Gara-gara Subsidi, Mobil Listrik Toyota Langsung Diborong Warga
Namun sorotan terbesar datang dari Toyota. Produsen otomotif terbesar Jepang itu mencatat lonjakan penjualan mobil listrik hingga 3.300 persen secara tahunan.
Pada kuartal pertama 2025, Toyota hanya menjual sekitar 212 unit mobil listrik. Kini angkanya melonjak menjadi lebih dari 7.000 unit hanya dalam tiga bulan pertama 2026.
Sebaliknya, BYD yang sebelumnya cukup agresif di Jepang justru mulai tertahan. Penjualannya hanya tumbuh sekitar 16 persen dengan total sekitar 5.100 unit.
Pemicunya ternyata berasal dari kebijakan pemerintah Jepang yang mulai memperbesar subsidi kendaraan listrik sejak Januari 2026.
Dalam aturan terbaru, subsidi pembelian EV di Jepang bisa mencapai 1,3 juta yen atau sekitar Rp143 jutaan. Toyota menjadi salah satu merek yang paling diuntungkan karena model bZ4X memenuhi syarat mendapatkan subsidi maksimal tersebut.
Dengan bantuan itu, harga Toyota bZ4X turun drastis hingga berada di kisaran 3,5 juta yen atau sekitar Rp385 jutaan setelah dipotong insentif pemerintah.
Sementara itu, mobil listrik BYD hanya mendapat subsidi sekitar 350 ribu sampai 450 ribu yen. Artinya terdapat selisih insentif hampir 950 ribu yen atau lebih dari Rp100 juta dibanding Toyota.
Perbedaan subsidi tersebut langsung berdampak pada minat konsumen Jepang. Banyak pembeli mulai beralih ke produk lokal karena harga menjadi jauh lebih kompetitif.
Bukan cuma Toyota yang menikmati keuntungan. Tesla juga ikut mengalami kenaikan penjualan hingga 140 persen setelah insentif untuk mobil listriknya meningkat.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa perang mobil listrik global kini bukan hanya soal teknologi atau harga produk. Campur tangan pemerintah menjadi faktor penting dalam menentukan siapa yang unggul di pasar domestik.