Negara-negara Barat Sekutu AS Akui Palestina, Netanyahu Sewot!
Negara-negara Barat seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal secara berbondong-bondong mengakui negara Palestina. Pengakuan negara-negara barat sekutu sekutu Amerika Serikat (AS) itu terjadi menjelang Sidang Umum ke80 PBB di New York, Amerika Serikat (AS). Dengan pengakuan Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal, maka ada sekitar tiga perempat negara anggota PBB telah mengakui Palestina, dengan Irlandia, Spanyol, dan Norwegia telah meresmikan pengakuan tahun lalu. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu mengatakan dalam rapat kabinet mingguannya, mengatakan bahwa Israel akan menanggapi seruan untuk mendirikan negara Palestina, dan menyerukan perjuangan melawan langkah tersebut, yang menurutnya akan membahayakan keberadaan Israel. "Saya memiliki pesan yang jelas kepada para pemimpin yang mengakui negara Palestina setelah pembantaian mengerikan pada 7 Oktober — kalian memberikan hadiah besar kepada teror," kata perdana menteri dalam sebuah pernyataan video dilansir Times of Israel, Senin, 22 September 2025. "Itu tidak akan terjadi. Negara Palestina tidak akan didirikan di sebelah barat Sungai Yordan," lanjutnya Netanyahu membanggakan bahwa di bawah kepemimpinannya, Israel “menggandakan permukiman Yahudi di Yudea dan Samaria — dan kami akan melanjutkan langkah ini.” "Tanggapan terhadap upaya baru-baru ini untuk memaksakan negara teroris kepada kami, di jantung tanah kami akan diberikan setelah saya kembali dari Amerika Serikat," kata Netanyahu. "Tunggu," Netanyahu dijadwalkan terbang ke New York pada Rabu malam, dan kemudian ke Washington untuk bertemu Presiden AS Donald Trump Minggu depan. Ia diperkirakan akan kembali ke Israel Rabu depan. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan pengakuan negara Palestina oleh negara-negara Persemakmuran "tidak hanya memberi penghargaan atas pembantaian terbesar orang Yahudi sejak Holocaust oleh organisasi teror yang menyerukan dan bertindak untuk pemusnahan Israel, tetapi juga memperkuat dukungan yang dinikmati Hamas," kata Kementerian Luar Negeri. "Israel tidak akan menerima teks yang terpisah dan imajiner yang mencoba memaksanya untuk menerima perbatasan yang tidak dapat dipertahankan," Menteri Luar Negeri Gideon Sa'ar menuduh bahwa negara-negara tersebut "mengambil langkah yang tidak hanya keliru, tetapi juga keterlaluan dan tidak bermoral." Sementara itu, Presiden Otoritas Palestina Mahmoud Abbas memuji langkah tersebut, dengan mengatakan bahwa itu adalah "sebuah langkah penting dan perlu untuk mencapai perdamaian yang adil dan abadi sesuai dengan legitimasi internasional."