Top 8+ Fakta Temuan KNKT KA Argo Bromo Anggrek vs KRL, Mulai dari KA Tiba Lebih Cepat 3 Menit sampai Masalah Komunikasi

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, 1. KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit, 2. Sinyal Tetap Hijau Meski Ada Hambatan di Jalur, 3. Masinis Sudah Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer, 4. Masinis Hanya Diinstruksikan “Rem Dikit-dikit”, 5. Jeda Dua Kecelakaan Hanya 3 Menit 43 Detik, 6. Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu, 7. KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda, 8. KNKT Sebut Ada Masalah Kompleks dan Kondisi Tidak Aman
Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam rapat bersama Komisi V DPR RI

 Tragedi tabrakan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di emplasemen Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada 27 April 2026 mulai menemukan titik terang. Dalam rapat bersama Komisi V DPR RI, pada Kamis 21 Mei 2026, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan sejumlah fakta awal yang mengungkap adanya persoalan serius.

Tamuan dari KNKT mulai dari kereta yang disebut melaju lebih cepat dari jadwal, sinyal yang tetap hijau meski jalur tidak aman, hingga masalah komunikasi antarpusat kendali kereta. Kecelakaan yang menewaskan 16 orang itu menjadi sorotan karena bukan dipicu satu kesalahan tunggal, melainkan rangkaian masalah sistem yang terjadi dalam waktu kurang dari empat menit.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kecelakaan maut tabrakan Kereta Rel Listrik atau KRL Commuter Line dengan Argo Bromo Anggrek.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menegaskan pihaknya masih melakukan pendalaman dan belum menyimpulkan penyebab utama kecelakaan. Meski begitu, data faktual yang dipaparkan hanya menggambarkan betapa kompleksnya situasi yang terjadi malam itu.

Berikut 8 fakta temuan KNKT terkait kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur:

1. KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit

KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit, 1. KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit, 2. Sinyal Tetap Hijau Meski Ada Hambatan di Jalur, 3. Masinis Sudah Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer, 4. Masinis Hanya Diinstruksikan “Rem Dikit-dikit”, 5. Jeda Dua Kecelakaan Hanya 3 Menit 43 Detik, 6. Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu, 7. KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda, 8. KNKT Sebut Ada Masalah Kompleks dan Kondisi Tidak Aman

KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit

Ketua KNKT menyebut, kedatangan KA Argo Bromo Anggrek yang disebut tidak sesuai Grafik Perjalanan Kereta Api (Gapeka). Ketua KNKT Soerjanto Tjahjanto mengatakan bahwa KA Argo Bromo Anggrek melintas lebih cepat tiga menit dibanding jadwal yang telah ditentukan.

“Ini Gapeka yang kami tampilkan bahwa KA Bromo Anggrek lebih cepat 3 menit dari waktu kedatangan di stasiun Bekasi Timur,” kata Soerjanto dikutip YouTube TVR Parlemen.

Pernyataan itu langsung mendapat perhatian Ketua Komisi V DPR RI Lasarus yang mempertanyakan apakah berarti kereta tersebut tidak mematuhi Gapeka.

“Tidak patuh dengan GAPEKA berarti pergerakan kereta ini?” tanya Lasarus.

Namun KNKT belum memberikan kesimpulan pasti.

“Kami akan analisa lebih lanjut,” jawab Soerjanto.

2. Sinyal Tetap Hijau Meski Ada Hambatan di Jalur

Fakta lain yang menjadi sorotan adalah sinyal keberangkatan KA Argo Bromo Anggrek yang tetap menunjukkan warna hijau meskipun sebelumnya telah terjadi tabrakan antara KRL dan taksi listrik di perlintasan sebidang dekat Bekasi Timur.

Menurut KNKT, pada pukul 20.50 WIB KA Argo Bromo Anggrek bergerak di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar beraspek hijau.

“KA Bromo Anggrek berjalan langsung di jalur 3 Stasiun Bekasi dengan sinyal keluar J12 ber-aspek hijau atau berwarna hijau,” kata Soerjanto.

Ketua Komisi V DPR RI Lasarus pun mempertanyakan kondisi tersebut karena seharusnya jalur sudah dianggap tidak aman.

“Harusnya merah kan Pak ya? karena di depan ada obstacle,” tanya Lasarus.

Namun KNKT kembali menegaskan bahwa pihaknya belum menyampaikan analisis penyebab.

“Nanti kami jelaskan berikutnya. Pada presentasi saat ini kami hanya menyajikan data faktual, tidak terdapat analisis dan tidak ada kesimpulan terhadap penyebab terjadinya kecelakaan,” ujar Soerjanto.

3. Masinis Sudah Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer

KNKT juga mengungkap bahwa masinis KA Argo Bromo Anggrek sebenarnya telah melakukan pengereman cukup jauh sebelum lokasi tabrakan.

“Tapi sebetulnya masinis, saya ingin menceritakan masinis (KA Argo Bromo) itu sudah mulai ngerem di 1,3 kilometer sebelum lokasi tabrakan,” kata Soerjanto.

Pernyataan itu sempat membuat Ketua Komisi V DPR RI Lasarus terkejut.

“Sebentar pak, ini 1,3 kilo sudah ngerem?” tanya Lasarus.

“Sudah,” jawab Soerjanto.

Artinya, upaya mengurangi laju kereta sebenarnya sudah dilakukan sebelum benturan terjadi. Namun pengereman itu ternyata tidak maksimal.

4. Masinis Hanya Diinstruksikan “Rem Dikit-dikit”

KNKT mengungkap alasan mengapa masinis tidak melakukan pengereman penuh meski sudah mengetahui adanya insiden di jalur. Menurut Soerjanto, masinis menerima instruksi dari Pusat Kendali (PK) agar hanya melakukan pengereman perlahan sambil terus membunyikan klakson atau semboyan 35.

“Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum karena informasi yang diterima dari PK Timur rem dikit-dikit dan sambil bunyikan klakson,” kata Soerjanto.

Ia menjelaskan masinis mendapat informasi telah terjadi temperan antara kereta dengan taksi listrik di JPL 85.

“Tapi karena dia taunya dikomunikasi di dari pusat kendali, ada temperan di JPL 85, kamu berjalan direm dikit-dikit dan banyak-banyak semboyan 35, artinya banyak-banyak klakson Pak. Jadi masinis tidak melakukan pengereman maksimum,” tutur dia.

Padahal menurut KNKT, jika pengereman maksimum dilakukan, kereta kemungkinan bisa berhenti sebelum lokasi benturan.

“Kalau dia melakukan pengereman secara maksimal, itu kira-kira kurang lebih antara 900 sampai 1.000 meter Pak,” ujar Soerjanto.

5. Jeda Dua Kecelakaan Hanya 3 Menit 43 Detik

KNKT menyebut rentang waktu antara kecelakaan taksi listrik dengan tabrakan KA Argo Bromo Anggrek sangat singkat.

“Jadi, memang cukup singkat antara tabrakan 5181 dengan tabrakan Argo Bromo 3 menit 43 detik Pak,” kata Soerjanto.

Data KNKT mencatat tabrakan pertama antara KRL dan taksi listrik terjadi pukul 20.48.29 WIB. Sementara benturan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL terjadi pukul 20.52.12 WIB. Dalam waktu yang sangat sempit itu, situasi di lokasi berubah kacau. Kerumunan warga muncul di sekitar jalur usai kecelakaan pertama terjadi.

KNKT menyebut KRL 5568A bahkan sempat bergerak pendek sejauh 1,69 meter sebelum akhirnya berhenti karena masinis melihat kerumunan di jalur.

“KA 5568 setelah naik turun penumpang berjalan 1,69 meter, jadi cuma pendek saja, dan berhenti karena masinis melihat kerumunan masyarakat di jalur hulu,” ungkapnya.

6. Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu

Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu, 1. KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit, 2. Sinyal Tetap Hijau Meski Ada Hambatan di Jalur, 3. Masinis Sudah Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer, 4. Masinis Hanya Diinstruksikan “Rem Dikit-dikit”, 5. Jeda Dua Kecelakaan Hanya 3 Menit 43 Detik, 6. Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu, 7. KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda, 8. KNKT Sebut Ada Masalah Kompleks dan Kondisi Tidak Aman

Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu

Fakta berikutnya memperlihatkan adanya persoalan desain sistem pengaturan perjalanan kereta di area Bekasi. Menurut KNKT, petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di Stasiun Bekasi ternyata hanya bertanggung jawab sampai titik 14T atau sebelum Stasiun Bekasi Timur.

“Jadi di Stasiun Bekasi Timur, ketika petugas PPKA di Stasiun Bekasi, melangsungkan KA Bromo Anggrek, Stasiun Bekasi hanya membuat jalur tanggungjawabnya sampai 14T (Sebelum Bekasi Timur),” kata Soerjanto.

Akibatnya, sistem tetap memberikan sinyal hijau meskipun terdapat KRL di jalur Bekasi Timur.

“Itu adalah yang ada di meja Pelayanan, sedangkan ada kereta di 104BT itu tetap memberikan aspek warna hijau di stasiun Bekasi, jadi Kereta Bromo Anggrek akan berjalan langsung sesuai aspek sinyal berwarna hijau di Bekasi,” lanjutnya.

KNKT mengaku masih mendalami mengapa desain sistem dibuat seperti itu.

7. KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda

KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda, 1. KA Argo Bromo Anggrek Disebut Tiba Lebih Cepat 3 Menit, 2. Sinyal Tetap Hijau Meski Ada Hambatan di Jalur, 3. Masinis Sudah Mengerem dari Jarak 1,3 Kilometer, 4. Masinis Hanya Diinstruksikan “Rem Dikit-dikit”, 5. Jeda Dua Kecelakaan Hanya 3 Menit 43 Detik, 6. Sistem Sinyal Stasiun Bekasi Ternyata Hanya Bertanggung Jawab Sampai Titik Tertentu, 7. KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda, 8. KNKT Sebut Ada Masalah Kompleks dan Kondisi Tidak Aman

KNKT Sebut Pusat Kendali KA Argo Bromo dan KRL Berbeda

KNKT juga menemukan adanya persoalan komunikasi antarpusat kendali yang dinilai ikut memperlambat respons penanganan. Menurut Soerjanto, KRL dan KA Argo Bromo Anggrek berada di bawah pengendalian pusat komunikasi berbeda.

“Memang ketika diberikan komunikasi dari PK Timur, itu ada jeda karena pertama dari Commuter Line yang melaporkan terjadi tabrakan itu, itu PK Selatan, sementara yang Argo Bromo Anggrek ini ada di PK Timur, itu 2 pengendali yang berbeda, ini ada jeda waktu juga, jadi di sini salah satu yang harus diperbaiki,” beber Soerjanto.

Ketua KNKT membeberkan radio komunikasi yang digunakan masing-masing kereta berbeda jenis.

Saat terjadi kecelakaan, radio yang digunakan masing-masing sarana KA sebagai berikut:

  • KA CL 5181 menggunakan Radio Tait dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan)
  • KA CL 5568A menggunakan Radio Sepura dan berada pada wilayah komunikasi S.27 (PK Selatan)
  • KA 4B Argo Bromo Anggrek menggunakan Radio Lok dan berada pada wilayah komunikasi S.1 (PK Timur)

Ia menjelaskan alur komunikasi harus melewati beberapa tahapan sebelum informasi diteruskan ke masinis.

“PK Selatan harus memberi tahu kepada chief, chief memberi tahu kepada PK Timur untuk mengontak masinisnya, itu yang perlu perbaikan,” sarannya.

8. KNKT Sebut Ada Masalah Kompleks dan Kondisi Tidak Aman

Di akhir paparannya, KNKT menilai kecelakaan ini bukan disebabkan satu faktor tunggal. Ada banyak kondisi yang saling berkaitan dan menciptakan situasi berbahaya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

“Ini yang juga perlu ada perbaikan ya, jadi salah satu penyebabnya selain ada masalah sinyal di Bekasi yang tidak bisa mendeteksi adanya 5568 (KRL) di Bekasi timur, itu juga ada 1 kondisi yang unsafe di kondisi itu, selain itu ada kondisi distraksi dari sekitarnya pasar dan perumahan di lokasi sinyal tersebut, yang ketiga masalah komunikasi itu,” kata Soerjanto.

Menurut Ketua KNKT, tragedi ini kemungkinan melibatkan kombinasi persoalan sistem persinyalan, prosedur komunikasi, desain operasional, hingga faktor lingkungan di sekitar rel. KNKT sendiri menegaskan investigasi masih terus berjalan dan hasil final penyebab kecelakaan akan diumumkan setelah seluruh analisis selesai dilakukan.