Kisah The Ning King yang Tutup Usia, dari Penjual Tekstil Jadi Konglomerat Properti Raksasa Alam Sutera

Pendiri Alam Sutera The Ning King, Awal Perjalanan: Dari Tekstil ke Industri Besar, Ekspansi Besar ke Berbagai Sektor, Melahirkan Alam Sutera, Kota Mandiri Pertama di Serpong, Tangerang, Kekayaan dan Warisan Bisnis, Sosok Visioner yang Jarang Tersorot
Pendiri Alam Sutera The Ning King

 Dunia bisnis Indonesia berduka atas berpulangnya The Ning King, pendiri Alam Sutera Group, salah satu pengembang properti terbesar di Tanah Air. Sosok yang dikenal sebagai konglomerat visioner ini meninggal dunia pada usia 78 tahun, meninggalkan warisan besar di bidang properti dan industri tekstil.

Kabar duka ini dikonfirmasi langsung oleh manajemen Alam Sutera Group melalui akun Instagram resmi perusahaan. Dalam unggahan tersebut, keluarga besar perusahaan menyampaikan belasungkawa mendalam serta doa agar keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan.

“Segenap keluarga besar Alam Sutera Group menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kiranya damai dan terang Kasih Kristus senantiasa menyertai dan memberi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan,” tulis pernyataan resmi perusahaan.

Kisah The Ning King yang Tutup Usia

Awal Perjalanan: Dari Tekstil ke Industri Besar

Lahir di Bandung pada 20 April 1931, The Ning King tumbuh di masa awal kemerdekaan, ketika ekonomi nasional masih terbatas. Namun di tengah keterbatasan itu, ia justru melihat peluang besar di industri tekstil yang saat itu mulai berkembang.

Pada usia 18 tahun, tepatnya pada 1949, ia mulai meniti karier bisnisnya dengan mendirikan Argo Manunggal Group (AMG). Awalnya, bisnis ini berfokus pada perdagangan tekstil dan meneruskan usaha keluarga, PT Daya Manunggal Textile Mfg (Damatex).

Seiring waktu, usaha kecil itu berkembang menjadi pabrik tekstil modern. Tahun 1977 menjadi tonggak penting ketika The Ning King mendirikan PT Argo Pantes Tbk, pabrik tekstil pertamanya di Salatiga, Jawa Tengah. Perusahaan ini memproduksi tekstil terpadu mulai dari pemintalan, penenunan, pewarnaan, hingga pencetakan, dan mengekspor produknya ke lebih dari 40 negara.

Ekspansi Besar ke Berbagai Sektor

Kesuksesan di industri tekstil menjadi pijakan bagi The Ning King untuk merambah berbagai sektor lain. Pada 1961, ia memperluas bisnisnya ke bidang peternakan unggas melalui PT Peternakan Ayam Manggis Group di Sukabumi.

Kemudian pada 1970, ia mendirikan PT Fumira, produsen baja galvanis yang menjadi bagian penting dalam ekspansi Argo Manunggal Group ke industri logam dan konstruksi.

Bisnisnya terus melebar. Grup yang ia bangun kini memiliki lebih dari 30 pabrik dan 22.000 karyawan di seluruh Indonesia, dengan penjualan tahunan mencapai lebih dari USD 1,2 miliar. Sekitar separuh dari produksinya diekspor ke berbagai negara.

Argo Manunggal Group kini menaungi beragam lini bisnis, antara lain tekstil, baja, logistik, properti, agribisnis, energi, hingga asuransi. Beberapa perusahaan yang berada di bawah benderanya antara lain PT Argo Pantes Tbk (ARGO), PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa), Cakrasteel, Pralon, dan Fumira.

Melahirkan Alam Sutera, Kota Mandiri Pertama di Serpong, Tangerang

Awal 1990-an menjadi babak baru dalam karier bisnis The Ning King. Melalui PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) yang berdiri pada 1993, ia membawa Argo Manunggal Group masuk ke dunia properti.

Dari hamparan lahan kosong di kawasan Serpong, Tangerang, The Ning King membangun proyek besar yang kini dikenal luas sebagai Alam Sutera, kota mandiri pertama di kawasan tersebut. Pembangunan dimulai pada 1994, dan hanya dalam dua minggu, proyek perdananya mencatat rekor penjualan lebih dari 1.100 unit rumah.

Di bawah kepemimpinannya, Alam Sutera berkembang menjadi kawasan modern dengan lebih dari 37 klaster perumahan, pusat bisnis, kampus modern, pusat kuliner seperti The Flavor Bliss, serta mal ikonik Mall Alam Sutera.

Visinya tak berhenti pada hunian semata. Ia ingin menghadirkan kawasan yang menyatukan kehidupan, bisnis, dan hiburan dalam satu ruang berkelanjutan. Pendekatan inilah yang membuat Alam Sutera menjadi model bagi pengembangan kawasan terpadu di berbagai kota Indonesia.

Kekayaan dan Warisan Bisnis

Menurut Forbes 2017, The Ning King sempat masuk daftar 50 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai USD 450 juta atau sekitar Rp6 triliun (kurs Rp14.000). Kekayaan itu didukung oleh ekspansi bisnis Argo Manunggal Group di lebih dari 100 kota di seluruh Indonesia.

Selain Alam Sutera, ia juga mendirikan PT Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BeFa) pada 1989, yang mengembangkan kawasan industri modern di Bekasi dan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2012.

Meskipun memiliki kerajaan bisnis besar, The Ning King dikenal sebagai sosok rendah hati dan jarang tampil di publik. Rekan-rekan bisnis menggambarkannya sebagai pemimpin yang disiplin, berhitung tajam, dan lebih memilih bekerja dalam diam dengan strategi matang.

Gaya kepemimpinannya yang tenang dan penuh perhitungan membuat perusahaan-perusahaan di bawah AMG mampu bertahan melewati berbagai krisis ekonomi, termasuk pada masa krisis 1998 dan pandemi COVID-19.

Sosok Visioner yang Jarang Tersorot

The Ning King adalah contoh pengusaha yang membangun kekayaan dari bawah tanpa banyak sorotan publik. Ia lebih dikenal lewat karya dan hasil nyata dibandingkan pencitraan.

Jejaknya membentang dari industri tekstil, baja, hingga properti, menjadikan perjalanan panjang yang menunjukkan bahwa kerja keras dan visi jangka panjang bisa menciptakan warisan yang tak lekang oleh waktu.

Kini, warisan bisnis yang ia tinggalkan akan terus berlanjut di bawah generasi penerusnya. Dari pabrik tekstil sederhana di Bandung hingga kota mandiri modern di Serpong, nama The Ning King akan selalu melekat dalam sejarah perkembangan industri dan properti Indonesia.