China vs Jepang, Perang Logam Tanah Jarang

Rare Earth.
Rare Earth.

China melarang ekspor barang-barang yang ditujukan untuk keperluan sipil dan militer Jepang, termasuk beberapa logam tanah jarang (rare Earth).

Wall Street Journal melaporkan bahwa Beijing juga telah mulai membatasi ekspor logam tanah jarang ke negara Matahari Terbit secara lebih luas.

Jepang sudah tidak asing dengan kemarahan China terkait rare Earth. Pada 2010, China menahan ekspor setelah insiden di dekat pulau-pulau yang disengketakan di Laut China Timur.

Sejak saat itu, Jepang langsung mengurangi ketergantungannya pada China dari 90 persen menjadi 60 persen dengan berinvestasi dalam proyek-proyek luar negeri seperti kerja sama perusahaan perdagangan Sojitz dengan Lynas Rare Earths dari Australia, dan mempromosikan proses daur ulang dan manufaktur logam tanah jarang.

Meskipun Jepang telah berupaya untuk mendiversifikasi pasokan logam tanah jarang sejak China terakhir kali membatasi ekspor mineral tersebut pada 2010, sekitar 60 persen impornya masih berasal dari China.

Pembatasan ekspor logam tanah jarang dari China selama tiga bulan, seperti yang terjadi pada 2010, dapat merugikan bisnis Jepang sebesar 660 miliar Yen (US$4,21 miliar) dan mengurangi 0,11 persen dari produk domestik bruto tahunan, kata Ekonom Nomura Research Institute, Takahide Kiuchi, seperti dikutip dari situs Reuters, Senin, 12 Januari 2026.

Larangan selama setahun akan mengurangi PDB Jepang sebesar 0,43 persen. Sejauh ini, data Bea dan Cukai China belum menunjukkan tanda-tanda penurunan ekspor logam tanah jarang ke Jepang, meskipun data tersebut dirilis dengan sedikit keterlambatan.

Pada November 2025, bulan terakhir yang datanya tersedia, ekspor tumbuh 35 persen menjadi 305 metrik ton, angka tertinggi tahun lalu. Baru-baru ini, sebuah kapal pertambangan Jepang berangkat menuju atol karang terpencil untuk menyelidiki lumpur yang kaya akan unsur logam tanah jarang.

Misi selama satu bulan yang dilakukan oleh kapal uji Chikyu di dekat Pulau Minamitori, sekitar 1.900 km di tenggara Tokyo, akan menandai upaya pertama di dunia untuk secara terus menerus mengangkat lumpur dasar laut yang mengandung unsur tanah jarang dari kedalaman 6 km ke atas kapal.

Jepang, seperti sekutu-sekutu Baratnya, telah mengurangi ketergantungannya pada China untuk mineral-mineral yang vital bagi produksi mobil, ponsel pintar (smartphone), dan peralatan militer, sebuah upaya yang menjadi semakin mendesak di tengah perselisihan diplomatik besar dengan Beijing.

"Jika proyek ini berhasil, hal ini akan sangat penting dalam mendiversifikasi pengadaan sumber daya logam tanah jarang di Jepang," kata Shoichi Ishii, kepala proyek yang didukung pemerintah, menambahkan jika pemulihan mineral utama dari kedalaman 6 km di bawah permukaan laut akan menjadi pencapaian teknologi yang besar.

Kapal tersebut, dengan 130 awak dan peneliti, dijadwalkan kembali ke pelabuhan pada 14 Februari 2026. Proyek Pulau Minamitori, yang telah diinvestasikan pemerintah sebesar 40 miliar Yen (US$250 juta) sejak 2018, juga merupakan investasi jangka panjang.

Cadangan yang diperkirakan belum diungkapkan dan belum ada target produksi yang ditetapkan. Namun, jika berhasil, uji coba penambangan skala penuh akan dilakukan pada Februari 2027.