Air Mata Pendamping Nathan Tjoe-A-On dan Perjalanan Impian dari Manado ke SUGBK

Manado, timnas Indonesia, Air Mata Pendamping Nathan Tjoe-A-On dan Perjalanan Impian dari Manado ke SUGBK

Perhatian publik tertuju kepada seorang anak kecil yang berdiri mendampingi pemain timnas Indonesia di tengah gemuruh Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) sebelum laga FIFA Matchday Juni 2026 Indonesia vs Oman, Jumat (5/6/2026) malam. 

Saat lagu Indonesia Raya berkumandang, kamera televisi menyorot wajahnya cukup lama.

Ia tampak menangis haru sambil menyanyikan lagu kebangsaan. Momen singkat itu langsung mencuri perhatian dan menyentuh hati banyak penonton.

Anak tersebut adalah Syailendra Ahmad Budiyanto, bocah asal Manado yang akhirnya mewujudkan impian yang telah ia perjuangkan sejak 2024 lalu.

“Alhamdulilah. Iya terharu dipanggil mendampingi pemain timnas Indonesia. Apalagi di GBK yang luar biasa. Terharu suka sekali,” ujar bocah yang biasa disapa Nyo nyo itu kepada Kompas.com.

Bagi banyak orang, menjadi pendamping pemain timnas Indonesia mungkin hanya berlangsung beberapa menit sebelum pertandingan dimulai.

Baginya, momen itu adalah hasil dari penantian panjang dan usaha tidak pernah berhenti.

Di balik kisah haru tersebut, tersimpan perjuangan yang tidak sederhana.

Akhir Penantian Panjang

Sang ibu, Nurintan Afriliana, mengungkapkan bahwa putranya sudah berkali-kali mengikuti seleksi pendamping pemain timnas Indonesia sejak dua tahun terakhir.

“Ikut seleksi-seleksi pendamping dari tahun 2024 setiap ada pengumuman selalu ikut dan bikin video. Nah tahun ini tahun terakhirnya karena usia pendamping pemain itu maksimal 10 tahun. Alhamdulilah dipanggil, kami sekeluarga tidak nyangka,” tuturnya.

Sayangnya kebahagiaan itu juga diiringi tantangan besar. Ketika panggilan datang, keluarga harus mengambil keputusan tidak mudah.

Ayah Syailendra sedang berada di Pasuruan mendampingi tim Liga 4 dalam ajang Piala Presiden 2026. Sementara sang kakak sedang menjalani kegiatan akhir sekolah.

“Memang harus berangkat ke Jakarta sendiri, Saya tidak bisa nganter tiketnya juga mahal sekali ya,” kata ibu yang biasa disapa Meme itu.

“Saya bilang ke anak saya 'Nyo nyo mau ikut ini?' kan ada keterangan bersedia datang ke Jakarta dan kalau mau berangkat sendiri. Dia kan yang sudah pengen banget jadi bilang mau dan naik pesawat sendiri,” imbuhnya.

Perjalanan itu menjadi pengalaman yang tidak akan pernah ia lupakan.

Ia pun mengatakan hanya bisa menemani di ruang tunggu dan mengantarkan sampai atas pesawat untuk mengejar impian anak ketiganya itu.

“Awalnya dia bilang rasanya biasa saja tapi waktu masuk pesawat rasanya kaya gimana gitu. Sudah mau nangis dan kangen saya lagi,” ujar Nurintan Afriliana.

Tangis yang Tersorot Kamera Nasional

Setelah menempuh perjalanan dari Manado ke Jakarta, Syailendra tiba pada Rabu (3/6/2026) malam karena paginya masih ada ujian.

Selang sehari ia pun menginjakkan kakinya di lapangan bergandengan dengan pemain timnas Nathan Tjoe-A-On dan turut menyangikan lagu Indonesia Raya. 

Perasaan yang selama ini dipendam pecah begitu saja, tangisan tersebut bukan karena sedih. Air mata itu lahir dari rasa bangga, haru, dan kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Manado, timnas Indonesia, Air Mata Pendamping Nathan Tjoe-A-On dan Perjalanan Impian dari Manado ke SUGBK

Syailendra Ahmad Budiyanto dan kawan-kawan foto bersama temannya sesama pendamping pemain timnas Indonesia sebelum laga FIFA Matchday melawan Oman yang berakhir dengan skor 3-0 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat (5/6/2026) malam.

“Jadi dia bilang ke saya nangis terharu terharu. Memang lembut hatinya, jadi gampang tersentuh,” kata ibu berusia 41 tahun itu.

“Baru kali ini Alhamdulilah langsung masuk ke lapangan, menginjak rumput di GbK, dampingi pemain timnas dan masuk TV di sorot lama karena nangis."

"Saya sambil nonton bilang ‘nyo nyo menangis’. Saya masih speechless,” sambungnya.

Ketika Timnas Membuka Jalan untuk Anak Daerah, Kisah Syailendra Jadi Inspirasi dari Manado

Kecintaan Syailendra Ahmad Budiyanto terhadap sepak bola sudah tumbuh sejak usia dini.

Sejak berumur enam tahun, ia sudah aktif mengikuti Sekolah Sepak Bola (SSB). Tidak heran jika setiap ada kesempatan yang berkaitan dengan timnas Indonesia, ia selalu antusias untuk ikut.

“Kami sangat mendukung, karena tiap hari liat dan main bola termasuk nonton timnas ya jadi memang anaknya juga pengen terus ‘nyo nyo pengen ke GBK pengen ke GBK’ gitu,” ujar Nurintan Afriliana.

“Jadi ada pengumuman pendampingan Garuda langsung bikin video dan daftar. Ya pokoknya ada bola bola bola ikut terus begitu.”

“Kami selalu bilang pokoknya usaha terus karena yang menentukan pasti rejeki-rejeki2an dari Allah. Pokoknya nyo nyo harus latihan terus dampai di notice sama timnas gitu,” imbuhnya.

Selama ini, impian datang ke GBK terasa sangat jauh bagi keluarga yang tinggal di Mapanget Perumahan GPI itu.

“Sebelumnya belum pernah ke GBK dan baru ini, ya sebelum-belumnya dia sempat pengen minta nonton sama ayahnya. tapi kan kita jauh ya bayangin Manado ke GBK, ya terkendala semuanya ya,” ujarnya lagi

Kini siapa sangka, kunjungan pertamanya ke stadion kebanggaan Indonesia justru terjadi dengan cara sangat istimewa, berjalan di rumput SUGBK dan mendampingi pemain timnas Indonesia.

Kesempatan untuk Anak-Anak dari Seluruh Indonesia

Bagi Nurintan Afriliana, pengalaman putranya yang sedang menempuh kelas 4 SDIT Harapan Bunda Manado itu juga membuktikan bahwa kesempatan menjadi pendamping pemain timnas Indonesia tidak hanya terbuka untuk anak-anak di Jakarta atau kota besar lainnya.

Meskipun ia mengaku sempat memiliki keraguan sebelum pengumuman hasil seleksi keluar.

“Kemarin sempat suudzon ya pasti di pilihin anak-anak artis karena kan ada anak lesti dan desta,” kata pemilik usaha mco (massage cedera olahraga) bersama suami.

“Tapi saat diumumkan merasa ini benar-benar seleksi satu-satu ada dari Pekanbaru, kediri dll,” sambungnya.

Sehingga keterlibatan anak-anak daerah sangat penting untuk menumbuhkan semangatnya dalam menjalani sepak bola sejak dini.

“Tentunya anak-anak daerah ini dapat kesempatan di notice sama timnas karena biar tambah semangatnya anak-anak main bola. Sekarang kan dari daerah masih sedikit ya, satu dari Manado,” pungkas Nurintan Afriliana.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang