Toyota Siapkan Jalur Khusus Buat Rakit Baterai Mobil
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menunjukkan komitmen mereka dalam mengembangkan kendaraan elektrifikasi. Salah satunya adalah dengan menyiapkan fasilitas untuk memproduksi baterai untuk EV dan hybrid.
Dengan demikian, bila pasar di Indonesia dinilai sudah besar, mereka bisa memproduksinya lebih cepat.
“Kami telah bekerjasama dengan pabrikan baterai dan sudah memiliki satu line khusus buat baterai hybrid. Nanti pada waktunya akan diumumkan,” ungkap Nandi Julyanto, Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) (26/01).
Fasilitas ini dioperasikan untuk memenuhi kebutuhan beberapa model seperti Toyota Kijang Innova Zenix, Yaris Cross dan Veloz Hybrid.

Meski sekarang masih digunakan untuk merakit baterai mobil hybrid, bukan tidak mungkin di masa depan jalur tersebut membuat baterai EV. Menurut Nandi, proses pembuatannya tak jauh berbeda.
“Karena baik baterai hybrid maupun EV itu hanya bicara jumlah sel saja. Sementara jenis dan BMS (Battery Management System) masih sama,” tambahnya kemudian.
Ia pun menambahkan bahwa pihaknya juga akan menyiapkan beberapa komponen lain agar bisa digunakan dibuat secara lokal. Termasuk motor listrik yang dipakai sebagai penggerak.
“Sejak tahun lalu kami sebenarnya sudah mempersiapkan semua termasuk dari supply chain. Sudah disampaikan rencana masa depannya seperti apa,” tambahnya kemudian.
Sebelumnya diberitakan bahwa Toyota Indonesia telah bekerjasama dengan CATL untuk memproduksi baterai kendaraan. Kolaborasi itu diklaim menjadi salah satu langkah awal Toyota meningkatkan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Lokalisasi baterai diyakini dapat membantu menekan harga Toyota bZ4X sehingga diharapkan bisa menjangkau semakin banyak konsumen.

Mereka dikabarkan bakal fokus pada produksi baterai bermaterial lithium-ion. Sebagai informasi, CATL merupakan produsen baterai terbesar, berada tepat di atas LG Energy Solution berkapasitas produksi baterai 57,1 GWh.
Di Indonesia, CATL akan menggaet PT Aneka Tambang atau Antam bersama PT Industri Baterai Indonesia dengan nilai proyek sekitar Rp 85 triliun.