Filsuf Kenamaan Jerman Jurgen Habermas Tutup Usia
Filsuf dan sosiolog Jerman berpengaruh, Jurgen Habermas, meninggal dunia pada usia 96 tahun, menurut keterangan penerbitnya. Habermas wafat pada Sabtu, 14 Maret 2026, di Starnberg, dekat Munich, sebagaimana diumumkan oleh penerbitnya, Suhrkamp Verlag.
Habermas dikenal sebagai salah satu tokoh intelektual paling penting dalam sejarah Jerman pascaperang. Pemikir yang banyak menulis tentang teori sosial, demokrasi, dan supremasi hukum ini terkenal dengan gagasannya mengenai pembentukan konsensus politik melalui komunikasi publik.
Selama karier akademik yang berlangsung lebih dari tujuh dekade, Habermas dipandang sebagai salah satu filsuf paling berpengaruh abad ke-20. Pemikirannya juga memberi kontribusi besar terhadap wacana integrasi Eropa dan pembentukan Uni Eropa.
Pengaruhnya melampaui batas politik. Kanselir Jerman, Friedrich Merz dari Uni Demokrat Kristen, menyebut Habermas sebagai "salah satu pemikir paling signifikan di zaman kita".
"Ketajaman analitisnya membentuk wacana demokrasi jauh melampaui batas negara kita dan berfungsi sebagai mercusuar di tengah badai," kata Merz dalam sebuah pernyataan. "Suaranya akan dirindukan."
Habermas meyakini bahwa pembentukan opini publik merupakan fondasi penting bagi kelangsungan demokrasi. Keyakinan itu membuatnya tetap aktif menulis buku dan artikel hingga usia lanjut.
Dalam wawancara dengan The Guardian pada 2015, ia pernah mengkritik Kanselir Jerman saat itu, Angela Merkel, karena dinilai "mempertaruhkan|" reputasi Jerman pascaperang melalui sikap keras pemerintahnya selama krisis utang Yunani.
Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, beberapa pandangannya memicu perdebatan di kalangan intelektual muda. Pada 2022, ia mengkritik Menteri Luar Negeri Jerman dari Partai Hijau saat itu, Annalena Baerbock, atas pernyataannya yang dinilai terlalu keras terhadap perang Rusia di Ukraina.
Pernyataannya bahwa perang Israel di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober "pada prinsipnya dibenarkan" juga menuai kritik dari sejumlah filsuf yang mengikuti tradisi "teori kritis" Sekolah Frankfurt.
Karya terbarunya, Things Needed to Get Better, terbit pada Desember tahun lalu. Dalam buku tersebut, Habermas menegaskan bahwa ia menolak "membiarkan sikap pesimis mengambil kata terakhir" dan percaya krisis masa kini masih dapat dihadapi serta diatasi.
Habermas lahir pada 18 Juni 1929 di Düsseldorf dari keluarga borjuis. Ia menjalani dua operasi sejak bayi untuk mengatasi langit-langit mulut sumbing yang menyebabkan gangguan bicara. Kondisi itu kemudian sering disebut memengaruhi minat intelektualnya terhadap teori komunikasi.
Ia pernah mengatakan pengalaman tersebut membuatnya memahami pentingnya bahasa sebagai "lapisan kesamaan yang tanpanya kita sebagai individu tidak dapat eksis".
Habermas dibesarkan dalam keluarga Protestan. Ayahnya bergabung dengan partai Nazi pada 1933, meskipun menurut Habermas hanya sebagai "simpatisan pasif". Seperti banyak anak laki-laki Jerman pada masa itu, ia juga pernah bergabung dengan organisasi Pemuda Hitler pada usia 10 tahun. Menjelang akhir Perang Dunia II, ketika berusia 15 tahun, ia berhasil menghindari wajib militer dengan bersembunyi dari polisi militer.
Habermas kemudian mengatakan pengalaman hidup di bawah rezim Nazi membentuk minatnya terhadap filsafat dan teori sosial. Ia mengingat momen ketika menyadari bahwa dirinya hidup dalam "sebuah sistem kriminal politik".
Ia menempuh pendidikan di Universitas Bonn, tempat ia juga bertemu dengan istrinya, Ute Habermas‑Wesselhoeft. Pada 1950-an, ia mulai dikenal sebagai jurnalis dan akademisi serta menjadi bagian dari generasi kedua pemikir Sekolah Frankfurt, mengikuti tokoh-tokoh seperti Theodor Adorno dan Max Horkheimer.
Pada 1980-an, Habermas juga menjadi figur penting dalam perdebatan intelektual yang dikenal sebagai Historikerstreit, atau "perselisihan para sejarawan". Dalam debat tersebut, sejumlah sejarawan konservatif seperti Ernst Nolte berargumen bahwa kekejaman Nazi bukanlah fenomena yang unik.
Habermas menentang pandangan tersebut dan menilai upaya perbandingan itu berisiko meremehkan besarnya kejahatan Nazi. Ia menekankan pentingnya konsep Vergangenheitsbewältigung—yakni upaya berdamai dengan masa lalu—sebagai inti identitas Jerman modern.
Istrinya, Ute Habermas-Wesselhoeft, meninggal dunia tahun lalu. Pasangan ini memiliki tiga anak, yakni Tilmann, Judith, dan Rebekka, yang wafat pada 2023.