perjalanan 3 UMKM Batik di Inacraft 2025, Menjaga Warisan pada Era Modern, Batik Tatik Sri Harta di Inacraft 2025, setia pada batik klasik, Indah Putri Batik, lestarikan batik dengan sentuhan modern, Batik Sridjaja, ketika generasi Z melestarikan batik , Harapan batik untuk tetap hidup

Dea Amira, pemilik usaha Batik Sridjaja mengatakan harapannya terhadap batik dalam acara Inacraft 2025, di JCC Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Sementara itu, Dea Amira, penerus usaha Batik Sridjaja, tumbuh besar bersama batik karena usaha ini diwariskan dari sang ibu.

Sejak kecil, ia sudah terbiasa melihat aktivitas produksi dan penjualan batik, dan saat ini ia melanjutkannya dengan penuh semangat.

Menurut Dea, perjalanan usahanya bisa bertahan hingga kini tidak lepas dari pelanggan setia.

"Dari dulu sampai sekarang kita masih keep in touch terus, kayak kita hubungannya baik. Jadi maintenace (menjaga) mereka buat balik lagi," kata Dea.

Namun, ia menyadari bahwa sekadar mengandalkan tradisi tidaklah cukup. Perempuan 23 tahun itu memilih berani bereksperimen dengan produk turunan batik, seperti tas berbahan kayu silver dan rencana membuat sandal batik.

“Aku mau bikin usaha jadi one stop shopping. Jadi kalau orang datang, udah ada kain, ada tas, perhiasan, bahkan nanti sepatu,” katanya.

Meski menghadapi tantangan dari cepatnya perputaran tren fesyen, Dea yakin adaptasi bisa dilakukan lewat kreativitas dan pemasaran digital, seperti berjualan lewat siaran langsung (live streaming).

Baginya, melestarikan batik bukan hanya diam, melainkan berani berkembang agar bisa relevan di era modern.

Harapan batik untuk tetap hidup

Berangkat dari perjalanan ketika pelaku UMKM batik tersebut, setiap pelaku usaha punya jalannya sendiri dalam melestarikan batik.

Ada yang setia pada batik klasik, ada yang mengombinasikan dengan mode modern, ada pula yang bereksperimen dengan produk turunan.

Namun, ketiganya sama-sama menjaga batik agar tetap hidup dan dicintai lintas generasi.