Mengenal Spasmodic Dysphonia, Gangguan Pita Suara yang Dialami Nadin Amizah
Belakangan ini, istilah spasmodic dysphonia menjadi perhatian publik setelah penyanyi Nadin Amizah mengungkap perubahan pada kualitas suaranya. Melalui media sosial, Nadin membagikan pengalaman pribadi terkait gangguan pada pita suara yang ia alami, sekaligus membuka diskusi lebih luas mengenai kondisi medis yang masih jarang dikenal masyarakat.
Spasmodic dysphonia bukan sekadar kelelahan vokal atau gangguan teknik bernyanyi. Kondisi ini merupakan gangguan saraf yang memengaruhi cara kerja pita suara, sehingga suara seseorang dapat terdengar terputus, tegang, serak, atau justru terlalu lemah saat berbicara. Scroll untuk info lebih lengkapnya...
Apa Itu Spasmodic Dysphonia?
Melansir dari Cleveland Clinic, spasmodic dysphonia, atau disebut juga laryngeal dystonia, adalah gangguan suara yang terjadi akibat kejang otot pada laring atau pita suara. Kejang ini muncul secara tidak terkendali dan memengaruhi getaran pita suara saat seseorang berbicara.
Kondisi ini tergolong langka dan diperkirakan dialami oleh sekitar 500.000 orang di Amerika Serikat.
Dalam kondisi normal, pita suara akan bergetar secara seimbang untuk menghasilkan suara. Pada penderita spasmodic dysphonia, sinyal saraf yang mengatur gerakan otot pita suara terganggu, sehingga menyebabkan suara terdengar tidak stabil.
Spasmodic dysphonia terbagi menjadi tiga jenis utama. Adductor spasmodic dysphonia merupakan jenis yang paling umum, ditandai dengan suara terdengar tegang, berat, dan serak karena pita suara menutup terlalu rapat. Abductor spasmodic dysphonia menyebabkan suara terdengar lemah dan berangin karena pita suara terlalu terbuka. Sementara itu, mixed spasmodic dysphonia merupakan kombinasi dari keduanya dan tergolong jarang terjadi.
Pada beberapa kasus, gangguan ini juga disertai tremor vokal yang membuat suara terdengar bergetar atau tidak stabil.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Gejala spasmodic dysphonia umumnya muncul secara bertahap dan sering kali datang dan pergi. Suara penderita dapat terdengar terputus-putus, tegang, serak, lemah, atau bergetar. Kondisi ini biasanya memburuk saat penderitanya mengalami stres, berbicara di depan umum, atau berada di lingkungan bising.
Menariknya, gangguan ini lebih sering memengaruhi suara percakapan dibandingkan aktivitas lain seperti bernyanyi, tertawa, atau berbisik.
Penyebab dan Faktor Risiko
Spasmodic dysphonia berasal dari gangguan pada basal ganglia, bagian otak yang berperan mengatur gerakan otot tidak sadar. Gangguan ini termasuk dalam kelompok dystonia, yakni kondisi yang menyebabkan kontraksi otot tidak terkendali akibat kesalahan sinyal saraf.
Penyebab pastinya belum diketahui. Namun, faktor genetik, riwayat keluarga dengan dystonia, serta cedera atau penyakit tertentu diduga dapat meningkatkan risiko. Kondisi ini juga dilaporkan tiga kali lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Diagnosis spasmodic dysphonia biasanya melibatkan dokter spesialis THT dan terapis wicara. Pemeriksaan dilakukan dengan mendengarkan pola bicara pasien serta menggunakan metode videostroboskopi untuk melihat pergerakan pita suara. Dalam beberapa kasus, pemeriksaan oleh ahli saraf juga diperlukan.
Hingga kini, spasmodic dysphonia belum dapat disembuhkan. Namun, gejalanya dapat dikelola melalui berbagai terapi, seperti suntikan botox untuk mengurangi kejang otot, terapi suara, penggunaan alat bantu komunikasi, hingga tindakan operasi pada kasus tertentu.