Bos Microsoft Diprotes gara-gara Minta Karyawan Ngantor 3 Kali Seminggu
CEO Microsoft Satya Nadella menuai protes dari karyawannya. Protes ini muncul setelah manajemen raksasa teknologi itu meminta karyawannya untuk kembali bekerja di kantor, minimal 3 hari dalam sepekan.
Kebijakan itu resmi diumumkan Microsoft melalui sebuah memo yang dibagikan ke karyawan pada 9 September 2025 lalu. Menurut memo itu, karyawan Microsoft diminta ngantor tiga hari dalam setiap pekan.
"Kami telah mengamati cara kerja terbaik tim kami dan datanya jelas. Ketika orang-orang lebih sering bekerja sama secara langsung, mereka lebih produktif," kata Amy Coleman, Executive Vice President dan Chief People Officer Microsoft dalam memo itu.
"Dengan mempertimbangkan itu, kami memperbarui ekspektasi kerja fleksibel kami menjadi tiga hari seminggu di kantor," lanjut Coleman.
Meski secara tertulis adalah tiga kali sepekan, sejumlah divisi Microsoft juga memiliki kemungkinan kerja di kantor lebih dari itu.
Adapun kebijakan itu akan diterapkan Microsoft dalam tiga tahap. Tahap pertama dimulai dari karyawan di wilayah Puget Sound pada akhir Februari 2026 mendatang. Selanjutnya diperluas ke lokasi lain di AS hingga kantor internasional Microsoft yang ada di luar AS.
"Jika Anda tinggal dalam radius 80 kilometer dari kampus Microsoft (di Redmond), Anda diharapkan bekerja di kantor tiga hari seminggu pada akhir Februari 2026," jelas Coleman.
Sejumlah posisi seperti account management, consulting hingga bagian pemasaran di lapangan, diberikan dispensasi. Sebab, karyawan pada posisi ini memerlukan fleksibilitas untuk bertemu dengan klien atau mitra.
Karyawan yang tidak memiliki rekan satu tim, stakeholder (pemangku kepentingan), atau mereka yang harus menempuh perjalanan rumit juga bisa mengajukan dispensasi, dihimpun KompasTekno dari The Verge, Minggu (21/9/2025).
Kebijakan itu tidak begitu saja disambut positif oleh semua karyawan Microsoft. Sebagian dari mereka justru memprotes kebijakan hybrid alias kombinasi WFH (kerja dari rumah) dan WFO (kerja di kantor).
Mereka menilai perusahaan kurang berempati terhadap karyawan.
Apalagi, Microsoft melakukan pemangkasan karyawan berkali-kali, termasuk 9.000 karyawan pada Juli 2025 lalu.
Di sisi lain, sebagian karyawan, seperti yang ada di Seattle, AS dan sekitarnya sudah 2-4 kali seminggu berkantor.
Adapun kritik soal kebijakan hybrid itu, disampaikan oleh salah satu karyawan Microsoft dalam rapat internal yang digelar daring pada Kamis (11/9/2025).
Bos Microsoft, Satya Nadella.
Menanggapi protes tersebut, CEO Microsoft Satya Nadella berkata bahwa pihaknya menghargai tanggapan karyawan terkait kebijakan baru perusahaan.
"Saya menganggapnya sebagai umpan balik bagi saya dan semua orang di kepemimpinan Microsoft, karena pada akhirnya kami dapat melakukan yang lebih baik dan kami akan melakukannya lebih baik lagi," kata Nadella dikutip KompasTekno dari laporan CNBC yang mendapat rekaman rapat tersebut.
Bos Microsoft ini juga memaparkan pandangannya tentang bekerja di kantor dalam rapat tersebut.
Menurutnya, bekerja dari jarak jauh (remote) membuat karyawan baru dan yang masih di awal karir, tidak selalu mendapat kesempatan belajar langsung dari senior maupun bimbingan karier yang memadai.
"Manajemen sebagian besar dilakukan dari jarak jauh, tetapi para pekerja magang semuanya hadir di satu lokasi. Hal ini merusak kontrak sosial," jelas Nadella.
Mengacu pada keterangan Nadella itu, kritik dari karyawan tampaknya tidak mengubah keputusan yang sudah ditetapkan Microsoft.
Perusahaan teknologi ini akan tetap menjalankan kebijakan ngantor tiga kali seminggu seperti yang sudah diumumkan ke karyawan.
Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.