Teknologi Digital Jadi Kunci
PT Energi Agro Nusantara (Enero) menegaskan posisinya sebagai pionir dalam mempercepat transisi energi nasional. Melalui produk berbahan baku molases (tetes tebu), anak usaha PTPN I (Persero), memproduksi bioetanol dengan spesifikasi fuel grade ethanol (FGE) sempurna alias 99,9 persen.
Spesifikasi ini menjadikan FGE yang diproduksi Enero melampaui FGE standar nasional yang ditoleransi pada kadar 99,2 persen.
“Kami siap menyambut era transisi energi nasional. Saat ini, produk bioetanol kami sudah sempurna sebagai bahan baku campuran BBM dengan kadar 99,9 persen sebagai fuel grade ethanol,” kata Puji Setiyawan, direktur Enero.
Ia mengatakan, keberhasilan ini berakar pada implementasi teknologi digital melalui sistem Distributed Control System (DCS) yang memastikan setiap tetes etanol diproduksi dengan presisi tinggi dan kualitas yang stabil.
Sistem ini merupakan teknik yang mengintegrasikan seluruh elemen dalam proses produksi dengan presisi tinggi dari bahan baku sampai produk yang dihasilkan.
Oleh karena itu, setiap kompartemen dalam sistem memiliki peran yang sangat krusial untuk menghasilkan produk paripurna.
“Untuk menghasilkan FGE dengan kadar semupurna, yakni 99,9 persen, semua kompartemen, tahapan, SOP, dan aspek-aspek elemen pendukung harus sangat presisi. Ada sedikit saja deviasi di satu kompartemen, maka hasilnya tidak akan sesuai dengan yang diinginkan. Di Enero, semua prasyarat itu kami pastikan terpenuhi,” tegasnya.
Fokus kepada hasil produksi terbaik tidak mengabaikan aspek kelestarian dan keberlanjutan. Puji Setiyawan menyebut Enero juga secara konsisten menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengolah limbah cair (spent waste) menjadi sumber energi baru.
Implementasi teknologi ramah lingkungan, Enero mendefinisikan ulang standar kualitas energi hijau di Tanah Air melalui integrasi industri yang harmonis dan berkelanjutan.
Secara teknis, SEVP Operation Enero, Tunjung Ari Wicaksono, memaparkan bahwa inovasi pengolahan limbah yang dilakukan.
Menggunakan teknik anaerobic treatment, Enero mampu menghasilkan biogas yang digunakan kembali sebagai bahan bakar boiler.
Langkah ini menciptakan efisiensi yang signifikan di tengah tantangan biaya produksi biofuel yang kompetitif.
"Inovasi ini menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus mesin efisiensi yang mampu menghemat biaya operasional perusahaan hingga Rp1 miliar per bulan," tutur dia.
Bagi Tunjung, efisiensi bukan sekadar angka, melainkan bentuk tanggung jawab moral untuk terus melakukan inovasi.
"Pengolahan limbah menjadi energi adalah langkah konkret bahwa industri besar dan kelestarian alam bisa berjalan dalam satu napas yang sama," paparnya.
Dengan kapasitas produksi efektif mencapai 30 ribu kilo liter per tahun (KLPY), ia optimis menatap masa depan biofuel nasional melalui ruang kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, termasuk produsen otomotif dan regulator.
Kapasitas produksi dapat dimaksimalkan sampai 33 ribu KLPY jika ketersediaan bahan baku tercukupi.
"Kapasitas terpasang pada instalasi pabrik kami tercatat 30 ribu KLPY dengan toleransi kenaikan sampai 33 ribu KLPY. Kalau kemudian pemerintah memberikan mandatori untuk memasok FGE dalam rangka konversi BBM, secara teknis kami siap meningkatkan kapasitas produksi," ungkap Tunjung.