Film Ghost in the Cell Tembus 1 Juta Penonton hingga Dibeli 86 Negara untuk Bioskop Luar

Film Ghost in the Cell
Film Ghost in the Cell

 Industri perfilman Indonesia kembali mencatatkan pencapaian membanggakan. Film terbaru karya Joko Anwar berjudul Ghost in the Cell sukses menembus angka satu juta penonton hanya dalam waktu enam hari sejak penayangan perdananya di bioskop Tanah Air.

Capaian ini memperlihatkan tingginya antusiasme publik terhadap film produksi Come and See Pictures tersebut, terutama di momen pasca-Lebaran yang kerap menjadi periode strategis bagi industri hiburan. Respons positif ini sekaligus mempertegas posisi Ghost in the Cell sebagai salah satu film paling dinanti tahun ini. Scroll lebih lanjut yuk!

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Keberhasilan tersebut juga mengukir rekor baru bagi Joko Anwar. Ia menjadi satu-satunya sutradara Indonesia yang mampu membawa tujuh film berturut-turut meraih lebih dari satu juta penonton di bioskop. Sebelumnya, sederet karya suksesnya seperti Pengabdi Setan, Gundala, hingga Siksa Kubur telah lebih dulu mencatatkan prestasi serupa.

Tak hanya berjaya di dalam negeri, Ghost in the Cell juga mencetak tonggak penting di pasar internasional. Film ini dilaporkan telah dibeli oleh 86 negara untuk penayangan di bioskop luar negeri—sebuah angka yang menegaskan daya tarik global sinema Indonesia, khususnya karya Joko Anwar.

"Misi kami ketika membuat film ini adalah supaya setidaknya selama 1 jam 46 menit kita, para Warga Negara Indonesia (WNI) bisa merasa menang. Tidak menyangka akan disambut dengan begitu hangat. Perasaan kita sama. Mudah-mudahan keadilan bisa datang, dan tidak harus menunggu hantu turun tangan,” ujar penulis dan sutradara Joko Anwar, dikutip Kamis 23 April 2026.

Secara reputasi internasional, Joko Anwar juga dikenal sebagai sineas Indonesia yang konsisten menembus festival film kelas dunia. Namanya tercatat pernah masuk seleksi resmi Sundance Film Festival, Berlinale, Venice Film Festival, serta Toronto International Film Festival melalui karya-karya berbeda, termasuk Ghost in the Cell yang melakukan premiere internasional di Berlinale 2026.

Dari sisi cerita, film ini mengangkat latar kehidupan keras di dalam penjara fiktif Labuhan Angsana. Para narapidana digambarkan harus menghadapi penindasan aparat serta konflik antar sesama tahanan. 

Situasi berubah mencekam ketika seorang napi baru datang dan kematian misterius mulai terjadi satu per satu. Teror tersebut dikaitkan dengan sosok hantu yang memburu individu dengan aura paling negatif.

Dalam kondisi penuh tekanan, para penghuni penjara berusaha bertahan hidup dengan cara yang tidak biasa: berlomba-lomba menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, upaya tersebut tidak mudah dilakukan di lingkungan yang sarat ketidakadilan. Hingga akhirnya mereka menyadari bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan bersatu, melawan penindasan, bahkan menghadapi ancaman supranatural.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Film ini turut dibintangi sejumlah aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Rio Dewanto, hingga Morgan Oey. Kolaborasi produksi dilakukan bersama RAPI Films dan Legacy Pictures, sementara distribusi internasional ditangani oleh Barunson E&A.

Dengan capaian domestik dan internasional tersebut, Ghost in the Cell tidak hanya menjadi sukses komersial, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia dalam peta perfilman global.