Ngaku Mantan Koruptor, Angelina Sondakh Kesindir Nonton Film Tentang Korupsi
Mantan anggota DPR, Angelina Sondakh, hadir sebagai bintang tamu dalam acara perilisan trailer film Jembatan Shiratal Mustaqim di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, baru-baru ini. Secara mengejutkan, perempuan yang akrab disapa Angie ini mengaku tersentil dan tersindir oleh pesan moral yang film horor spiritual tersebut sampaikan.
Angie, yang pernah terjerat kasus korupsi, secara terbuka membagikan pandangannya. Menurutnya, film ini punya makna mendalam, terutama bagi mereka yang pernah berkecimpung dalam dunia korupsi. Scroll untuk tahu cerita lengkapnya, yuk!
"Yang pasti sih, ini film akan luar biasa karena saya ada di sini sebagai mantan koruptor ya mungkin. Ya yang pernah mengalami dan sangat dekat dengan kegiatan serta aktivitas yang dilakukan untuk korupsi," kata Angelina kepada awak media.
Meskipun sudah menjalani hukuman 10 tahun penjara, Angelina merasakan kesedihan mendalam karena praktik korupsi di Indonesia justru makin meluas. Ia mengungkapkan bahwa hukuman yang ia terima seharusnya memberikan efek jera, namun realitanya jauh dari harapan.
"Putusan saya 12 tahun penjara salah satunya untuk memberikan efek jera. Tapi ada sedikit kesedihan karena ternyata korupsi bukan makin sedikit, tapi malah makin banyak, masif, dan spread-nya itu luar biasa," ungkapnya.
Istri mendiang Adjie Massaid ini juga melihat masyarakat kini semakin permisif terhadap korupsi. Ironisnya, tindakan ini seolah tertutupi oleh gaya hidup glamor para pelaku. Ia berharap film Jembatan Shiratal Mustaqim mampu menjadi pengingat bagi publik.
"Mungkin ketutup sama hedon, dengan gaya hidup, dan lupa bahwa nantinya akan ada Shiratal Mustaqim," tuturnya.
Film Jembatan Shiratal Mustaqim merupakan film horor spiritual garapan sutradara Bounty Umbara yang diproduksi oleh Dee Company. Film ini menghadirkan jajaran aktor ternama seperti Raihan Khan, Imelda Therinne, Agus Kuncoro, dan Mike Lucock.
Catat tanggalnya, film ini dijadwalkan tayang di bioskop mulai 9 Oktober 2025. Akankah film ini benar-benar bisa membuka mata publik tentang bahaya korupsi?