Sempat Dapat Respons Negatif, Tak Halangi David Kembangkan Bisnis Jasa ‘Gue Temenin Jalan’

Jasa Gue Temenin Jalan, Gue Temenin Jalan, Jasa Gue Temenin Jalan Jakarta, tujuan jasa Gue Temenin Jalan, Sempat Dapat Respons Negatif, Tak Halangi David Kembangkan Bisnis Jasa ‘Gue Temenin Jalan’, Viral di Threads memicu pro dan kontra, Komentar negatif dari warganet , Hadapi komentar negatif dengan fokus pada tujuan positif, Dapat banyak dukungan dari warganet

Setiap ide baru tak selalu langsung diterima dengan tangan terbuka. Begitu pula yang dialami Johanes David Gratias Pero (32), pendiri jasa “Gue Temenin Jalan”. 

Sejak awal diluncurkan, layanan jasa ini mendapat beragam tanggapan, mulai dari dukungan penuh hingga komentar sinis yang meragukan.

Namun, bagi David, respons beragam itu adalah bagian dari perjalanan dan tantangan yang harus dihadapi. Ia memilih fokus pada tujuan utama jasanya: membantu orang yang membutuhkan teman jalan.

Viral di Threads memicu pro dan kontra

David bercerita, ide jasanya pertama kali ramai diperbincangkan setelah ia mengunggah tentang jasa “Gue Temenin Jalan” di Threads. 

Tak disangka, unggahan tersebut mendapatkan perhatian pengguna lainnya dalm waktu beberapa hari.  

“Jasa ini bermula dari unggahan Threads aku yang hampir tembus seribu dan banyak banget yang komentar. Tidak dipungkiri, memang banyak komen negatif maupun positif,” kata David saat diwawancarai Kompas.com di Blok M, Jakarta Selatan, Rabu (24/9/2025).

Sebagian warganet menyambut positif. Mereka menilai jasa ini bisa membantu orang-orang yang merasa kesepian atau butuh teman mendampingi aktivitas sederhana. 

“Yang positif bilang kalau jasa ini membantu untuk mereka yang enggak punya banyak teman,” ujarnya.

Komentar negatif dari warganet 

Di sisi lain, tak sedikit pula yang mempertanyakan gagasan tersebut. Beberapa komentar negatif bahkan menyinggung soal keaslian hubungan pertemanan jika harus dibayar.

“Tapi ada juga yang negatif berpendapat bahwa kenapa berteman saja harus bayar atau mengarah ke hal negatif lainnya, seperti laki-laki bayaran,” jelas David.

Ia mengakui, komentar-komentar itu cukup membuatnya berpikir. Namun, menurutnya, setiap orang punya cara masing-masing untuk memenuhi kebutuhannya. 

“Tapi kembali lagi, ini semua tergantung pada kebutuhan masing-masing orang dan aku tidak memaksa harus pakai jasa ini,” tambahnya.

Hadapi komentar negatif dengan fokus pada tujuan positif

David tak ingin larut dalam komentar negatif. Baginya, inti dari jasa ini tetap sama, yaitu menemani orang yang membutuhkan.

“Tidak masalah kalau beberapa orang menganggapnya negatif, tapi memang tujuan dari jasa ini membantu mereka yang membutuhkan teman untuk sekadar curhat atau aktivitas lainnya,” katanya.

Ia pun menegaskan, jasanya dijalankan secara profesional dan sebatas menemani aktivitas positif, mulai dari nongkrong, kondangan, hingga sekadar menjadi pendengar.

Dapat banyak dukungan dari warganet

Meski sempat dihujani kritik, David merasa lebih banyak dukungan yang datang dibanding komentar miring. 

Ia bersyukur karena sebagian besar respons masyarakat justru menyemangatinya untuk terus mengembangkan jasa ini.

“Sejauh ini di Threads komentar negatifnya hanya sedikit sih, banyak yang positif dan mendukung,” ujar dia.

Bahkan, ada yang langsung tertarik untuk meminta lowongan pekerjaan dan ikut bergabung. 

“Banyak yang minta lowongan kerja untuk join, tapi aku juga belum berani soal itu,” tambahnya.

Menghadapi pro-kontra, David memilih untuk tetap berjalan. Ia percaya bahwa jasanya punya manfaat nyata, terlebih bagi mereka yang membutuhkan teman jalan dalam suasana tertentu.

Dengan sikap terbuka dan profesional, ia yakin bisa mengubah pandangan negatif menjadi pemahaman bahwa jasanya bukan sekadar “teman berbayar”, melainkan sebuah layanan sosial dengan pendekatan yang lebih personal.