Menikah Tanpa Anak Jadi Tren, Fenomena DINK Menguat
Perubahan pola hidup dan prioritas generasi muda semakin memengaruhi struktur keluarga di berbagai negara. Pernikahan tidak lagi selalu identik dengan memiliki anak, terutama di kalangan pasangan urban berpendidikan.
Di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup yang meningkat, dan tuntutan karier, sebagian pasangan memilih jalan hidup yang berbeda dari norma tradisional.
Fenomena tersebut dikenal dengan istilah DINK, singkatan dari Dual Income No Kids atau pasangan dengan dua penghasilan tanpa anak. Tren ini tidak hanya muncul di negara maju seperti Amerika Serikat, tetapi juga semakin terlihat di Asia, termasuk China, yang kini tengah menghadapi tantangan demografi serius akibat menurunnya angka kelahiran.
Di Amerika Serikat, tren DINK menunjukkan peningkatan dalam satu dekade terakhir. Berdasarkan analisis data federal oleh Pew Research Center, sebanyak 12 persen pasangan menikah dengan setidaknya satu pasangan berusia 30 hingga 40-an tahun tergolong DINK.
Angka ini naik dibandingkan 2013, ketika hanya 8 persen pasangan menikah di kelompok usia yang sama masuk kategori tersebut. Pew Research juga mencatat bahwa proporsi pasangan dengan dua penghasilan yang memiliki anak ikut meningkat tipis sejak 2013.
Sebaliknya, porsi pasangan dengan satu penghasilan dan memiliki anak justru turun signifikan, dari 34 persen menjadi 27 persen. Data ini mencerminkan perubahan struktur keluarga dan meningkatnya peran dua pencari nafkah, sekaligus menunjukkan bahwa keputusan untuk memiliki anak semakin selektif.
ilustrasi perencanaan finansial dengan pasangan
Sementara itu, di China, fenomena DINK muncul bersamaan dengan krisis demografi yang semakin nyata. Satu dekade setelah pemerintah menghapus kebijakan satu anak dan menerapkan kebijakan dua anak pada Januari 2016, populasi China justru terus menyusut selama tiga tahun berturut-turut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksi populasi China dapat turun drastis dari sekitar 1,4 miliar saat ini menjadi 633 juta pada tahun 2100. Pada 2024, jumlah kelahiran hanya mencapai 9,54 juta, sekitar setengah dari jumlah kelahiran pada 2016.
Kekhawatiran terhadap populasi yang menua dan menyusut pun kian meningkat, seiring makin banyak pasangan yang memilih menentang norma tradisional. Anak-anak muda yang menyebut dirinya dan pasangannya sebagai DINK, memilih untuk tidak memiliki anak atau menundanya.
Alasan mereka beragam, mulai dari tingginya biaya membesarkan anak hingga pertimbangan karier. Istilah DINK sebelumnya viral di media sosial China, termasuk Xiaohongshu, dengan tagar terkait yang telah ditonton lebih dari 731 juta kali.
Seiringan dengan itu, pemerintah China telah meluncurkan berbagai insentif pronatalis setelah mengakhiri kebijakan satu anak yang berlangsung lebih dari tiga dekade. Para pemimpin tertinggi menjanjikan lebih banyak dukungan pengasuhan anak, termasuk subsidi hingga sekitar US$500 per tahun atau setara Rp8,35 juta untuk setiap anak di bawah usia tiga tahun.
Selain itu, Beijing juga memberlakukan pajak pertambahan nilai atas kondom dan alat kontrasepsi lainnya sejak Januari. Namun, para ahli menilai upaya tersebut belum cukup efektif untuk membalikkan tren penurunan angka kelahiran.
“Jumlah orang yang memilih untuk tidak menikah atau tidak memiliki anak terus meningkat, dan niat fertilitas generasi muda tergolong lemah,” kata He Yafu, demografer independen China, sebagaimana dikutip dari Hongkong FP, Kamis, 15 Januari 2026.
Menurut Pan Wang, dosen Universitas New South Wales Australia, kebijakan satu anak telah membentuk norma keluarga dan gaya hidup masyarakat. “Banyak orang, terutama generasi anak tunggal, terbiasa dan bahkan lebih menyukai keluarga kecil,” ujarnya.
Biaya hidup yang meningkat dan ketidakpastian ekonomi juga terus menjadi penghalang utama untuk memiliki anak. Lebih lanjut, Wang Zibo, warga Beijing berusia 29 tahun, mengaku ia dan istrinya memilih menunggu hingga “ekonomi stabil” sebelum memiliki anak, meski kondisi keuangan mereka tergolong baik.
“Melihat kondisi China saat ini, alasan utama pasangan muda belum punya anak tetap karena ekonomi yang agak lemah,” katanya.
Jam kerja panjang dengan budaya “996” atau bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari seminggu turut memperburuk situasi. “Orang-orang terlalu sibuk dengan pekerjaan… bagi sebagian orang, bahkan sulit meluangkan waktu untuk memikirkan membangun keluarga,” ujar Wang.
Ia menambahkan bahwa memiliki anak berarti kehilangan waktu, uang, bahkan jati diri. “Bukan hanya tidak punya waktu dan menghabiskan seluruh uang untuk anak, tetapi kamu juga kehilangan dirimu sendiri dalam prosesnya,” katanya, mengutip pengalaman seorang teman.
Jika tingkat fertilitas China yang berada di kisaran 1,0 terus bertahan dalam jangka panjang, He Yafu memperingatkan dampaknya akan serius. “Ini akan meningkatkan beban perawatan lansia, melemahkan kekuatan nasional China, dan menyeret pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.